JAKARTA – Kabar mengejutkan datang. Sejumlah editor senior surat kabar Vedomosti berhenti. Vedomosti merupakan koran berbasis bisnis. Cukup terkemuka Rusia. Tidak terbit sejak Senin (16/6).

Bukan persoalan finansial. Apalagi wabah Virus Corona (Covid-19) yang sedang melanda dunia. Koran dengan oplah 83 ribu itu tidak terbit, lantaran intrik di dalam. Ada ”orang baru”.

Koran dan berita online-nya pun berhenti. Karena tidak ada yang menjalankan. Langkah protes yang dilakukan para pekerjanya memang membuat imbas luar biasa. Rugi.

Apakah cuma sekadar orang baru? Tentu tidak.

Sikap idealisme koran itu tidak bisa lagi dilanjutkan. Upaya sensor dari orang baru dan intervensi pemilik makin kuat dan kerap tidak beralasan.

Dan sebenarnya, peristiwa ini terjadi sejak beberapa bulan lalu. Konsolidasi, membuka ruang dialog, sampai hal-hal yang tidak prinsif, telah dikemukakan. Sayang, jalannya buntu. Tak ada solusi.

Vedomosti salah satu surat kabar independen besar terakhir di Rusia. Di mana wartawan semakin diperas oleh pembatasan kebebasan pers dan mendapat dari Kremlin.

Para kritikus Kremlin menyebut, eksodus para editor itu sebuah tanda hadirnya lonceng kematian bagi Vedomosti di tengah keberadaannya saat ini.

”Kelima wakil editor di Vedomosti meninggalkan redaksi. Ini sebagai protes atas penunjukan Andrei Shmarov sebagai pemimpin redaksi,” sebut sumber dari surat kabar itu.

Boris Safronov, salah satu editor yang mengundurkan diri, kepada AFP mengatakan dirinya percaya “Vedomosti tidak akan ada lagi”. Munculnya statmen ini makin membuat publik penasaran ada apa. Apalagi koran ini koran tua, koran yang masih bertahan di tengah derasnya arus tekhnologi digital media.

Koran ini diluncurkan pada tahun 1999. Vedomosti didirikan dan dimiliki bersama oleh Independent Media milik pengusaha Belanda Derk Sauer, Financial Times yang berbasis di London, dan harian bisnis AS, The Wall Street Journal.

Seperti Financial Times, itu diterbitkan di atas kertas berwarna salmon.

Koran ini telah berpindah tangan beberapa kali sejak penerbitan pertamanya. Ketika anggota parlemen memperkenalkan undang-undang yang membatasi kepemilikan asing atas media Rusia.

Pada bulan Maret lalu, para reporter dan editornya terguncang oleh pengumuman dari pemilik saat itu Demyan Kudryavtsev bahwa ia berencana untuk menjual koran.

Lalu Shmarov (65) diangkat sebagai pemimpin redaksi pada bulan yang sama, sebelum penjualan perusahaan itu dirampungkan.

 

Tidak ada pilihan selain pergi

 

Surat kabar itu akhirnya dijual kepada kepala kantor berita regional yang kurang dikenal bernama FederalPress, Ivan Yeryomin.

Mayoritas wartawan Vedomosti mengecam Shmarov. Beberapa berita yang seharusnya disampaikan secara gamblang harus ditutup-tutupi, dengan alasan ini bersifat politis.

Wartawan mengeluh. Terlebih setelah dilarang meliput jajak pendapat Presiden Vladimir Putin. Mereka menuding Shmarov ikut campur dalam liputan raksasa minyak Rosneft, yang dijalankan oleh sekutu utama Putin, Igor Sechin.

Dalam sebuah surat terbuka yang diterbitkan oleh The Bell, sebuah situs berita independen berbahasa Rusia, kelima editor itu mengatakan mereka akan pergi setelah Shmarov dikonfirmasi sebagai pemimpin redaksi.

”Sebagai penjabat ketua redaksi, dia menjalankan ruang redaksi selama hampir tiga bulan dan mengelola periode itu untuk berulang kali melanggar norma dan pedoman editorial yang diadopsi di Vedomosti,” kata mereka.

“Kami tidak punya pilihan lain selain pergi,” timpalnya.

Salah seorang editor menyampaikan pendapatnya di depan pemimpin redaksi Shmarov. Para editor mengecam langkah Shmarov yang kerap mengganggu liputan para jurnalis mereka. Terakhir tentang Putin dan raksasa minyak Rosneft, yang dijalankan oleh sekutu utama Putin Igor Sechin. (Foto:Afp)

Pemilik baru mengatakan dia yakin koran itu akan mempertahankan standar profesional yang tinggi.

Sementara surat kabar harian berfokus pada berita bisnis dan industri, bagian editorialnya telah menjadi ruang vital bagi perbedaan pendapat dan perdebatan tentang kehidupan politik di Rusia.

Wartawannya berulang kali mengeluh kepada pemilik tentang Shmarov dan baru-baru ini mengajukan calon alternatif untuk memimpin surat kabar.

Vedomosti RIP

Meskipun hampir 70 anggota staf mendukung kolega lama mendukungya untuk menjadi pemimpin redaksi, tetapi para pemilik enggan mengadopsinya. Pemilik memilih melanjutkan kinerja Shmarov.

Sontak pilihan itu pun membuat panas. Para editor yang rata-rata bekerja lebih dari 15 tahun memilih hengkang.

Hengkangnya para editor itu diambil, setelah investigasi yang dilakukan pada bulan Mei oleh para awak redaksi Vedomosti dilarang untuk diterbitkan.

Padahal, kesimpulan dari investigasi itu sangat mengejutkan. Publik akan dipertontonkan dengan kesimpulan yang menyasar pada kondsii Rosneft sebenarnya.

Rosneft terindikasi menyimpan hutang kepada Kudryavtsev bank raksasa minyak itu.

Sejumlah Kritikus Kremlin memuji sikap pada awak media Vedomosti karena memperjuangkan kemerdekaan editorial sampai akhir. (ful)