Sisa Anggaran Covid Alihkan ke DBD

DBD

CIHIDEUNG – Ketua Komisi IV DPRD Kota Tasikmalaya Dede Muharam meminta Pemkot tidak terlena dengan penanganan Covid-19. Meski telah memasuki Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB), serta wabah itu belum 100 persen lenyap di Kota Resik, penyakit menular lainnya pun perlu ditangani.

Menurutnya, tingginya kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) dan angka kematian yang tembus 16 orang, bukan perkara biasa. Melihat fenomena ini muncul jauh sejak awal tahun, sebelum Covid-19 masuk ke daerah.

“Kita memahami Gugus Tugas memang masih berjibaku menanggulangi corona dan dampaknya. Tapi, adanya wabah tahunan yang justru angkanya lebih mematikan ketimbang Covid-19 harus ditangani serius, bukan lagi tahap antisipasi,” kata Dede kepada Radar Tasikmalaya (Fajar Indonesia Network Grup), Minggu (28/6).

Dia menjelaskan adanya sisa anggaran Biaya Tak Terduga (BTT) apabila masih memungkinkan, bisa saja digunakan untuk mendorong penanggulangan DBD. Mengingat angka kasus yang mencapai ratusan korban. “Ini kan mencengangkan, nah kita dorong supaya tidak hilang fokus. DBD seharusnya bisa dikendalikan lebih baik karena ini terjadi periodik,” tuturnya.

Politisi PKS itu meminta organisasi perangkat daerah (OPD) yang bersinggungan dengan kebersihan lingkungan bisa bekerja optimal. Mulai penanganan sampah di masyarakat, kelancaran saluran drainase, serta sarana hiasan kota yang memungkinkan menjadi titik tumbuhnya jentik.

“Jadi bukan ke dinas kesehatan saja. Kaitan DBD itu universal karena berkenaan kesehatan yang dipengaruhi lingkungan. Terutama wastafel portable yang misalnya tidak ideal pembuangannya justru kan hasil kajian mahasiswa bisa berpotensi menjadi sarang nyamuk,” kata dia memaparkan.

“Termasuk sarana dan fasilitas publik di kota. Seperti air mancur misalnya, mohon dicek itu kondisi airnya dan dikuras secara rutin,” sambung Dede.

Dia menambahkan di level kebijakan kepala daerah pun, perlu ada good will serius. Sebab, penyakit yang disebabkan nyamuk seperti DBD dan cikungunya, bisa menimpa siapa saja. Ketika kondisi lingkungan kurang memungkinkan. “Artinya gerakan kembali program Jemantik, berdayakan kader-kader kesehatan wilayah dan prioritaskan anggarannya,” pinta dia.

Ketua DPRD Kota Tasikmalaya H Aslim SH menjelaskan peningkatan kasus DBD di Kota Tasikmalaya harus diwaspadai. Sebab, tidak kalah berbahaya dari Covid-19. “Sehingga jangan sampai terfokus pada corona, DBD seolah dikesampingkan,” kata Aslim.

Pencegahan supaya kasus tidak terus melonjak, lanjut Aslim, perlu dilakukan Pemkot. Seperti ketika semua stakeholder konsen mengantisipasi Covid-19. “Bedanya haya penyebarannya saja, untuk pencegahannya sama yakni Pola Hidup Sehat dan Bersih (PHBS),” tutur Politisi Gerindra tersebut.

Aslim menambahkan Pemkot harus mengoptimalkan sisa-sisa anggaran untuk penanganan DBD. Mengingat kondisi anggaran saat ini nyaris habis dialokasikan untuk pencegahan dan penanganan Covid-19. “Optimalkan sisa anggaran yang masih tersedia untuk DBD ini. Agar tidak menjadi KLB. Walaupun KLB sendiri kebijakan pemerintah. Yang terpenting saat ini yakni pencegahan dan penanganan agar tidak ada lagi yang meninggal karena DBD,” harap dia. (igi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here