Beranda Ekonomi UMKM Menengah Terimbas Penerapan PPN

UMKM Menengah Terimbas Penerapan PPN

- Advertisement -
- Advertisement -

MAKASSAR – Produk barang dan jasa dari marketplace atau e-commerse asing harganya bakal terkerek. Mulai 1 Agustus Dirjen Pajak akan memungut tarif PPN sebesar 10 persen.

Aturan perpajakan dari marketplace/e-commerse, itu termaktub dalam Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-12/PJ/2020. Aturan ini, mau tidak mau, akan berimbas pada UMKM pada level menengah.

Kepala Bidang P2 Humas Kanwil DJP Sulselbartra, Eko Pandoyo Wisnu Bawono, mengemukakan, pada prinsipnya PER-12/PJ/2020 ditargetkan terhadap produk barang/jasa yang berasal dari perusahaan di luar negeri yang melakukan perdagangan secara elektronik di Indonesia.

BACA JUGA: Rizal Ramli: Ada yang Masuk Gorong-gorong, Tapi Kebijakan Tidak Merakyat

“Jadi seperti Nerflix, Amzon, Ali Baba dan sebagainya. Sebelumnya tak ada PPN. Ke depan bakal diberlakukan tarif sebesar 10 persen,” sebutnya seperti dikutip dari Harian Fajar (Fajar Indonesia Network Grup), belum lama ini.

Meski demikian, kata Eko, kriteria juga tetap diatur. Sebagaimana regulasi, yakni batasan kriteria e-commerce yang bakal mematok PPN yakni memiliki nilai transaksi dengan pembeli melebihi Rp 600 juta per tahun, atau Rp 50 juta per bulan.

Selanjutnya, pengakses situs e-commerce lebih dari 12 ribu pengakses dalam satu tahun, atau seribu pengakses dalam satu bulan. “Mungkin akan lebih mahal jika beli produk/jasa dari e-commerse itu, tetapi 10 persen, saya pikir angkanya tidak terlalu signifikan,” nilainya.

Ketua Asosiasi IUMKM Akumandiri Sulsel, Bachtiar Baso, menyampaikan, pelaku UMKM saat ini, memang memanfaatkan marketplace domestik atau pun asing, sebagai wadah untuk memasarkan produknya secara digital. “Jika marketplace asing itu dikenai PPN 10 persen, itu artinya sudah pasti menahan laju jualan (ekspor),” bebernya.

Dari skala bisnis, Bachtiar menerangkan, UMKM yang pada level mikro itu belum sampai memasarkan produknya di e-commerse besutan dari luar negeri. Tetapi kebanyakan UMKM yang sudah skala bisnis menengah ke atas, itu menggunakan wadah tersebut untuk ekspansi pasar ke luar negeri.

“Jadi terimbas langsung UMKM yang sudah level menengah. Akan tetapi di sisi lain, itu juga bisa menekan laju produk impor untuk masuk karena lebih mahal harganya, usai kena PPN,” nilainya. (gsa/iad)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Terbaru

[300x250]