SUDAH beberapa bulan terakhir, permukaan bumi dirusuhkan oleh kehadiran virus yang sejak awalnya diduga akibat budaya mengkonsumsi makanan ekstrim seperti kelelawar yang ternyata menyimpan virus yang namanya begitu menggoda Corona.

Adalah hukum alam bahwa setiap makhluk hidup dihadirkan Tuhan ke muka bumi dengan tugasnya masing-masing. Seperti kelelawar yang bertugas menangkap virus corona dan menyimpan di dalam tubuhnya.

Namun kadang keserakahan manusialah yang iseng mengkonsumsi makhluk yang bukan untuk makanan seperti kelelawar itulah yang mengakibatkan virus corona yang seharusnya tersimpan di tubuh kelelawar jadi lepas tak terkendali dan sekaligus merusak ekosistem bumi.

Setelah banyak korban bertumbangan akibat virus corona (Covid-19), masyarakat kesehatan internasional akhirnya mengeluarkan himbauan agar masyarakat melakukan pengisolasian diri untuk mencegah penyebaran lebih luas lagi.

Seorang wanita menjual gel disinfektan sebagai tindakan pencegahan dalam menghadapi pandemi global Covid-19, di Guatemala City (Foto Johan Ordonez/Afp)
Seorang wanita menjual gel disinfektan sebagai tindakan pencegahan dalam menghadapi pandemi global Covid-19, di Guatemala City (Foto Johan Ordonez/Afp)

Sungguh himbauan yang konsekuensinya sangat berat karena dapat membunuh seluruh sendi-sendi perekonomian global. Matinya perekonomian justeru adalah pembunuh yang paling sadis dan lebih menyeramkan dibandingkan Covid-19 yang menakutkan itu.

Dunia saat ini membutuhkan solusi yang lebih praktis dan efektif untuk mengatasi masalah yang ditimbulkan oleh Covid-19 terhadap kelangsungan hidup manusia di bumi.

Di suatu kesempatan kami bersama dengan beberapa jurnalis menyempatkan diri bertandang ke pusat riset Doktor Warsito Purwo Taruno yang penemuan-penemuannya sangat fenomenal di dunia saint internasional.

Mengawali pembicaraan hasil riset dan analisa data yang dilakukan secara sederhana, Warsito Purwo Taruno. Ia ilmuwan penemu ECCT (Electro Capacitive Cancer Treatment). Alat pembasmi kanker yang telah berhasil menyembuhkan ribuan penderita kanker.

”Jika Covid-19 tinggal di dalam tubuh kelelawar (dugaan awalnya), maka tempat yang paling tidak disukai oleh kelelawar (dan virus yang dibawanya) adalah tempat yang dipenuhi oleh sinar matahari,” ucapnya mengawali perbincangan.

Menurut Warsito cara enginer membasmi virus corona (dan virus-virus lainnya) ternyata sangatlah sederhana yaitu mesin mandi sinar ultraviolet (UV).

Bus di Cina di dalamnya dilengkapi lampu ultraviolet untuk membunuh mould, jamur atau Virus Corona (Foto: Istimewa)

Dan Warsito pun berpendapat, bahwa mesin inkubator UV Made In Indonesia (dikembangkan oleh Profesor Raldi Artono Koestoer) adalah kandidat alat yang efektif untuk mematikan Covid-19, baik yang sudah menginfeksi tubuh maupun yang masih menempel di luar.

Menurut dia, spektrum ultraviolet (UV) bisa berinteraksi langsung dengan virus, dan berefek pada kematian pada virus. ”Upayakan sesering dan selama mungkin mandi sinar UV, dan selain matahari, sinar UV bisa didapat dari paparan lampu jenis UV yang dijual secara bebas,” imbuh Warsito.

”Dan inkubator yang ramah dompet yang dikembangkan oleh Profesor Raldi itu prinsipnya adalah pemanfaatan sinar gelombang UV yang dihasilkan dari penyalaan lampu UV,” urainya.

Dalam pemaparannya, Warsito menceritakan pada kurun waktu antara tahun 1997-2000 di Jepang beliau sempat melakukan riset penggunaan sinar gelombang ultraviolet untuk mengurai senyawa organik dari limbah pabrik menjadi H2O dan CO2.

Nah, berdasarkan riset terbaru oleh group peneliti AS hasilnya menunjukkan bahwa wilayah yang paling parah terkena imbas penyebaran Covid-19 yaitu mempunyai persamaan yang sangat mencolok pada rentangan Suhu 5-11°C, dan Kelembaban udara pada kisaran 47-79%.

Berada di dalam ruang ber-AC dengan kelembaban tinggi bagi yang kemungkinan terpapar virus adalah kurang baik.

”Perbanyaklah berada di tempat sinar matahari langsung karena itu jauh tetap lebih baik karena sinar matahari adalah pure UV yang menyehatkan,” saran Warsito.

Ada beberapa poin yang menurut Warsito, menjadi bahan penting untuk diingat dan dilakukan;

Pertama, kita yang berada di iklim tropis boleh merasa tenang tanpa proteksi. Proteksi tetap diperlukan, karena apabila virus sudah masuk ke dalam tubuh, paparan sinar matahari jadi tidak lagi cukup mematikan virus karena virusnya terlindungi oleh tubuh.

Kedua, keadaan sudah terpapar virus yang masuk ke dalam tubuh akan memerlukan daya UV lebih tinggi dengan alat khusus yang mampu mematikan virus yang terlanjur sudah masuk ke dalam tubuh. Dan untuk sementara ini belum ada alat UV khusus yang sudah teruji.

Tiga wanita memakai masker wajah, sebagai tindakan pencegahan terhadap virus corona. Mereka berjalan di distrik Causeway Bay Hong Kong Minggu (15/3). (Foto Isaac Lawrence/Afp)

Ketiga, hanya paparan sinar matahari langsung akan menghambat perkembangan dan penyebaran virus, karena virus tak akan bisa bertahan lama dalam paparan sinar matahari langsung.

Keempat, bukan suhu yang penting tetapi panjang gelombang sinar ultraviolet yang bisa berinteraksi langsung dengan virus dan protein yang ada di dalam virus.

Dunia memahami bahwa belum ada formula dan formulasi yang tepat guna mengatasi virus corona yang sudah mengendap di dalam tubuh pasien dan fakta tersebut membuat masyarakat kesehatan internasional terus menghimbau gerakan mengisolasi diri masing-masing untuk mengurangi resiko penularan.

Tentu saja, jika melihat analisa Warsito di atas, seharusnya masyarakat Indonesia tidak perlu terlalu cemas mengingat sinar matahari sangat berlimpah di negeri tercinta ini.
Mengingat hasil karya Warsito sudah diakui dunia internasional dengan penemuan fenomenalnya, ECVT (Electrical Capacitance Volume Tomography) yaitu pemindai 4D pertama di dunia.

Penemuan berupa ECVT oleh Warsito tersebut nyata telah diakui dunia dan digunakan oleh lembaga antariksa Amerika Serikat (NASA), selain juga digunakan oleh raksasa perminyakan semisal Exxon dan Shell.

Di tengah kegalauan dan kecemasan bangsa ini adalah layak jika pendapat dan pandangan dari Warsito tentang kiat dan cara melawan virus yang menakutkan itu kita apresiasi dan aplikasikan dalam mengatasi masalah yang sangat meresahkan ini.

Ketika kita dalam keadaan kritis adalah manusiawi kembali menggali potensi kekuatan diri yang memang sudah selalu digaungkan sejak kita masih bayi untuk hidup sehat dan aktif berinteraksi dengan alam, memecah upaya penalaran.

”Tentu bukan hal asing bila kita melihat di pagi hari, bayi-bayi (mudah-mudahan termasuk kita ketika masih bayi) dijemur di bawah sinar matahari pagi untuk kesehatannya,” gurau Warsito.

Sebuah ironi buat kita semua yang seharusnya terus kita lakukan namun kita abaikan demi mengejar kepentingan isi dompet dan memelihara rapih jiwa pemalas diri.

Mungkin sudah waktunya kembali saling mengingatkan untuk memelihara pola hidup sehat, bukan saja dengan pola musiman seperti yang dianut negeri ini yang rusuh berbenah diri kala sudah ada serangan dan kembali bermalas-malasan bila serangan telah pergi.

Pola hidup sehat dengan makan makanan sehat, olah raga teratur, istirahat cukup, yang diajarkan guru-guru kita di sekolah yang bahkan mungkin tidak dilakukan oleh sebagian guru yang mengajarkan, memang sudah waktunya kita terapkan dalam hidup kita tanpa mengenal musim.


Seorang pendukung Presiden Brasil Jair Bolsonaro mengambil bagian dalam protes menentang Kongres Nasional dan Mahkamah Agung sambil mengenakan masker pelindung untuk mencegah penyebaran Virus Corona di Brasilia, Minggu (15 /3). (Foto Nelspn Almeida/Afp)

Mengingat Covid-19 terbukti semakin merebak dan terus mengepung kita dengan kecepatan gerak yang tidak dapat diprediksi adalah cukup bijak jika masyarakat mengapresiasi saran Warsito dengan secara kontinyu mengupayakan adanya gelombang sinar ultraviolet di area tempat tinggal kita sebagai upaya pencegahan Covid-19 berhenti berbiak dan berpotensi menyerang kita.

Hal seperti itu telah dilakukan di Cina yang dalam waktu singkat telah berbenah dan memasang lampu-lampu dengan sinar ultraviolet di semua fasilitas umum seperti bus, kereta api, dan ruang-ruang publik lainnya. ”Jadikan rumah kita sebagai inkubator yang mampu melindungi kita dari virus corona.”

”Mencegah adalah lebih baik, karena sakit akibat terpapar Covid-19 belum bisa diobati secara klinis dan tuntas,” ucap Warsito mengakhiri obrolan ringan. (ful)