spot_img
29, September, 2021

12 Perusahaan Ditunggu Itikad Baiknya

JAKARTA – Fraud atau kecurangan di PT Asuransi Jiwasraya PT AJS ternyata sudah tercium sejak 2018. Tim audit sudah menemukan beberapa kecurangan.

Kecurangan yang terjadi di tubuh PT AJS tersebut terungkap dalam sidang di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat, Rabu (8/7). Pada sidang yang dimulai pukul 09.00 WIB, beberapa saksi dihadirkan, salah satunya Fadian Dwiantara, mantan tim audit internal Jiwasraya.

Dalam kesaksiannya, Fadian mengatakan kecurangan di PT AJS sudah terdeteksi sejak 2018. Diketahui saat audit internal periode 2014 sampai 2018 yang dilaporkan pada 2019.

Menurutnya, PT AJS melakukan investasi besar pada saham-saham yang memiliki kinerja keuangan yang kurang bagus seperti PT Pool Advista Indonesia Tbk (POOL), PT Semen Baturaja (Persero) Tbk (SMBR), PT Alfa Energi Investama Tbk (FIRE), dan PT SMR Utama (SMRU). Bahkan juga di perusahaan yang merugi seperti PT Inti Agri Resources Tbk (IIKP).

“Berdasarkan pemeriksaan, kami melihat adanya pembelian saham di pasar sekunder di 2018 atas saham SMRU tidak sesuai dengan pedoman investasi Jiwasraya,” kata orang yang kini menjabat kini di bagian divisi anti penipuan PT AJS, di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Rabu (8/7).

Hal itu dikatakan Fadian merespon pertanyaan jaksa soal adanya fraud di PT AJS.

“Iya ada fraud. Karena penempatan investasi yang tidak dilakukan secara hati-hati di saham-saham perusahaan yang tidak likuid,” terangnya.

Modus lain dari kecurangan yang menyebabkan kerugian adalah penempatan investasi PT AJS di instrumen reksa dana pendapatan tetap lebih dari 15 persen dari investasi Jiwasraya.

“Padahal, berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 53/PMK.010/2012 tentang Kesehatan Keuangan Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi, hanya diperbolehkan penempatan investasi maksimal hanya 15% saja,” ungkapnya.

Sementara mantan Kepala Divisi Investasi PT AJS Donny S Karyadi yang juga bersaksi menyatakan, di akhir jabatanya pada 2008, investasi saham PT AJS mulai terlihat merugi.

“Pada saat saya menjabat hingga awal 2008 itu tidak ada masalah dengan investasi, artinya hampir semua menguntungkan. Selanjutnya saya tidak tahu karena saya menjabat hanya sampai Juni 2008,” ucap Donny.

Namun, lanjut Donny, pada Triwulan I 2008 mulai terlihat penuruanan pada investasi saham.

“Investasi saham saat itu di awal 2008 terjadi penurunan, di situlah mulai ada rugi. Investasi yang lainya menguntungkan semua, yang merugi hanya di saham saja,” jelasnya.

Meski demikian, penurunan saham pada saat itu merupakan hal yang wajar, karena bersamaan dengan market indeks saham yang menurun.

“Tapi saham yang merugi di triwulan 1 memang secara market indeks turun, jadi memang pada saat itu semua turun. Ada 32 saham,” ungkapnya.

Sedangkan mantan Bagian Pengembangan Dana PT JS Lusiana mengaku, gagal bayar pada perusahaan asuransi Jiwasraya terjadi pada 2018. Saat itu, Direktur Utama PT AJS, Hexana Tri Sasongko.

“Iya (gagal bayar 2018), Direktur Utama Hexana Tri Sasongko,” katanya yang juga memberikan kesaksian.

Diungkapkan Lusiana menyampaikan, sejak 2018 PT AJS tidak mampu membayarkan kewajiban nasabah. Bahkan PT AJS mulai mengalami kerugian.

“Iya (mulai mengalami kerugian). Tidak mampu membayarkan kewajiban asuransi Jiwasraya,” ujarnya.

Lusiana pun menyebut, PT AJS selalu rajin menyetorkan laporan keuangan kepada pemegang saham dalam kurun waktu 2008-2017. Namun, tidak ada evaluasi dan perbaikan dari Kementerian BUMN maupun Kementerian Kuangan.

“Koreksi tidak ada, dan (perbaikan) setahu saya juga tidak ada,” beber Lusiana.

Untuk diketahui, mantan Menteri BUMN Rini Soemarno pernah bersurat kepada Kejaksaan Agung mengenai dugaan fraud ini dalam surat bernomor SR-789/MBU/10/2019. Ini kemudian ditindaklanjuti Kejagung.

Dari hasil penyidikan Kejagung disebutkan, Jiwasraya diduga melakukan penyalahgunaan investasi yang melibatkan 13 perusahaan manajer investasi yang melanggar tata kelola perusahaan yang baik yang menyebabkan kerugian negara senilai Rp 12,157 triliun.

Ke-13 perusahaan MI tersebut antara lain, PT Danawibawa Manajemen Investasi atau Pan Arkadia Capital, PT OSO Manajemen Investasi, PT Pinnacle Persada Investasi, PT Milenium Danatama, PT Prospera Aset Manajemen, PT MNC Aset Manajemen.

Selanjutnya, PT Maybank Aset Manajemen,PT GAP Capital, PT Jasa Capital Aset Manajemen, PT Pool Advista, PT Corina Capital, PT Trizervan Investama Indonesia dan PT Sinarmas Aset Manajemen.

Atas hal itu, Kejaksaan Agung meminta kepada 13 perusahaan tersebut untuk mengembalikan kerugian negara senilai Rp 12,157 triliun. dari 13 perusahaan tersebut baru PT Sinarmas Aset Manajemen yang telah mengembalikan Rp 700 miliar melalui Kejaksaan Agung.

Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung Hari Setiyono meminta agar 12 perusahaan manajer investasi (MI) lainnya yang menjadi tersangka korporasi seegra mengembalikan uang kerugian negara.

“Diharapkan pengembalian/penitipan uang ini dapat diikuti oleh MI lainnya sehingga apabila putusan pengadilan telah memiliki kekuatan hukum tetap, maka kerugian keuangan negara cq PT AJS yang ditimbulkan akibat adanya penyimpangan dalam transaksi reksa dana dapat dipulihkan dan hal ini dapat membantu PT AJS dalam membayar tunggakan premi kepada nasabah pemegang polis yang menjadi kewajiban PT. AJS,” katanya di Kejaksaan.

Ditambahkan Direktur Penyidikan Jaksa Agung Muda bidang Pidana Khusus, Febrie Adriansyah, uang hasil hitungan BPK berbeda dengan uang fee yang telah dikembalikan sejumlah MI.

“Hanya itu (Sinarmas) saja yang menyerahkan. Lainnya tidak ada, karena kan itu berbeda dengan uang fee di mana beberapa MI sudah mengembalikan,” ujar Febrie.

Febrie mengungkapkan, pihaknya masih menunggu itikad baik dari 12 perusahaan manajer investasi lainnya.

“Yang lainnya masih kita tunggu lah itikad baiknya,” ucap Febrie melanjutkan.

Di luar 13 tersangka dari korporasi ini, sidang Jiwasraya ini melibatkan enam tersangka yang berkasnya sudah lengkap. Mereka adalah Direktur Utama PT Hanson International Tbk (MYRX) Benny Tjokrosaputro, Komisaris Utama PT Trada Alam Mineral Tbk (TRAM) Heru Hidayat, Direktur Keuangan Jiwasraya periode Januari 2013-2018 Hary Prasetyo.

Kemudian Direktur Utama Jiwasraya periode 2008-2018 Hendrisman Rahim, mantan Kepala Divisi Investasi dan Keuangan Jiwasraya Syahmirwan serta Direktur PT Maxima Integra, Joko Hartono Tirto.(gw/fin)

Info grafis

13 Korporasi Perusahaan yang rugikan PT Asuransi Jiwasraya Rp 12,157 triliun

1. PT Dana Wibawa Management Investasi menyebabkan kerugian negara senilai Rp2.027.000.000.000

2. PT Oso Management Investasi menyebabkan kerugian negara senilai Rp521.100.000.000

3. PT Pinekel Persada Investasi menyebabkan kerugian negara senilai Rp1.815.000.000.000

4. PT Millenium Danatama menyebabkan kerugian negara senilai Rp676.000.000.000

5. PT Prospera Aset Management menyebabkan kerugian negara senilai Rp1.297.000.000.000

6. PT MNC Asset Management menyebabkan kerugian negara senilai Rp480.000.000.000

7. PT Maybank Aset Management menyebabkan kerugian negara senilai Rp515.000.000.000

8. PT GAP Capital menyebabkan kerugian negara senilai Rp448.000.000.000

9. PT Jasa Capital Asset Management menyebabkan kerugian negara senilai Rp226.000.000.0pp

10. PT Corvina Capital menyebabkan kerugian negara senilai Rp706.000.000.000

11. PT Teasure Fund Investama menyebabkan kerugian negara senilai Rp1.216.400.000.000

12. PT Sinarmas Asset Management menyebabkan kerugian negara senilai Rp77.000.000.000 (sudah dikembalikan ke Kejagung)

13. PT Pool Advista menyebabkan kerugian negara senilai RpRp2.142.500.000.000

Rekomendasi Berita Terbaru

Populer