JAKARTA – Kapan berakhir? Itu pertanyaan singkat, namun paling sukar dijawab, setelah Virus Corona terus memuncak di 199 negara. Apalagi di Indonesia. Tentu bergelanyut menanti kepastian itu.

Tidak hanya pebisnis, politisi, pekerja di pemerintahan apalagi rakyat kasta ketiga. Dari tukang ojek, kuli panggul, sampai ibu rumah tangga yang hidup bersusah payah membantu suami mencari nafkah.

Akh, lagi-lagi pertanyaan itu datang. Kapan berakhir.

Dan bagi para penggemar olahraga tentu ini pukulan yang sangat telak. Apalagi pencinta sepak bola, jelas merasakan ada yang kosong kala mereka tidak bisa melihat idola maupun klub kesayangannya berlaga dalam waktu dekat ini.

 

Itu berarti tidak akan ada lagi live score. Tak akan ada lagi tayangan sepak bola di televisi. Tidak akan ada lagi tagar-tagar seperti #OleOut ataupun #LiVARpool menjadi trending topic di media sosial, tidak juga pembahasan sepak bola yang selalu menjadi obrolan seru, terkadang sengit, di setiap tongkrongan maupun perkantoran.

Semua klasemen liga terhenti seketika gara-gara corona. Nasib Liverpool pemimpin klasemen sementara dengan 82 poin untuk segera mengakhiri dahaga gelar juara Liga Inggris tiga dasawarsa pun belum jelas.

Demikian juga nasib Manchester United yang baru kedatangan juru selamat bernama Diego Fernandes. Seorang penggemar Manchester United mengungkapkan betapa ia amat merindukan momen-momen saat ia masih bisa menonton pertandingan sepak bola.

Hal senada juga disampaikan oleh salah seorang penggemar NBA. Sejak NBA ditangguhkan sekira dua pekan lalu, ia sudah tidak bisa lagi melihat aksi idolanya di layar kaca.

“Gue udah mulai kangen lihat klub kesayangan gue, Houston Rockets main. Kangen liat aksinya Russell Westbrook sama James Harden,” kata Krisna Daneshwara, yang juga berprofesi sebagai jurnalis olahraga itu.

Kekosongan yang sama dirasakan oleh media sepak bola di Eropa. Mereka harus memutar otak agar bisa tetap memberikan hiburan dan sajian olahraga kepada para penggemar di tengah absennya pertandingan yang banyak ditunda akibat pandemi Virus Corona.

Segala cara dilakukan mulai dari menayangkan perdebatan sengit para pandit, laporan pertandingan secara terperinci, hingga menayangkan ulang pertandingan sepak bola, yang tidak pernah dilakukan sebelumnya.

Di Inggris, legenda Tottenham, Barcelona, dan timnas Inggris, Gary Lineker, rela menjadikan rumahnya sebagai tempat syuting sebuah acara program Match of the Day bersama tamunya, Alan Shearer dan Ian Wright.

Pada acara tersebut, Lineker, Shearer, dan Wright memperdebatkan kapten terhebat sepanjang masa Liga Inggris. Sebuah topik yang mau tidak mau harus ditemukan ketika tajuk berita tak jauh dengan tema Corona.

Di Italia yang menjadi negara di dunia paling terdampak paparan virus corona, stasiun televisi mereka difokuskan untuk meningkatkan rasa nasionalisme melalui sepak bola.
Sky Sports, misalnya menyiarkan pertandingan timnas Italia saat menang di Piala Dunia 2006. Ada juga acara khusus menayangkan para pelatih Italia yang mencatatkan prestasi di Inggris.

 

Ada Claudio Ranieri, pelatih yang membawa gelar Liga Inggris bagi Leicester City, Roberto Mancini yang memenangi gelar untuk Manchester City, serta Carlo Ancelotti yang pernah membawa Chelsea juara Liga Inggris dua kali.

Kemudian di Prancis, sebagian besar porsi pemberitaan olahraga diisi dengan laga-laga akbar antara Marseille vs PSG, yang musim ini harus ditunda akibat virus corona. Ketika yang seharusnya disiarkan tidak berlangsung, televisi mengajak orang-orang terjebak nostalgia pertandingan Le Classique sedekade terakhir.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here