Kampus Diminta Beri Pulsa Gratis untuk Mahasiswa

ilustrasi (foto net)

JAKARTA – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) meminta kepada pihak kampus, untuk membantu atau memberi subsidi pulsa kepada mahasiswa dan dosen selama pembelajaran daring.

Pelaksana tugas Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Nizam mengatakan, pemberian pulsa untuk mahasiswa dan dosen selama pembelajaran daring bisa diambil dari hasil penghematan biaya operasional penyelenggaraan pendidikan selama pembelajaran dari rumah.

“Seperti subsidi pulsa koneksi pembelajaran daring, bantuan logistik dan kesehatan bagi yang membutuhkan,” kata Nizam, Selasa (7/4).

Menurut Nizam, saat ini akses internet menjadi kebutuhan sangat penting bagi mahasiswa dan dosen selama proses pembelajaran dari rumah. Kata dia, beberapa perguruan tinggi baik negeri maupun swasta telah memberikan bantuan subsidi kuota internet bagi mahasiswa untuk pembelajaran daring.

Ia mengungkapkan, bahwa praktik pemberian subsidi internet tidak hanya dilakukan oleh kampus negeri seperti yang telah dijalankan Universitas Gadjah Mada, Universitas Negeri Medan dan Universitas Pendidikan Indonesia, namun juga oleh kampus swasta seperti Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan AMIKOM Yogyakarta.

BACA JUGA: Soal PSBB, Airin Minta Saran Gubernur

“Jumlah bantuan yang diberikan sesuai dengan kemampuan masing-masing perguruan tinggi,” ujarnya.

Nizam mengatakan, banyak mahasiswa perantau yang tidak dapat pulang kampung di tengah pandemi virus korona (covid-19) dengan berbagai alasan, seperti imbauan tidak pulang kampung, kendala biaya, hingga masalah akses internet di kampung halaman yang tidak baik.

“Selain pulsa untuk internet, perguruan tinggi juga bisa memberikan bantuan lain berupa logistik bagi mahasiswa perantau yang tidak pulang kampung,” tuturnya.

Nizam mencontohkan, mahasiswa asal Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Papua yang sedang kuliah di Universitas Negeri Surabaya (UNESA). Mereka saat ini banyak yang tertahan di asrama maupun rumah kos.

“Kami apresiasi pihak kampus UNESA yang telah bergerak cepat mendata mahasiswa ini untuk kemudian diberikan bantuan logistik makanan dan penyanitasi tangan,” ujarnya.

BACA JUGA: Soraya Larasati Jadi Korban Begal Payudara

Selain itu, lanjut Nizam, Kemendikbud juga mengimbau kampus memudahkan atau tidak mempersulit tugas akhir dan skripsi mahasiswa selama darurat covid-19.

“Karya tulis akhir tidak harus berupa pengumpulan data primer di lapangan atau laboratorium. Metode dan waktunya bisa beragam dan fleksibel sesuai bimbingan dari dosen pembimbing,” jelasnya.

Terlebih lagi, kata Nzam, jadwal ujian juga dipersilakan diatur sesuai perkembangan. Bentuknya tidak harus konvensional, tetapi bisa berbentuk penugasan, esai, kajian pustaka, analisa data, proyek mandiri, dan lainnya. Paling penting, didasarkan pada capaian pembelajaran yang diharapkan.

“Jadwal praktik bisa digeser, akhir semester bisa digeser, kalender akademik bisa disesuaikan, yang tidak boleh dikompromikan adalah kualitas pembelajarannya” terangnya.

Menaggapi arahan tersebut, Universitas Gadjah Mada (UGM) memberikan bantuan biaya komunikasi berupa pulsa atau paket data internet kepada mahasiswa, dosen, dan tenaga pendidik (tendik) untuk mendukung kelancaran Study From Home (SFH) dan Work From Home (WFH) di masa tanggap darurat pandemi virus korona (covid-19).

BACA JUGA: Pembagian Sembako Dibubarkan Polisi

“Untuk mendukung kuliah daring mahasiswa, bantuan pulsa atau data internet diberikan kepada mahasiswa di masing-masing fakultas/sekolah dengan besaran minimal Rp50.000 dan maksimal Rp150.000 per mahasiswa per bulan. Sedangkan untuk dosen dan tendik besarannya antara Rp100.000-Rp200.000,” kata Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan dan Sistem Informasi UGM, Supriyadi.

Selain memberikan bantuan biaya komunikasi, UGM juga menjalin kerja sama dengan beberapa operator seluler besar Tanah Air. Yakni Telkomsel, Indosat Ooredoo, dan XL.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here