21, October, 2021

Baiknya, Salat Idul Adha di Rumah

JAKARTA – Masyarakat yang berada di zona merah penyebaran COVID-19 diimbau untuk Salat Idul Adha di rumah saja. Sedangkan di zona yang sudah terkendali boleh melakukannya di masjid atau lapangan namun tetap dengan penerapan protokol kesehatan.

Sekretaris Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Asrorun Niam Sholeh mengatakan umat Islam yang tinggal di daerah yang kasus COVID-19 masih terus meningkat, sebaiknya menunaikan salat Idul Adha 1441 H di rumah bersama keluarga.

“Demikian juga bagi umat Islam yang lanjut usia, sakit, dam memiliki sakit bawaan sebaiknya melakukan shalat Idul Adha di rumah saja bersama keluarga,” katanya dalam jumpa pers Satuan Tugas Penanganan COVID-19 di Jakarta, Selasa.

Untuk umat Islam yang tinggal di daerah dengan kasus COVID-19 yang sudah terkendali, bisa melakukan salat Idul Adha secara berjamaah di masjid, mushola, atau lapangan dengan tetap menjalankan protokol kesehatan.

Diingatkannya, untuk berwudhu sebaiknya dilakukan di rumah dan membawa perlengkapan sajadah sendiri.

“Yang juga harus dipastikan bila ingin salat Idul Adha berjamaah di luar rumah adalah kondisi kesehatan. Bila sakit atau memiliki penyakit bawaan, sebaiknya tetap shalat di rumah,” tuturnya.

Niam mengatakan salat Idul Adha merupakan ibadah sunah muakad, yaitu ibadah yang tidak diwajibkan tetapi memiliki keutamaan bila dikerjakan.

Dalam kondisi pandemi COVID-19 yang belum sepenuhnya terkendali, pelaksanaan salat Idul Adha harus tetap mempertimbangkan kondisi-kondisi faktual di masyarakat.

“Hindari kerumunan yang berpotensi bisa menjadi sarana penularan COVID-19, apalagi bila tidak disiplin memakai masker dan menjaga jarak,” katanya.

Senada diungkapkan Ketua Tanfidziyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Robikin Emhas. Dia mengatakan warga harus memperhatikan zonasi penularan COVID-19 saat pelaksanaan Salat Idul Adha dan penyembelihan hewan kurban.

“Di tempat, daerah atau wilayah yang secara faktual kategori zona hijau, maka Salat Idul Adha dilaksanakan di tempat lazimnya,” katanya.

Untuk kawasan zona hijau pelaksanaan itu dapat dilaksanakan di masjid, surau, gedung perkantoran atau tanah lapang. Namun, tetap harus mengenakan masker, jaga jarak dan tindakan lain sesuai protokol kesehatan.

Bagi jamaah yang sakit, memiliki penyakit bawaan atau usia uzur agar mengurangi kegiatannya di tempat ramai, seperti ikut serta dalam pelaksanaan Salat Idul Adha.

“Memilih menghindarkan diri dari potensi mafsadat, melaksanakan Salat Idul Adha di rumah akan lebih baik,” katanya.

Sementara Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI) Jusuf Kalla mengatakan protokol kesehatan menjadi salah satu syarat masjid dapat menyelenggarakan Salat Idul Adha.

“Protokol itu kita syaratkan agar masjid beroperasi di seluruh Indonesia,” katanya.

Dia mengatakan beberapa protokol standar mencegah penularan COVID-19 di masjid di antaranya menjaga jarak antarjamaah, jamaah membawa sajadah sendiri, karpet masjid digulung/tidak dipakai, jamaah mengenakan masker, setiap masjid memiliki tempat cuci tangan dan lain-lain.

Dikatakannya, syarat tersebut tidak hanya berlaku saat Salat Idul Adha saja, tetapi di kegiatan ibadah sehari-hari di masjid.

“Pelaksanaan Salat Idul Adha itu seperti salat Jumat protokolnya. Keadaan ramai atau tidak protokol agar dipenuhi. Jika diperlukan, shalat dapat dilakukan bergelombang dua kali daripada membludak, daripada protokol tidak jalan,” kata mantan Wakil Presiden Indonesia ini.

Dia mengatakan takmir masjid juga harus memperhatikan jamaahnya. Jika terdapat jamaah tidak sehat agar disarankan tak beraktivitas di masjid atau ada di tengah keramaian.

“Kita instruksikan pengurus masjid kalau melihat ada jamaah sakit jangan ke masjid. Jamaah kalau sakit agar dibantu ke rumah sakit karena masjid tidak bisa menyembuhkan, apalagi kekuatan COVID-19 ini menularnya luar biasa sehingga dengan tindakan perlu jamaah terbebas dari penularan,” ujar Ketua Umum Palang Merah Indonesia ini.(gw/fin)

Rekomendasi Berita Terbaru

Populer