Di Jantung Epidemi

Anggota keluarga korban virus corona berduka saat pemakaman di Jakarta Selasa (31/3). (Foto: Bay Ismoyo/AFP)

Pistol plastik kecil adalah termometer listrik yang selalu mengarah ke kepalaku. Setiap kali masuk di gedung-gedung bertingkat itu.

Jika senja tenggelam, keramaian yang dulu memuncak sirna. Lengang, sayu, seperti kota yang ditinggal pergi.

Aku bingung sendiri. Ini Jakarta apa Wuhan-kota di timur Provinsi Hubei, Cina itu. Kehidupan baru di kota episentrum Virus Corona begitu menakutkan.

Setiap hari ada kematian. Kematian yang menjelma seperti air. Ada tangis dan ketakutan.

Batuk telah menjadi tabu sosial.

Setiap kali seseorang melakukannya, semua kepala mengalihkan pandangan cemas. Cepat-cepat pergi.

Di luar, mengenakan masker penutup wajah menjadi hal normal. Orang tidak lagi tersenyum. Muram.

Menjelang malam, beberapa restoran harus membatasi pelanggan hingga setengah dari kapasitas mereka.

Banyak restoran hanya menawarkan layanan take-out atau pengiriman. Benar-benar beda.

Suatu malam, saya sedang makan malam dengan beberapa rekan di sebuah restoran dekat kantor kami di Kebayoran Lama. Tak lama ada yang menghampiri dan berkata.

”Baiknya jangan berlama-lama,” ujar pria tersebut seraya menunjukan jam dinding.

Terpaksa, aku pun menyelesaikan makan malam lebih cepat dari biasanya. Jelas tidak nikmat.

Kondisi memang cepat sekali berubah.

Pemprov DKI Jakarta memang mendorong masyarakat untuk berbelanja kebutuhan pokok dari jarak jauh.

Melibatkan peran dari ojek dalam jaringan (daring) sebagai kurir pengantar barang pesanan.

Pasar tradisional kini bergegas membuka juga layanan belanja jarak jauh. Menyediakan sambungan telpon dan membuka akses bertransaksi.

“Jadi misalnya, yang terbiasa ke pasar, silahkan anda datang ke website atau instagram. Di situ nanti ada pilihan-pilihan,” tutur petugas Pasar Jaya.

Pedagang yang terdaftar dalam layanan ini bertambah setiap hari. Warga Jakarta tanpa harus berinteraksi jual-beli secara langsung.

Dorongan untuk belanja dari rumah, dibuat dalam rangka mengurangi interaksi sehingga penyebaran wabah lebih terkendali di Ibu Kota.

Hingga kemarin, tercatat sebanyak 741 orang terkonfirmasi pasien positif Covid-19, dengan 49 orang dinyatakan telah sembuh dan 84 orang meninggal.

Sedangkan yang masih menunggu hasil laboratorium sebanyak 640 orang. Ini di Jakarta.  Untuk tenaga kesehatan yang positif terinfeksi Corona totalnya 81 orang, yang tersebar di 30 rumah sakit di Jakarta.

Ini belum termasuk jumlah Orang Dalam Pemantauan berjumlah 2.302 orang (499 masih dipantau, 1.803 sudah selesai dipantau) dan Pasien Dalam Pengawasan sebanyak 1.086 orang (747 masih dirawat, 339 sudah pulang perawatan.

Semoga cepat belalu. Corona, please pergilah. (ful)