Keluar Masuk Penumpang Masih Terjadi

Rangga Jatnika/ Radar Tasikmalaya ANTISIPASI. Penumpang bus di Pul Primajasa diberikan hand sanitizer sebagai antisipasi penularan covid-19 Rabu (25/3).

JAKARTA – Mobilitas masyarakat yang keluar masuk Kota Tasikmalaya masih terus terjadi, termasuk melalui angkutan umum jalur darat. Terlebih Kota Resik ini merupakan wilayah transit yang menjadi pusat di Priangan Timur.

Pantauan Radar, arus penumpang bus di yang dibawa dari luar daerah masih terus mengalir. Meskipun secara jumlah tidak banyak dan setiap penumpang yang turun selalu di hampiri karyawan dengan membawa hand sanitizer. Hal itu berlaku kepada orang yang menunggu kedatangan penumpang.

Manajer Wilayah PO Primajasa Tasikmalaya H Beni Bunyamin mengatakan bahwa arus penumpang memang masih ada. Hanya saja jumlahnya sedikit, tidak lebih dari 10 orang dalam satu bus. “Paling 5 atau 6 penumpang saja,” ungkapnya kepada Radar, Rabu (25/3).

Pihaknya, kata Beni, sudah mengurangi jumlah bus yang beroperasi di masa pshycal distancing ini sekitar 70 persen. Padahal, jika di hari-hari biasa mengoperasikan sekitar 120 unit setiap hari. “Sekarang paling 30 atau 35 bus saja yang beroperasi,” katanya.

Jika dikalkulasikan, dalam sehari Primajasa melayani mobilitas lebih dari 100 penumpang, termasuk dari wilayah Jabodetabek. Sebagian lagi yakni penumpang yang berangkat dari Tasik menuju ibu kota.

Untuk pengamanan, sambung Beni, di Pul Primajasa sendiri sudah disediakan hand sanitizer untuk para penumpang termasuk awak bus. Sehingga mereka yang naik dan turun diarahkan terlebih dahulu mencuci tangan. “Kita siapkan hand sanitizer dan mengimbau penumpang mengunakan masker,” ujarnya.

Disinggung pendeteksian suhu oleh thermal gun (perangkat untuk memfilter masyarakat yang mengalami demam selama akibat covid -19), sejauh ini pihaknya belum mendapat anjuran. Adapun permintaan dari aparat yakni pengadaan boks khusus untuk sterilisasi penumpang. “Jadi setiap penumpang masuk ke kotak itu untuk disemprot, tapi sekarang masih proses pengadaan,” terangnya.

Menurut Beni, idealnya peralatan untuk pencegahan itu disuplai oleh pemerintah. Karena pengelola sendiri sekarang dibebani oleh kerugian di mana pendapatan menurun drastis. “Sudah tidak ada untung karena cost operasional lebih besar dari setoran,” katanya.

Salah satu pengunjung Pul Primajasa, Dela (20) mengaku sedang menunggu kakaknya dari Bandung. Alasan kakaknya pulang karena Bandung rawan terserang covid-19, sehingga memilih pulang. “Khawatir sih (tertular virus, Red), tapi kalau tetap di sana (Bandung) lebih mengkhawatirkan lagi,” tuturnya.

Selain itu, ada juga Rini Ananda (25) yang hendak berangkat ke Bandung. Pihaknya memaksakan diri berangkat karena tuntutan kerja. “Khawatir, tapi saya juga harus tetap kerja,” katanya.

Hal serupa juga terjadi di Pul PO Budiman, di mana bus masih mengangkut penumpang dari luar daerah. Meskipun jumlahnya sedikit. Informasi dari pegawai, Budiman pun sudah menurunkan jumlah bus yang beroperasi per harinya. Namun aktivitas pelayanan transportasi masih terus berjalan meskipun minim. (rga)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here