COVID-19, Lalu Lintas Turun 29 Persen

    Hari Raya Nyepi Jakarta Bak Kota Mati - FAJAR INDONESIA NETWORK
    Foto : Iwan tri wahyudi/ FAJAR INDONESIA NETWORK

    JAKARTA – Kepadatan lalu lintas di Jakarta turun signifikan. Penurunan aktivitas kendaraan, disebut Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Polda Metro Jaya berkisar 15 hingga 29 persen. Penurunan akibat pembatasan sosial ini berdampak pada usaha angkutan umum dan barang.

    Direktur Lalu Lintas (Dirlantas) Polda Metro Jaya Kombes Sambodo Purnomo Yogo menyebut, penurunan aktivitas kendaraan bermotor ini terjadi di sejumlah gerbang tol. Di Gerbang Tol Halim yang menghubungkan Jakarta dan Cikampek, penurunan ini mencapai 15,2 persen.

    “Pertanggal 9 sampai dengan 15 Maret tercatat kendaraan masuk 432.037 unit. Pekan berikutnya 16 hingga 22 Maret ada 366.553 pengguna jalan,” terangnya melalui keterangan tertulis, Rabu (25/3).

    Penurunan terbanyak terpantau di Gerbang Tol Cengkareng. Sepekan sebelumnya, tercatat 463.349 kendaraan menggunakan jalan tol. Sementara sepekan belakangan hanya 327.419 pengguna jalan tol. Sambodo menuturkan, penurunan di tol yang menghubungkan Jakarta dan Cibitung, Bekasi ini mencapai 29,4 persen.

    Begitu pun di Gerbang Tol Kapuk, Tomang, dan Cililitan yang mengalami penurunan hingga 28 persen.

    “Terjadi penurunan di setiap gerbang utama tol dalam kota dan Sedyatmo berkisar antara 15,2 persen sampai dengan 29,4 persen,” ringkas Sambodo.

    Penurunan aktivitas kendaraan di Jakarta terjadi usai Pemerintah menetapkan protokol pembatasan sosial atau social distancing untuk menanggulangi wabah virus corona baru atau COVID-19. Warga diimbau mengurangi aktivitas di luar rumah. Kepolisian bahkan mengancam bakal memproses hukum warga yang membandel.

    “Jadi barang siapa yang tidak mengindahkan perintah tugas yang berwenang yang saat ini yang melaksanakan tugas, itu dapat dipidana,” kata Irjen Muhammad Iqbal, Kadiv Humas Polri beberapa waktu lalu.

    Pembatasan sosial ini berdampak pada usaha angkutan orang dan barang. Ketua Umum Organisasi Angkutan Darat DKI Jakarta Shafruhan Sinungan menerangkan, saat ini hanya 20 persen perusahaan angkutan barang dan orang yang beroperasi.

    “Karena mobilitas masyarakat ini kan semua dibatasi, otomatis itu ya,” katanya kepad FIN, Rabu (25/3).

    Di sektor angkutan barang, kelesuan terjadi lantaran industri mengalami penurunan produksi. Akibatnya, pengangkutan logistik pun sepi.

    “Industri logistik juga karena ada pengurangan jumlah produksi otomatis beberapa karyawan akan berdampak, dirumahkan,” katanya lagi.

    Kelesuan ini berdampak langsung pada sejumlah pekerja angkutan barang dan orang. Shafruhan mengaku telah berkomunikasi dengan Pemerintah agar diberi mereka diberi bantuan. Ia menyebut bantuan tersebut misalnya dapat berupa bantuan langsung tunai (BLT).

    “Ada seratus (perusahaan) lebih yang dibina, dari yang besar sampai yang kecil termasuk juga perusahaan angkutan orang. Kami sudah minta bantuan pemerintah khususnya untuk diriver. Misal ada bantuan langsung tunai seperti zaman pak SBY. Kita sekarang sedang data total pengemudi kita, untuk DKI saja,” tukasnya.(irf/gw/fin)

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here