JAKARTA – Dampak paling parah Virus Corona 19 (Covid-19) berpeluang besar membawa resesi global tahun ini. Meski di negara sumbernya, Tiongkok, saat ini penyebarannya sudah menurun tajam dan proses recovery ekonomi domestik mulai berjalan, penyebaran wabah di luar Tiongkok justru sedang mengalami eskalasi.

Direktur Eksekutif CORE Indonesia Mohammad Faisal menuturkan di Eropa dan Amerika saat ini menjadi episentrum baru penyebaran wabah tersebut menggantikan Tiongkok. Berbagai langkah pembatasan mobilitas yang diterapkan oleh berbagai negara seperti kebijakan lockdown membuat kegiatan ekonomi nyaris lumpuh.

”Dengan tingkat penyebaran di banyak negara yang masih tinggi, probabilitas pandemi Covid-19 dapat ditanggulangi dalam waktu dekat sangat kecil,” kata Faisal kepada Fajar Indonesia Network (FIN) Minggu (29/3).

Meningkatnya kekhawatiran para investor terhadap ketidakpastian ekonomi akibat Covid-19 tercermin dari indeks pasar modal di berbagai belahan dunia yang turun tajam. Bahkan, per 26 Maret 2020, beberapa indeks pasar saham utama turun lebih dari 20 persen (YTD). Dow Jones mengalami koreksi -20,98%, Nasdaq (-13,10%), FTSE 100 (-22,89%), Nikkei (-21,10%), dan S&P Asia (-16,17%).

Bantuan Kemanusiaan Dari Tiongkok Kepada Pemerintah Indonesia - FAJAR INDONESIA NETWORK
Petugas merapikan tumpukan karton berisi alat kesehatan yang didatangkan dari China di Terminal Kargo 530 Bandara Internasional Soekarno Hatta, (27/3). Sebanyak 20 ton bantuan alkes untuk penanganan Covid-19 yang berasal dari berbagai investor asal Chia yang punya investasi di Indonesia didatangkan ke tanah air hari ini. Sedangkan 20ton lainnya akan didatangkan pada hari Sabtu nanti.
FOTO: FAISAL R. SYAM / FAJAR INDOENSIA NETWORK.

Dijelaskan Faisal, harga sejumlah komoditas juga mengalami penurunan sebagai respons terhadap melemahnya permintaan global. Indeks komoditas seperti batu bara, minyak sawit dan logam, turun cukup tajam. Harga minyak mentah bahkan sudah anjlok di bawah US$25.

”Selain karena melemahnya permintaan global, ini juga dipicu oleh gagalnya kesepakatan negara-negara produsen khususnya Arab Saudi dan Rusia untuk memangkas produksi minyak,” kata Faisal.

Untuk mengatasi tekanan ekonomi tersebut, pemerintah dan bank sentral di berbagai negara hampir serentak meluncurkan berbagai stimulus ekonomi. The Fed, misalnya telah meluncurkan program quantitative easing (QE) dan memangkas suku bunga 100 basis point (bps) menjadi 0,25%, Bank of Canada sebesar 100 bps. Bahkan, negara-negara yang memiliki ruang ekspansi moneter yang lebih sempit juga memangkas suku bunga acuan mereka, seperti European Central Bank (-5 bps), Bank of England (-15 bps), dan Bank of Japan (-20 bps).

Selain itu, Pemerintah AS juga meluncurkan paket bantuan sebesar USD 2 triliun atau setara dengan Rp 35 ribu triliun untuk meredam dampak ekonomi wabah Covid 19. ”Hanya saja, negara-negara yang mengandalkan ekspor komoditas memiliki bantalan fiskal yang lebih terbatas, sehingga potensi pelebaran defisit atau peningkatan utang publik menjadi lebih tinggi,” ujar Faisal.

Dalam hal transmisi resesi terhadap ekonomi domestik lanjut Faisal pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini juga akan sangat dipengaruhi seberapa besar dampak yang ditimbulkan oleh penyebaran wabah Covid-19 dan seberapa cepat respons untuk menanggulanginya.

”Lonjakan jumlah penderita yang terdeteksi dengan fatality rate yang lebih tinggi dibanding negara-negara lain dalam sebulan terakhir sangat mengkhawatirkan,” terangnya.

Respons pemerintah dan masyarakat yang melakukan upaya pencegahan, seperti penutupan sekolah, work from home (WFH) khususnya pekerja sektor formal, penundaan dan pembatalan berbagai event-event pemerintah dan swasta, membuat roda perputaran ekonomi melambat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here