Penghina Jokowi Dijerat Pasal Berlapis

Ali Baharsyah Screenshot Video (twitter)

JAKARTA – Aktivis Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Alimudin Baharsyah ditahan polisi atas tuduhan penghinaan terhadap Presiden. Pemilik akun Alibaharsah007 ini dicokok Sub Direktorat (Subdit) 2 Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri di Cipinang, Jakarta Timur pada Jumat (3/4) sekitar pukul 20.30 WIB.

Video penghinaan terhadap Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang diunggah Ali di sejumlah media sosial jadi barang bukti pelanggaran pasal 207 KUHP tentang penghinaan terhadap penguasa. Ali tak bisa lagi menghindari jerat hukum atas perbuatannya.

“Pengungkapan kasus terkait dengan kasus penghinaan kepada penguasa dan juga SARA (Suku, Agama, Ras, Antargolongan),” kata Kombes Asep Adi Saputra, Kepala Bagian Penerangan Umum (Kabag Penum) Divisi Humas Polri di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Senin (6/4).

Pada video tersebut, Ali memaki Presiden yang menetapkan status Darurat Sipil dalam penanganan wabah covid-19. Kenyataannya, Pemerintah belum menetapkan status tersebut.

BACA JUGA: Bukan Saja Manusia, Harimau pun Terserang Virus Corona

Bukan kali ini saja konten Ali membikin gaduh. Sebelumnya, ia juga pernah dilaporkan atas tuduhan penghinaan terhadap Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Said Aqil Siradj pada akhir Januari lalu.

“Pengungkapan kasus ini merupakan puncak dari penanganan kasus sebelumnya yang melibatkan tersangka yang sama atas nama AL,” kata Asep.

Kasubdit 2 Tindak Pidana Siber Kombes Himawan Bayu Aji mengungkapkan, dalam penangkapan itu, tiga rekan Ali turut digelandang. Pemeriksaan intensif masih dilakukan guna menyelidiki keterlibatan HAH (39), AH (24), dan AAP (20) dalam kasus tersebut.

“Untuk tiga temannya ini, sedang dilakukan pemeriksaan secara mendalam dan saat ini masih berstatus sebagai saksi,” terang Himawan.

Polisi juga menyita 104 keping DVD, 11 unit hardisk, 5 unit kartu memori, laptop dan kamera yang diduga digunakan dalam pembuatan konten Ali. Himawan melanjutkan, usai dilakukan pemeriksaan laboratorium forensik digital pihaknya juga menemukan sejumlah file mengandung pornografi.

“Sehingga yang bersangkutan kita tambahkan pasal berlapis berkaitan dengan undang-undang pornografi,” imbuh Himawan.

Himawan mengaku telah memantau Ali sejak 2018. Ali tercatat pernah melakukan pelanggaran-pelanggaran melalui akunnya sejak 2018. Namun, keputusan untuk menahan Ali terganjal bukti. Baru setelah ada pelaporan, kepolisian berhasil menangkap Ali.

BACA JUGA: BEM Muhammadiyah Bantah Ikut Kritik Fasilitas Tenaga Medis Jakarta

Konten provokatif Ali disebut Himawan digarap secara profesional. Buktinya, petugas mendapati sejumlah perlengkapan produksi video di tempat penangkapan Ali di Jalan Kemang Timur, RT 13/ 04, Kelurahan Bangka, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan.

“Modus operandinya adalah yang bersangkutan melakukan kegiatan pemostingan, yang sebelumnya dilakukan pembuatan video, merekam video tersebut kemudian diposting yang berkaitan dengan unsur SARA, diskriminasi etnis dan ras. Kemudian berita bohong, penghinaan terhadap penguasa yang juga memposting dan diviralkan melalui akun media sosial maupun WhatsApp grup yang ada,” ungkapnya.

Selain muatan penghinaan, Ali juga kerap menyisipkan pesan ideologis khilafah. Seperti diketahui, paham khilafah sendiri terlarang di Indonesia, bahkan di banyak negara lainnya.

Dengan sejumlah persangkaan tadi, Ali diancam lebih dari 20 tahun penjara. Ia dijerat pasal berlapis pasal 28 ayat 2 undang-undang ITE, Pasal penghapusan diskriminasi ras dan etnis, kemudian juga pasal 207 penghinaan terhadap penguasa dan badan umum. (irf/gw/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here