Salah Kebijakan, Kriminalitas Naik

Ilustrasi: pixabay

JAKARTA – Jumlah kriminalitas di tengah wabah virus corona bukan tidak mungkin meningkat bila kebijakan yang diambil tidak tepat. Terlebih kondisi ekonomi makin menghimpit.

Banyaknya aksi Kriminalitas di Jabodetabek ini bukan tanpa sebab. Salah satu penyebabnya, disebut Kriminolog Universitas Indonesia Josias Simon yakni himpitan ekonomi.

Kondisi ini kemudian diperparah dengan situasi nasional yang tengah dihadapkan dengan wabah virus korona.

“Bukan karena corona tapi karena kebijakan-kebijakan terkait corona. Misalnya, di wilayah ada pembatasan, bahkan mungkin ada karantina wilayah dan segala macam. Membuat beberapa orang yang harusnya mendapatkan penghasilan itu tidak dapat pemasukan,” katanya kepada Fajar Indonesia Network (FIN), Rabu (25/3).

Josias melanjutkan, himpitan ekonomi akibat pembatasan sosial bisa ditanggulangi dengan kebijakan yang berdampak langsung. Kebijakan ini, pada akhirnya, bakal mengurangi dorongan berbuat kriminalitas. Misalnya, pemberian insentif bagi pekerja harian.

“Seperti kemarin wacana kebijakan menurunkan harga bensin. Itu kan tidak berdampak langsung. Sementara semua disuruh bertahan di rumah. Sekarang siapa pakai bensin, orang diam di rumah. Di rumah butuh listrik, kebutuhan pokok tersedia nah itu yang harusnya disiapkan, karena dampaknya tadi ke kriminalitas,” terang Josias.

Hal senada diungkapkan Direktur Lembaga Kajian Masyarakat Abdul Fatah. Ketidaksiapan pemerintah dalam menghadapi wabah corona membuat tensi kegelisahan dan emosi masyarakat mulai meningkat.

Dampaknya, tindakan kriminal mulai muncul di tengah masyarakat, seperti kasus hilangnya hand sanitizer dan masker di beberapa rumah sakit yang dicuri masyarakat.

Diakatakannya, jika pemerintah tidak menyikapi dengan cepat dan serius dalam kebijakan pencegahan COVID-19, bukan mustahil akan memicu tindakan kriminal lebih banyak lagi demi alasan melindungi diri.

“Kalau kita lihat kebijakan pemerintah dalam mengatasi penyebaran wabah Covid-19 belum mampu menahan laju sebaran penularan. Hal ini karena yang dilakukan oleh pemerintah lebih memprioritaskan ke penanganan di hilir, seperti penyiapan rumah sakit, alat kesehatan dan lain-lain untuk menangani korban COVID-19, bukan memaksimalkan pencegahan,” katanya dalam keterangan tertulisnya.

Fatah menyebut, hingga kini pemerintah dalam upaya pencegahan di hulu masih lemah. Ini bisa dilihat dari upaya pemerintah dalam memberikan dukungan alat-alat dasar kebutuhan pencegahan penularan di masyarakat masih sangat rendah.

“Sementara kalau kita lihat antusiasme partisipasi masyarakat dalam upaya melindungi diri sangat tinggi, akan tetapi pemerintah tak sanggup memenuhi ketersediaan kebutuhan dasar seperti langkanya masker, hand sanitizer dan desinfektan di pasaran,” tuturnya.

Di sisi lain, aparat Satuan Reskrim Polres Cianjur, Jawa Barat berhasil mengamankan tiga terduga pelaku pencurian 470 kotak masker di gudang farmasi Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pagelaran, Cianjur. Mirisnya, seorang di antaranya berstatus aparatur sipil negara (ASN) dengan jabatan kepala unit fungsional.

Ketiganya hingga kini masih menjalani pemeriksaan di Unit II Satreskrim Polres Cianjur. Ketiganya diamankan di lingkungan RSUD Pagelaran.

Kasatreskrim Polres Cianjur, AKP Niki Ramdany mengatakan pihaknya masih melakukan pengembangan atas kasus tersebut. tiga orang yang diamankan terdiri atas satu orang ASN, petugas keamanan, dan satu orang tenaga honorer.

“Ketiganya masih dimintai keterangan guna pengembangan kasus hilangnya ratusan dus masker tersebut. Kami akan usut tuntas hingga ke akar-akarnya,” kata Niki.

Sementara informasi dihimpun, ketiga orang yang diamankan Timsus Polres Cianjur, berinisial Is merupakan Kepala IPRS RSUD Pagelaran, juru parkir, dan seorang anggota keamanan rumah sakit.

Sebelumnya, Polres Cianjur mendapat laporan hilangnya ratusan kotak masker yang merupakan stok RSUD Pagelaran. Setelah dilakukan penghitungan oleh pihak rumah sakit, tercatat 470 kotak masker yang akan digunakan untuk penanganan COVID-19 hilang sejak dua bulan terakhir.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here