KEADAAN yang tidak menentu juga menjadi alasan mahasiswi Indonesia, Ratna Jelita, untuk kembali ke Tanah Air pada 24 Maret lalu dari Inggris Raya.

Perempuan yang tengah menuntut ilmu bidang seni dan desain di Bellerbys College, London, itu terdorong untuk kembali ke Indonesia karena tingginya jumlah kasus yang tercatat di Inggris.

”Saya tinggal sendiri di asrama. Berada di situasi yang tidak pasti di negara asing, di mana saya jauh dari keluarga, membuat saya khawatir,” tuturnya.

Hingga Minggu (29/3) pada pukul 09.00 waktu setempat, jumlah kasus positif Covid-19 di Inggris Raya mencapai 19,522 orang, sebagaimana tercantum di laman resmi pemerintah, www.gov.uk.

Terhitung pukul 5 sore pada 28 Maret 2020, sebanyak 1.228 orang meninggal dunia. Pemerintah Inggris telah memberlakukan lockdowndi seluruh wilayah negara tersebut dalam upaya menghentikan penyebaran virus yang pertama muncul di kota Wuhan, Cina itu.

Saat ditanya apakah dirinya merasa lebih aman berada di Indonesia, Jelita mengatakan di satu sisi dia merasa lebih tenang karena berada dekat dengan keluarga. ”Di lingkungan yang saya kenal, dengan orang-orang yang saya kenal, merasa lebih normal,” ucapnya.

Menjaga kesehatan mental seringkali disebut sebagai salah satu aspek penting dalam mencegah penyebaran Covid-19, karena berpengaruh terhadap tingkat sistem imun seseorang.

World Health Organization (WHO) atau Organisasi Kesehatan Dunia juga telah mengeluarkan sejumlah imbauan terkait kesehatan mental dalam masa pandemi Corona. Lagi-lagi, saya harus garibawahi. Ini soal mental.

 

Selain Ratna, ada mahasiswi Indonesia yang menempuh studi di Los Angeles, Amerika Serikat. Namanya Giorgina Sekarputri. Ia mengaku keluarga yang berada di Indonesia merasa khawatir terkait keselamatannya di negara Paman Sam.

Kekhawatiran keluarga Giorgina tak hanya terkait soal penyebaran virus itu sendiri. ”Orang tua saya meminta saya untuk kembali ke Indonesia karena situasi yang terjadi di Amerika Serikat, terutama karena adanya rasisme terkait orang Asia dan Ibu saya mengkhawatirkan keselamatan saya,” ungkapnya.

Mahasiswi jurusan psikologi di Pepperdine University itu tiba di Jakarta pada 17 Maret lalu. Kemunculan rasisme dan xenophobia dilaporkan mengiringi peningkatan angka kasus Covid-19 di berbagai negara.

Saya melansir dari Kantor Berita Reuters. Ada beberapa hal yang saya catat. Salah satunya pemberitaan pada bulan Februari lalu bahwa otoritas Los Angeles sempat mengeluarkan pernyataan terkait sejumlah rumor, berita palsu, dan penyerangan dalam upaya untuk menghilangkan kefanatikan anti-Asia yang mulai muncul di negara bagian California pada awal merebaknya Virus Corona di AS.

”Kami tidak akan membiarkan kebencian,” kata Supervisor County Los Angeles Hilda Solis yang mengimbau warga setempat untuk melaporkan kejahatan ke nomor khusus 211.

Masyarakat di California, sambung dia, sepakat dengan pemerintah. Tatapi mereka ingin hidup di bawah bayang-bayang ketakutan. Aksi protes di sejumlah laman media sosial pun dilakukan. Ini untuk menguatkan mental. Jangan sampai pemerintah memberlakukan lockdown. Karen imbasnya, begitu getir. Kehidupan terkekang. Hidup di tengah kota mati.

Virus Corona yang tengah mewabah di seluruh dunia itu mencemaskan setiap orang di mana pun, termasuk di Tanah Air. Di saat krisis seperti sekarang ini, salah satu pilihan  terbaik bagi sebagian  orang  adalah tinggal  di dekat orang-orang tercinta.

Di Indonesia sendiri, tengah buming kata-kata lockdown. Sebuah kata yang dipakai oleh pemerintah Cina dalam mengatasi endemik Corona yang melahap nyawa hampir 30 persen penduduk Wuhan. Sadis.

Pemerintah berkali-kali menegaskan, lockdown menjadi kebijakan Pemerintah Pusat. Penegasan ini langsung disampaikan Presiden Joko Widodo.

Lalu apakah ada Gubernur di Indonesia yang berani memutuskan Lockdown? Jawabannya tidak.

Dari cerita dua mahasiswa Indonesia tadi kita bisa menggambarkan kondisi apa yang terjadi jika lockdown itu diberlakukan.

Seluruh aktivitas kota mati. Semua berdiam di rumah. Sumber penghidupan ditutup. Warung makan, sampai orang yang mengais rezki berjualan keliling, dilarang. Ini karena wabah. Alasannya wabah.

Apa yang dilakukan Kota Tegal, kemarin, toh buntutnya jadi panjang. Warganya mengeluh. Mengaku tak bisa cari nafkah. Ngadu ke Gubernur Ganjar.

Sementara, kota itu masih juga dibanjiri warganya dari Ibu Kota Jakarta—episentrum wabah Virus Corona. Apa iya, Kota Tegal seperti Kota Wuhan–kota di timur Provinsi Hubei, negara komunis yang secara infrastruktur sama dengan Kota Tegal. Ahay, tentu jawabannya tidak.

Kalau alasanya nyawa, melindungi rakyatnya dari virus mematikan itu, apa sudah dilakukan protokoler Covid-19 secara benar? Jangan-jangan hanya mencari sensasi. Karena ada panggung yang begitu luas.

Lalu apa tidak ada kosakata lain, selain menggunakan kata “Isolasi” untuk mengantisipasi wabah itu? Mungkin Kota Tegal seperti Wuhan, wabahnya sudah ke mana-mana. Unik.

Pemerintah pusat sudah menganjurkan, agar pemerintah daerah terus melakukan upaya pendekatan dan langkah-langkah strategis. Dari gerakan penyemprotan disinfektan, sampai membumikan tagar #jagajarak, #janganpanik. Sembari menyiapkan fasilitas kesehatan secara terpusat. Responsif itu intinya.

Pusat sendiri yakin, dan mengakui secara terbuka, kondisi daerah serba kekurangan. Bahkan secara nasional, Indonesia masih kekuarangan 3 juta alat pelindung diri (APD) untuk medis. Ini secara tertutup disampaikan Jokowi kepada menterinya saat rapat terbatas, Senin (31/3).

Saya menilai Presiden tidak secara gamblang, meluapkan kemarahannya itu kepada pembantunya. Masih ada tepo selero, terlalu njawani. Wajar situasi yang membuatnya seperti itu.

Dalam posisi dan kondisi ini, tentu tidak mungkin menyatakan lockdown. Kemampuan fasilitas, kemampuan finansial menjadi sumber untuk menjawabnya.

Coba kita lihat lagi kondisi Jakarta. Bagaimana APBD-nya, yang begitu berlimpah ruah. Toh sampai saat ini juga masih kekuarangan. Itu cuma APD saja lho, belum yang lain.

Di kota metropolitan itu, setiap hari ada wafat. Dan jumlah yang terinfeksi terus bergerak naik. Penanganannya bagaimana dan terpenting, hasilnya bagaiman?  Menjawab serba kekurangan yang terakumulasi. Jadi tidak ada alasan yang pas. Lockdown itu diberlakukan.

Jujur saja, tadi sore saya kaget. Mendengar pernyataan yang disampaikan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo.

Ada gagasan melibatkan pihak swasta untuk melakukan tes reaksi berantai polimerase atau PCR (Polymerase Chain Reaction). Wah bagus. bagus sekali.

Fokusnya di daerah.

Melibatkan dan memanfaatkan kemampuan mereka yang selama ini di luar zona birokrasi. Baik medis, maupun urusan penanganannya. Alasan Doni tepat. Karena keterbatasan fasilitas yang ada, terutama alat untuk mendeteksi siapa saja orang yang sudah terpapar virus mematikan itu.

Nah jelaskan. Bagaimana mungkin lockdown itu dilakukan. Semua penuh keterbatasan. Lalu apa iya, daerah bisa berkoordinasi dengan pihak swasta. Berpartisipasi dalam tes PCR seperti yang disebut Doni tadi.

Jelas peran kepala daerah yang mustinya langsung turun tangan. Dan saya merasa yakin Doni tidak mengetahui secara dalam, hubungan pemerintah daerah dengan swasta. Sulit untuk diungkapkan.

Saya ambil contoh di Provinsi Lampung.

Puluhan bahkan mungkin ratusan hektare terhampar ladang tebu. Pertanyaannya, apa yang sudah dilakukan perusahaan itu, saat wabah ini terjadi.

Fakta yang ada, gula putih sempat langka di pasaran. Kalau ada saat ini, harganya naik, bisa 50-60 persen. Lalu apa kepedulian mereka terhadap kondisi di daerah itu.

Apakah secara sukarela membagikan hand sanitizer? Ya minimal ethanol, yang dihasilkan dari tetes tebu atau molase itu.  Ingat lho, keberadaan dan kemampuan produksi lokal sebenarnya sangat mumpuni. Khususnya di Lampung. Lalu bagaimana sikap dan langkah kepala daerah melihat kondisi saat ini. Hehehe, lagi-lai sulit untuk dijawab.

Yang pasti, daerah hanya mengharapkan sokongan dari pemerintah pusat. Dari anggaran sampai APD. Alasannya sederhana. Coba kita cek berapa realokasi anggaran APBD untuk Corona. Sudah dipublis atau belum. Lalu berapa nilainya?

Jadi, kita sebagai rakyat hanya meminta sederhana saja. Komitmennya dululah diwujudkan untuk rakyat. Soal lockdown, gampang!. Mau setahun sampai lima tahun pun rakyat siap. Dengan catatan pemerintah memberikan subsidinya.

Jangan sampai, kita membahas Lockdown, eh di depan kita ada pasien Corona 02 yang wafat. Lalu sulit sekali untuk dimakamkan. Manis tebu, ternyata tak semanis caramu. (dari berbagai sumber/*)

Bandar Lampung, 30 Maret 2020