Berhenti Berkata: Kami tak Takut Corona, Kami Takut Hanya Allah

Foto: getty images

Di saat virus corona dinyatakan masuk Indonesia dan jumlah kasus terus bertambah, pemerintah menganjurkan masyarakat agar melakukan sosial distancing, menjaga jarak atau tetap berada di rumah.

Bahkan sejumlah pertemuan-pertemuan publik dibatasi. Tak hanya itu sejumlah ibadah jamaah juga dilarang. Seperti Salat Jumat, atau Salat Jamaah di Masjid. Hal ini sebagai upaya memutuskan mata rantai wabah corona.

Namun ada-ada saja sekelompok orang yang menentang larangan itu. Mereka menyebut, orang-orang yang mengikuti imbauan itu lebih takut virus ketimbang takut Allah. Narasi yang berkembang di sosial media, bahwa kami tidak takut corona, yang kami takut hanya Allah ta’ala. “Atau saya tidak takut cororan, saya takut hanya Allah.”

Sahabat ku, wabah mematikan bukan saja baru terjadi kali ini. Jauh sebelumnya,1400 tahun silam, di zaman khalifah Umr bin Khatab, terdapat wabah tho’un. Oleh beberapa pakar Sejarah, tho’un merupakan wabah yang paling mengerikan, pagi dinyatakan positif, sorenya meninggal dunia.

Satu saat, Khalifah Umar bin Khatab radhiayallahu’an, akan melakukan perjalanan di negeri Syam. – Sekarang Irak, Palestina, Suriah– Namun, rombongan khalifah ini mendapat kabar bahwa daerah yang akan mereka lalui terdapat wabah tho’un dan telah menelan korban di wilayah itu.

Mendengar kabar itu. Umar bin Khatab memerintahkan untuk mengambil jalan lain sehingga tidak melewati daerah yang terkena wabah tersebut.

Di Syam, sahabat Nabi yang bernama Abu Ubaidah, menyayangkan sikap Khalifah dan rombongannya yang enggan melewati daerah tersebut.

Menurut Abu Ubaidah, wabah di Daerah itu sudah merupakan takdir Allah. Sehingga jika kita terserang wabah, juga merupakan takdir Allah. Beliau berkata kepada Umar, “Wahai Amirul Mukminin.. Mengapa anda lari dari takdir Allah?“

Lalu Umar radhiyallahu ’anhu menjawab dengan sangat hikmah, “Aku berharap bukan Anda yang mengucapkan itu, ya Abu Ubaidah. Iya benar, kami sedang lari dari takdir Allah menuju takdir Allah yang lain. Seandainya kamu punya unta, kemudian ada dua lahan yang subur dan yang kering. Bukankah bila Anda gembalakan ke lembah yang kering itu adalah takdir Allah, dan jika Anda pindah ke lembah subur itu juga takdir Allah?!

“Iya benar…” Jawab sahabat Abu Ubaidah radhiyallahu ’anhu.

Kemudian salah seorang sahabat yang mendengar perdebatan antara Umar dan Ubaidah, dia pun membeberkan salah satu Hadis Nabi.

“Umar Benar”, kata Sahabat itu. Sesungguhnya saya mendengar Nabi Bersabda. ” Jika kalian mendengar wabah melanda suatu negeri. Maka, jangan kalian memasukinya. Dan jika kalian berada di daerah itu janganlah kalian keluar untuk lari darinya  (HR. Bukhari & Muslim).

Kawan, sikap Umar ini sebagai rasa takut akan terkena wabah tho’un sehingga dia berusaha untuk menghindar. Menghindarnya Umar, untuk memili jalan lain dan tidak melewati daerah yang terserang wabah itu, merupakan bentuk Ikhtiar Umar Radiallahu’an.

Padahal, Umar adalah salah satu Sahabat Nabi yang telah dijamin masuk Surga. Ketakutannya kepada Allah ta’ala tak diragukan.

Dalam Sahih Al-Bukhari, Nabi berkata: “Ketika aku sedang tidur, aku melihat diriku di surga kemudian ada seorang wanita yang wudhu di sisi istana, aku berkata: ‘Istana siapakah ini?’ Wanita itu berkata: ‘Ini milik Umar.’ Aku teringat akan kecemburuan Umar dan aku berbalik untuk pergi. Kemudian, Umar menangis dan berkata, ‘Mungkinkah aku cemburu padamu, Rasulullah?’

Sahabat, behentilah memandang remeh wabah virus corona. Sebab ketakutan kepada wabah, merupakan fitrah dalam diri manusia. Rasa takut merupakan hal yang manusiawi. Kita diwajibkan ikhtiar dari hal-hal yang membahayakan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here