Sepakat Hindari Kerumunan

Fatwa MUI Putusan Hari Ini Terkait Ibadah di Rumah - FAJAR INDONESIA NETWORK
Sekretaris Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), Asrorun Niam Sholeh (kedua kiri) bersama Anggota Komisi Fatwa MUI Hamdan Rasyid (kiri), Ketua MUI Bidang Fatwa Huzaemah Tahido Yanggo (kedua kanan) dan Wakil sekretaris Fatwa MUI Abdurrahman Dahlan (kanan) saat memberikan keterangan di kantor MUI, Jakarta, (16/3). Ketua Komisi Fatwa MUI Hasanuddin AF memberikan imbauan agar umat Muslim di wilayah yang terdapat kasus infeksi virus corona tidak menunaikan shalat berjamaah di masjid sementara waktu. Umat Muslim diimbau melaksanakan shalat lima waktu di rumah masing-masing. Begitu pun dengan shalat Jumat, Hasanuddin mengimbau umat Muslim tidak melaksanakan shalat Jumat sementara waktu dan menggantinya dengan shalat Zhuhur di rumah. FOTO: FAISAL R. SYAM / FAJAR INDONESIA NETWORK.

JAKARTA – Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengingatkan agar umat Islam Indonesia untuk menghindari kerumunan sekalipun atas nama ibadah. Di dalam pelaksanaan ibadah penting menyesuaikan dengan protokol-protokol kesehatan. Salah satunya menghindari kerumunan.

Sekretaris Komisi Fatwa MUI Asrorun Niam Sholeh di Jakarta, Sabtu (28/3) mengingatkan konten fatwa MUI yang sudah ditetapkan pada 16 Maret 2020 lalu. Yakni Fatwa Nomor 14 tahun 2020 tentang pedoman pelaksanaan ibadah dalam wabah COVID-19.

“Bukan melarang ibadah. Tetapi justru pada kesempatan wabah ini ibadah harus ditingkatkan sebagai bentuk ikhtiar batin kita. Tetapi untuk kontribusi menyelamatkan jiwa, maka salah satu protokol kesehatan yang dijaga bersama adalah meminimalisir kerumunan,” kata Asrorun dalam konferensi pers di Graha BNPB, Sabtu (28/3).

BACA JUGA: Anies Baswedan Perpanjang Masa Tanggap Darurat DKI Jakarta hingga 19 April

Menurut Asrorun, dengan demikian ibadah yang dilaksanakan dengan cara berkerumun, seminimal mungkin dilarang dan juga dihindari. Sebelumnya Juru bicara Presiden Fadjroel Rachman menyampaikan pemerintah telah mengimbau adanya pembatasan sosial atau menjaga jarak fisik (physical distancing), sebagai upaya mencegah penyebaran COVID-19.

Presiden RI Joko Widodo secara tegas telah berulang kali menyampaikan imbauan bekerja dan belajar dari rumah serta beribadah di rumah kepada masyarakat. Baik secara langsung maupun melalui kelembagaan Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19.

Fadjroel mengatakan sebagian masyarakat secara sadar dan kritis mengikuti mekanisme pembatasan sosial. Namun, sebagian lain masih belum menciptakan partisipasi ideal terkait mekanisme pembatasan sosial. “Secara kelembagaan, sistem yang telah dibangun dalam konteks penanganan krisis, memiliki kewenangan untuk mendisiplinkan atau menciptakan tindakan tegas demi kepentingan dan kebaikan umum,” jelas Fadjroel.

Karena itu, Polri sebagai bagian dari sistem Gugas Tugas COVID-19, mengeluarkan Maklumat Kapolri tentang Kepatuhan terhadap Kebijakan Pemerintah dalam Penanganan Penyebaran Virus Corona (COVID-19) yang ditandatangani Jenderal Polisi Idham Azis pada 19 Maret 2020.

Di tempat sama, para pemuka dari berbagai agama sepakat dalam masa wabah COVID-19 ini mengimbau umatnya agar menghindari kerumunan. Termasuk dalam beribadah, sebagai upaya memutus mata rantai penyebaran dan menanggulangi penyakit tersebut.

Sekretaris Umum Pendeta Persekutuan Gerja-Gereja di Indonesia (PGI) Jacklevyn F. Manuputty, mengatakan telah mengeluarkan imbauan sejak tanggal 13 Maret agar seluruh umat menjaga jarak dan menghindari ibadah-ibadah yang sifatnya kerumunan.

Kemudian, Relawan Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, Hong Tjhin, juga menyatakan umat Buddha telah diimbau untuk menghentikan kegiatan dan juga menjaga jarak minimal dua meter, serta merekomendasikan agar kegiatan ibadah bisa dilakukan dengan bantuan teknologi.

BACA JUGA: Dampak Covid-19, Pasar Sampai Pusat Kuliner di Kota Magelang Sepi

Selanjutnya, Sekretaris Komisi Komunikasi Sosial Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Romo Steven menuturkan para uskup sudah mengeluarkan petunjuk agar dapat ditaati dan dipatuhi. “Tujuannya agar seluruh umat mengikuti perayaan gerejawi tanpa hadir secara bersama-sama, tetapi bisa melalui media sosial digital,” ucap Romo Steven.

Sedangkan Ketua Bidang Kesehatan dan Sosial Kemanusiaan Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Pusat, Nyoman Suartanu menyatakan untuk mencegah COVID-19 ini, umat Hindu agar melakukan kegiatan keagamaan cukup dari rumah saja. “Mari melakukan doa hingga meditasi untuk kesembuhan dan perbaikan bangsa ini,” tukasnya. Para pemuka lintas agama itu hadir dalam jumpa pers bertajuk Anjuran Pelaksanaan Kegiatan Keagamaan Berkaitan dengan Self-Distancing untuk Menghindari Penyebaran COVID-19. (khf/fin/rh)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here