JAKARTA – Produksi daging ayam secara kumulatif periode Maret-Mei 2020 mencapai 990.608 ton. Sedangkan kebutuhan diperkirakan sebanyak 879.755 ton. Neraca surplus terakumulasi 110.853 ton. Kondisi ini dianggap cukup aman menghadapi bulan suci Ramadan dan Idul Fitri 2020. Meski demikian publik tetap cemas dengan stok pangan yang kondisinya terus menipis, ditambah harga yang bergerak naik.

Pemerintah sendiri mengklaim telah mengamankan stok akhir Februari sebanyak 98.640 ton. Kondisi inilah yang menjadi alasan bagi Kementerian Pertanian (Kementan) tampil percaya diri menjaga stabilitas kebutuhan dan harga di tengah kekhawatiran atas wabah Virus Corona (Covid-19) yang menganggu stabilitas harga dan stok.

”Surplus produksi memang menjadi tumpuan. Tapi kondisi ini makin aman setelah adanya penambahan stok daging ayam pada akhir Februari lalu. Kalkulasi kami ketersediaan hingga akhir Mei 2020 mencapai 209.493 ton,” terang Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian, I Ketut Diarmita, dalam Rapat Koordinasi Mengantisipasi Wabah Covid-19 dan Menjamin Ketersediaan Daging Ayam dan Telur Konsumsi di Jakarta, Jumat (19/3).

Nah untuk ketersediaan telur ayam ras pada periode yang sama mencapai 1.260.071 ton. Jumlah ini ditambah dengan stok akhir Februari sebanyak 27.582 ton. ”Dari kalkulasi kebutuhan sekitar 1.284.097 ton, sehingga ada surplus kumulatif sebesar 3.556 ton,” jelasnya.

BACA JUGA: Anies Baswedan Ungkap Data Tenaga Medis yang Terinfeksi Corona

Lebih lanjut Ketut menegaskan, pelaku usaha untuk mencari alternatif dalam mengatur tata niaga distribusi ayam dan telur guna memastikan kesiapan rantai pasok jika akses daerah ada yang ditutup karena wabah Covid-19. ”Saya harap pelaku perunggasan serta Tim Satgas Pangan dapat berkontribusi besar dalam mengamankan pasokan pangan pada situasi seperti ini,” pintanya.

Pada kesempatan yang sama, perwakilan dari pelaku usaha perunggasan Alvino menegaskan, pada prinsipnya pengusaha mendukung dan ikut serta menjaga ketersediaan serta kelancaran distribusi daging ayam dan telur. ”Memang ada kekhawatiran ini, sejak mewabahnya Covid-19. Terlebih menjelang bulan puasa dan lebaran,” katanya.

Alvino mengusulkan, pemerintah segera mengkampayekan konsumsi daging ayam dan telur guna meningkatkan imunitas yang dapat membantu menangkal virus penyebab Covid-19.

Sementara itu, Riwantoro, Sekretaris Badan Ketahanan Pangan (BKP), Kementan juga menegaskan, bahwa BKP telah memperkirakan sejumlah titik yang dapat dimanfaatkan bagi pelaku usaha untuk terlibat dalam operasi pasar dan mendukung stabilisasi harga. ”Operasi pasar dilakukan untuk menjaga ketersediaan stok pangan di masyarakat sekaligus menstabilkan harga pokok,” ungkap Riwantoro.

Koordinasi antara Kementan dengan para pemangku kepentingan perunggasan yakni asosiasi perunggasan (GPPU, GOPAN, PPRN dan PINSAR), Satgas Pangan, Kementerian Perdagangan dan Kemenko Perekonomian sebagai langkah mengantisipasi krisisi pangan dan kebutuhan yang menjadi kekhawatiran publik. ”Tentu saja kita ingin stok daging ayam dan telur konsumsi aman,” jelasnya.

BACA JUGA: Mantan Staf Sekjen PDI Perjuangan Segera Disidang

Terpisah, Kapolda Metro Jaya Inspektur Jenderal Nana Sudjana mengaku tengah mendalami dugaan penimbunan terkait kenaikan harga gula di pasaran. Hal itu disampaikannya dalam inspeksi mendadak (sidak) ketersediaan pangan di Pasar Palmerah, Jakarta Barat. ”Laporan ang masuk itu banyak. Salah satunya kenaikan harga gula. Ini yang akan jadi perhatian kami. Satgas Pangan tengah melakukan upaya dan penyelidikan langkanya gula. Dugaan awal ada penimbunan,” ungkap Nana.

Jelas, dari jika Satgas menemukan kejanggalan maka akan mendalami laporan yang masuk sebagai langkah awal. ”Ya tindak saja kalay terbukti ada oknum yang mencoba mengambil keuntungan dari kelangkaan gula. Saya pesan, untu siapa pun distributor dan spekulan jangan coba-coba menimbun!” tegasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here