spot_img
29, September, 2021

MA Pilih Ketua, Banding Mati Ditolak

JAKARTA – Mahkamah Agung (MA) akan menyelenggarakan pemilihan ketua baru yang dijadwalkan, hari ini (6/4), sesuai Surat Edaran Nomor 3 Tahun 2020 yang dikeluarkan oleh Sekretaris Mahkamah Agung AS Pudjoharsoyo. Pemilihan pengganti Ketua MA Mohammad Hatta Ali itu tidak akan dihadiri aparatur peradilan pada satuan kerja pusat dan daerah untuk mencegah penyebaran penyakit karena virus corona (Covid-19).

”Menindaklanjuti keputusan rapat pleno Mahkamah Agung tanggal 2 April 2020, bahwa pemilihan Ketua MA dilaksanakan pada Senin (6/4), pukul 10.00 WIB bertempat di ruang Prof. Kusumaatmaja, Gedung Mahkamah Agung,” terang surat edaran tersebut dikutip Minggu (5/4).

Pemilihan hanya akan dihadiri pimpinan MAg, hakim agung serta hakim ad hoc di MA. Namun pelaksanaannya dapat diikuti melalui platform siaran video oleh masyarakat umum. Pada saat menyaksikan acara siaran pemilihan ketua baru itu, khalayak diminta tetap memperhatikan protokol penanganan pencegahan penyebaran Covid-19 serta pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

BACA JUGA: Prototipe Ventilator Indonesia Mulai Digagas

Ada pun Hatta Ali terpilih menjadi Ketua MA periode 2012-2017, kemudian terpilih dalam periode 2017-2022. Saat terpilih dalam periode keduanya, ia berusia 67 tahun dan akan memasuki masa pensiun pada 7 April 2020. Sementara salah satu syarat menjadi ketua MA adalah masih menjabat sebagai hakim agung sehingga pemilihan dilakukan sebelum ia memasuki masa pensiun.

Seperti diketahui, MA barus saja menolak pengajuan banding hukuman mati dari dua terdakwa kasus pembunuhan sopir taksi daring di Kabupaten Garut, Jawa Barat. Sehingga kedua pelaku itu tetap harus menjalani hukuman mati sesuai putusan Pengadilan Negeri Garut. ”Putusan MA bahwa keduanya tetap divonis hukuman mati,” kata Kepala Seksie Pidana Umum Kejaksaan Negeri Garut Dapot Dariarma.

Dijelaskannya, pelaku pembunuhan yang mendapatkan vonis hukuman mati yakni Jajang alias Keling (33) dan Doni alias Abang (33) oleh Pengadilan Negeri Garut. Majelis Hakim Pengadilan Negeri Garut, kata Dapot, memutuskan hukuman paling berat terhadap kedua terdakwa karena perbuatannya direncanakan dan tergolong sadis. Namun kuasa hukum terdakwa menyampaikan keberatan atas putusan majelis hakim, kemudian mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi, tetapi hasilnya ditolak, lalu kembali mengajukan ke MA. ”Mengajukan banding ke MA hasilnya tetap divonis mati,” kata Dapot.

BACA JUGA: Lagu Virus Corona Rhoma Irama Trending di YouTube

Sebelumnya, pelaku melakukan aksi pembunuhannya pada 30 Januari 2019, lalu mayatnya dibuang ke jurang di Cikandang, Kecamatan Cikajang, Garut. Polisi melakukan olah tempat kejadian perkara hingga mengetahui identitas korban yakni Yudi yang bekerja sebagai sopir taksi daring di Bandung, berikut mengetahui para pelaku dan menangkapnya.

Pengakuan pelaku bahwa aksi pembunuhan itu sudah direncanakan karena ingin memiliki mobil milik korban. Kedua pelaku berpura-pura menyewa mobil korban dengan tujuan ke Garut, di perjalanan korban dianiaya menggunakan senjata tajam, kemudian dilindas mobil berulang-ulang hingga akhirnya korban tewas. (fin/ful)

Rekomendasi Berita Terbaru

Populer