Beranda Internasional Penularan Corona Diduga Melalui Udara

Penularan Corona Diduga Melalui Udara

- Advertisement -
- Advertisement -

JAKARTA – Ratusan ilmuwan menyatakan, bahwa ada bukti virus Corona (Covid-19) dapat menyebar dalam partikel yang lebih kecil di udara yang dapat menginfeksi orang lain.

Seperti dikutip dari The New York Times, Senin (6/7/2020), sebanyak 239 ilmuwan dari 32 negara membeberkan bukti yang menunjukkan partikel lebih kecil dapat menginfeksi manusia.

Dengan temuan itu, mereka mendesak Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk merevisi rekomendasi soal penularan virus corona yang selama ini lebih menitikberatkan pada droplet atau percikan dari saluran pernapasan seseorang, seperti bersin dan batuk, yang menempel pada permukaan. Para peneliti berencana menerbitkan pemaparan mereka dalam jurnal ilmiah.

BACA JUGA: Tak Nongol, Sidang PK Joker Ditunda Lagi

Para ahli mengatakan, virus corona ditularkan melalui udara dan dapat menginfeksi orang yang menghirupnya. Mereka mengatakan, WHO terikat oleh pandangan yang kaku, lambat, dan tidak mau mengambil risiko dalam memperbarui panduan serta mengecilkan beberapa suara konservatif yang punya pendapat berbeda.

Pada awal April, sekelompok pakar terdiri dari 36 orang meneiti kualitas udara dan aerosol terkait penularan virus corona dan mendesak WHO untuk mempertimbangkan bukti yang berkembang tentang penularan melalui udara.

WHO memang menanggapi segera dan terjadi diskusi, para ahli dipimpin konsultan Lidia Morawska. Namun, diskusi tersebut didominasi beberapa ahli yang merupakan pendukung setia cuci tangan dan merasa cara itu tetap harus ditekankan. Saran komite pun tidak berubah.

Morawska dan para ahli merujuk beberapa insiden yang mengindikasikan penularan virus melalui udara, terutama di ruang tertutup yang berventilasi buruk.

Mereka mengatakan, WHO membuat perbedaan antara aerosol kecil dan percikan yang lebih besar, meskipun orang yang terinfeksi menghasilkan keduanya.

BACA JUGA: Awas, Darah Kurban Jadi Media Subur Virus Berkembang Biak

“Kami sudah tahu sejak 1946 bahwa batuk dan berbicara menghasilkan aerosol,” kata Linsey Marr, ahli penularan virus melalui udara di Virginia Tech.

Para ilmuwan memang belum dapat menumbuhkan virus corona di aerosol dalam penelitian di laboratorium, namun bukan berarti tidak infektif. Sebagian besar sampel yang diambil dalam percobaan berasal dari ruang rumah sakit dengan aliran udara baik.

Di sebagian besar bangunan, kata Marr, pertukaran udara biasanya jauh lebih rendah, sehingga memungkinkan virus menumpuk dan menimbulkan risiko infeksi lebih besar.

Ahli epidemologi Sekolah Kesehatan Masyarakat TH Chan, Harvard, Bill Honage punya pandangan lebih ekstrem soal penularan melalui udara.

“Kami memiliki anggapan bahwa transmisi melalui udara berarti percikan yang mengambang di udara yang dapat menginfeksi Anda berjam-jam kemudian, melayang di jalanan, melalui kotak surat dan menemukan jalan ke rumah di mana-mana,” kata Hanage.

Namun kebanyakan ahli berpandangan virus corona yang menular melalui udara tidak bepergian jauh melainkan dalam kontak yang berkepanjangan dan jarak dekat, terutama di dalam ruangan.

BACA JUGA: PPP Sebut Keterlibatan Ormas Islam Dalam Sertifikasi Halal Untungkan UMKM

Hasil temuan para ahli juga menyebutkan, bahwa virus yang melayang di udara, terutama di ruang tertutup dengan ventilasi buruk, sangat rentan menginfeksi manusia.

Untuk itu penggunaan masker di tempat tertutup tak kalah pentingnya serta harus memenuhi standar kesehatan, seperti N95. Kondisi ini bisa dialami para petugas kesehatan yang menangani pasien Covid-19 di rumah sakit atau fasilitas medis.

Sistem ventilasi di gedung sekolah, tempat tinggal, dan perkantoran perlu diperhatikan untuk meminimalisasi sirkulasi udara. Selain itu penggnaan lampu ultraviolet diperlukan untuk membunuh partikel virus yang mengambang di dalam percikan.

WHO selama ini berpendapat virus corona disebarkan terutama oleh percikan pernapasan yang menempel pada benda tertentu. Bahkan, dalam dokumen pembaruan yang dirilis pada 29 Juni, WHO menyatakan penularan virus melalui udara hanya mungkin terjadi setelah prosedur medis yang menghasilkan aerosol atau percikan lebih kecil dari 5 mikron.

Benedetta Allegranzi, pimpinan teknis WHO untuk pengendalian infeksi, mengatakan, bukti virus menyebar melalui udara tidak meyakinkan.

“Terutama dalam beberapa bulan terakhir, kami menyatakan beberapa kali bahwa transmisi melalui udara mungkin terjadi, tapi tentu saja tidak didukung oleh bukti yang kuat atau bahkan jelas,” katanya. (der/fin)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Terbaru

[300x250]