Sekolah 2 Sesi Memberatkan Guru

Ilustrasi kegiatan belajar mengajar di sekolah. Foto: Faisal R Syam / FAJAR INDONESIA NETWORK

TANGERANG – Dinas Pendidikan (Dindik) Kabupaten Tangerang menunggu arahan dan aturan dari Kemendikbud perihal penerapan new normal di sekolah. Wacana yang muncul, satu meja untuk satu siswa. Ini berdampak, sekolah menerapkan dua sesi belajar mengajar. Kelas pagi dan siang. Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Tangerang Kosrudin mengatakan, penerapan new normal di sekolah tidak mudah.

Menurutnya, dengan diberlakukan jaga jarak dengan sistem satu anak satu meja, akan membebani guru. Karena, ruang sekolah tidak cukup. Efeknya, belajar mengajar harus dibagi dua sesi. Sesi pagi dan siang. Ini yang akan memberatkan guru. Sehari harus mengajar dua kali, sesi pagi dan sesi siang. Kosrudin mengungkapkan akan berdiskusi dengan dinas pendidikan agar penerapan new normal tidak memberatkan guru dan bisa berjalan efektif. Sementara penambah guru honorer tidak dimungkinkan.

“Aturan baru penambahan guru honorer atas seizin dinas pendidikan. Namun, ketika itu diizinkan kemudian new normal tidak berlaku, apakah guru tambahan tadi diberhentikan. Ini kan masalah juga. Kalaupun ditambah gurunya, honornya siapa yang akan menanggung. Kalaupun memaksa satu meja satu siswa kemungkinan belajar bergilir. Artinya tiga hari tatap muka dan tiga hari belajar online (belajar di rumah),” lanjutnya.

Untuk mengatur jaga jarak antar siswa ketika di luar kelas atau sedang beristirahat juga tidak mudah. “Pertanyaan selanjutnya, di luar kelas apakah anak-anak menjaga jarak tidak? Lulumpatan (lari-larian), tatangkepan (tawan-tawanan) segala macam, (main apa saja) budak mah (anak-anak). Tidak mungkin anak-anak mau berjarak satu meter dari temannya, tidak mungkin,” ujarnya saat dihubungi Tangerang Ekspres.

Ia menjelaskan, tidak efektif penerapan physical distancing atau jaga jarak pada siswa SD dan SMP. Kosrudin menyarankan, agar siswa dikenakan wajib memakai masker dan rajin cuci tangan tanpa ada jaga jarak. “Seberapa efektifkah anak jauh dan dekat. Saya kira kalau memang cukup pakai masker dan rajin cuci tangan. Normal baru ini, harapan saya di dalam kelas seperti biasa tempat duduknya dan jangan jadi beban buat guru,” jelasnya.

Kepala Dindik Kabupaten Tangerang Syaifullah mengatakan, secara konsep sudah ada dari Kemendikbud. Namun belum ada aturan resmi. Ia menegaskan, berpegang pada aturan dan petunjuk resmi dari Kemendikbud. “Kita lihat nanti kebijakkan tertulisnya bagaimana. Baru kita akan menerapkan strategi yang disepakati oleh kepala sekolah. Kita akan sosialisasikan aturan baru itu nanti sesuai protokol kesehatan Covid-19. Kita kirimkan melalui email maupun WhatsApp,” katanya kepada Tangerang Ekspres melalui sambungan seluler, Kamis (28/5).

Adapun, hingga saat ini peliburan sekolah masih berlaku sampai ada pengumuman resmi dari pemerintah pusat. “Kita akan ikuti petunjuk dan aturan dari kemendikbud yang disesuaikan dengan protokol kesehatan. Konsep kemendikbud yang akan diterapkan sesuai dengan protokol kesehatan belum jelas dan belum pasti aturan tertulis resminya,” lanjutnya.

Dinas Pendidikan (Dindik) Kota Tangerang sudah sudah membuat sistem belajar mengajar saat new normal di tengah pandemi Corona. Siswa akan masuk sekolah kembali dengan aturan sesuai protokol kesehatan. Satu siswa satu meja dan menggunakan maskaer selama mengikuti belajar mengajar di sekolah.

Kepala Dindik Kota Tangerang Masyati mengatakan, rencana itu masih dalam pematangan dan menunggu keputusan Kemendikbud.

“Aturannya di dalam kelas satu siswa akan diberikan satu meja. Jika siswanya 40 maka akan ada dua kelas. Jika tidak cukup, maka akan kami lakukan sistem shift, kelas pagi dan siang. Yang penting bisa mengikuti kegiatan belajar mengajar sesuai protokol kesehatan,”paparnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here