Ekonomi Membaik Bergantung Vaksin Covid-19

HomeEkonomiEkonomi Membaik Bergantung Vaksin Covid-19

JAKARTA – Krisis ekonomi yang terjadi pada 2020 ini berbeda dengan krisis ekonomi pada 2018 lalu. Pelemahan ekonomi tahun ini lebih berat, bahkan jauh lebih lama sepanjang vaksin virus corona atau Covid-19 belum ditemukan.

Chief Economist PT Bank CIMB Niaga Tbk Adrian Panggabean memaparkan, krisis ekonomi 2020 memiliki tiga dimensi besar yakni wabah penyakit, kebijakan sosio politik berupa social distancing dan phisical distancing, serta pengaruh negatif terhadap perekonomian dunia.

“Krisis ekonomi yang terjadi pada 2020 ini memiliki karakteristik yang berbeda bila dibandingkan krisis 1997-1998 maupun krisis ekonomi 2008,” ujarnya dalam diskusi virtual di Jakarta, kemarin (26/4).

Ia menjelaskan, ketiga karakteristik tersebut saling berhubungan yang ujungnya bermuara pada upaya untuk penguatan perekonomian yang saat ini turun cukup dalam. Fokus dan keseriusan pemerintah dalam mitigasi pandemi Covid-19 bisa memperpendek penyebaran virus ini.

Kata dia, mengutip dari sebuah organisasi Kesehatan Dunia (WHO) diperkirakan vaksin untuk menangani Covid-19 baru akan ada pada 12-18 bulan ke depan. “Jika melihat dari prediksi WHO, maka solusi krisis ekonomi baru akan terjadi pada pertengahan 2021 atau pertengahan tahun depan,” katanya.

Menurut dia, terhambatnya dalam penanganan pandemi corona lantaran belum kompaknya negara-negara di dunia. Hal ini karena terjadinya polarisasi antara lain adanya persaiangan antara Ruisa dengan OPEC, rivalitas antara Cina dan Amerika Serikat (AS), negara kaya dan negara miskin.

Berbeda, ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Ariyo Irhamna berpandangan menguatnya perekonomian nasional tak bergantung dari penemuan vaksin.

Menurut dia, yang paling utama yang harus dilakukan pemerintah adalah bergerak cepat dan fokus dalam penanganan wabah corona. Dengan langkah-langkah cepat dan terukur akan bisa memutus mata rantai virus dan ekonomi akan kembali menguat.

“Saya rasa kita tidak bisa bergantung dengan penemuan vaksin. Sehingga yang utama tergantung oleh respon kita terhadap virus ini. Semakin kita berhasil menangani Covid-19, maka dampak buruk terhadap ekonomi relatif terjaga. Tapi jika kita gagal, maka resesi ekonomi akan sangat dalam dan recovery akan lama,” ujarnya kepada Fajar Indonesia Network (FIN), kemarin (26/4).

Sebelumnya, pemerintah menggelontorkan stimulus sebesar Rp405 triliun melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Langkah ini sebagai salah satu upaya untuk penanganan virus corona.

Adapun stimulus penanganan wabah corona terdiri dari insentif bidang kesehatan sebesar Rp75 triliun, perlindungan sosial sebesar Rp110 triliun, dan perpajakan dan stimulus Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebesar Rp70,1 triliun. Sementara mayoritas anggaran diarahkan untuk memulihkan perekonomian nasional, termasuk restrukturisasi kredit dan pembiayaan UMKM yang sebesar Rp150 triliun.(din/fin)

Baca Juga

Berita Terbaru