MANUVER politik Ahmed Zaki Iskandar memang mengejutkan banyak pihak. Telebih, saat dirinya terpilih secara aklamasi sebagai Ketua DPD I Partai Golkar DKI Jakarta.
Padahal, banyak yang memprediksi, pria kelahiran Cimahi 14 Desember 1973 itu, bakal menjadi lawan tangguh Ratu Tatu Chasanah dalam Musda Partai Golkar Banten. Ternyata, langkahnya berbeda.

Kursi yang ditempatinya saat ini, begitu strategis dan menawarkan opsi politik yang cukup menantang. Apalagi, jika dikaitkan dengan suksesi Pemilihan Gubernur DKI Jakarta tahun 2022 mendatang. Dan sangat relevan jika muncul kemungkinan dia disodorkan sebagai The Newcomers.

Pria jebolan Victoria University Australia angkatan (1996-1998) itu, memang memiliki segudang pengalaman di dunia politik. Kariernya bukan sebatas duduk sebagai Bupati Tangerang, ia pernah diberikan mandat sebagai Anggota DPR RI periode 2009-2014 untuk Komisi I.

Soal bagaimana mengemas Partai Golkar, Zaki terbilang sosok yang handal. Lihat saja, saat dirinya membangun kekuatan partai berlambang pohon beringin itu di Kabupaten Tangerang. Terjadi regenerasi yang berjalan normal tanpa diwarnai gejolak di tubuh Partai Golkar. Akar beringin, mencengkram kokoh pada sendi-sendi masyarakat yang heterogen.

Lobi politiknya begitu smart dan berjalan hangat. Tanpa berisik, tanpa kecemasan, tanpa gejolak. Terbukti saat dirinya mencalonkan kembali sebagai Bupati Tangerang di periode kedua. Tak ada lawan.

Seluruh partai yang saat itu ada di kursi DPRD setempat (Partai Golkar, PDI Perjuangan, PPP, Demokrat, PAN, Gerindra, Nasdem, PKB, Hanura, PKS, PBB dan PKPI) memberikan dukungan untuknya. Tanpa embel-embel.

Wajar, kotak kosong pun terbenam dengan kekuatan yang begitu solid. Yang menarik, Zaki  menggandeng Mad Romli yang juga kader Partai Golkar sebagai wakilnya dalam Pilkada. Hasilnya, menang telak. Hebat.

Di kalangan pemburu berita, Zaki bukan sosok asing. Dekat karena membaur. Sikap apa adanya, cermat dalam melihat situasi serta humoris seakan mewakili semua kalangan. lengkap. Tak bisa dipungkiri, nyaris semua elemen masyarakat ia rawat, apalagi kalangan milenial, ia cukup dekat.

Dan blusukan, menjadi kebiasaannya. Selalu ada waktu untuk rakyatnya. Wajar, pria yang hobi sepak bola dan basket itu cemerlang dalam berpolitik. Ini pun didukung dengan jaringan dan pengalamannya.

Penulis pernah secara langsung mewawancarainya saat menjadi redaktur sekaligus kepala biro Radar Banten di Tangerang Raya. Zaki selalu terbiasa bekerja cepat, dan tak mau bertele-tele dalam urusan apa pun. Cara pandangnya pun kritis, terhadap sesuatu. Kompromi duduk satu meja menjadi ciri khas dirinya dalam menenangkan massa. Terakhir yang masih diingat penulis, saat penggusuran kawasan eks lokalisasi Kosambi.

Sebuah kawasan merah yang nyaris penuh dengan kemaksiatan. Belum genap satu periode dirinya menjabat. Kawasan itu ditertibkannya. Koordinasi dengan semua pihak, dan konsep ngobrol satu meja menjadi jurus jitu meredam ”api” di kawasan pesisir.

Alhasil, pemerintah pusat merespon. Bahkan Kementerian PUPR turun membantu membenahi kawasan itu menjadi pusat kuliner di ujung Timur Tangerang. Bertahap pembenahan dilakukan. Meski nada nyinyir masih pula menggelayut di dalam pembenahannya.

Namun Zaki tak mau peduli dengan urusan itu. Semangat dan antusiasme warga pun berlipat. Sekitar 500 rumah di Kampungbaru, eks lokalisasi Dadap, Kosambi, Kabupaten dibenahi.

Senyum mereka merekah. Rumah mereka semakin berwarna dan dihiasi mural yang mendidik. Baik pria dan wanita bahu membahu mengecat kampungnya dengan warna yang cerah dan menarik. Tujuan mereka satu, ingin bahagia dan lepas dari stigma negatif.
Soal Kampung Dadap, Kosambi hanya segelintir contoh. Lalu bagaimana Zaki mengatasi ruwetnya birokrasi.

Lagi-lagi Zaki punya konsep. Alur penataan Abdi Negara ditata dengan sabar dan rapi. Tanpa ada yang merasa dicubit, semua terlibat dalam sesi kerja.

Zaki punya tagline; one team, one spirit, one goal!. Slogan inilah yang ia ia bawa dalam memimpin birokrasi di Kabupaten Tangerang.

Bahkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2013- 2018 dan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) tahun 2018, tagline ini dipakai dalam menuangkan hasil kerja yang penuh dengan tanggungjawab.

Hasilnya? Penataan dan kerja birokrasi di kawasan Seribu Industri itu pun terbilang sukses, meski banyak kekurangan dan kelemahan dari sisi pelayanan. Soal korupsi? Cek saja. Nyaris terkikis.

Pengamat Politik Ujang Komarudin mengatakan, posisi Zaki di bendera Golkar akan lebih berkibar setelah mampu memimpin Golkar DKI Jakarta. Bergesernya Zaki ke Jakarta menjadi pilihan politik yang bagus.

”Posisi ketua yang ditinggalkan Rizal Mallarangeng menjadi pintu masuk bagi Zaki,” kata Akademisi Universitas Al Azhar Indonesia ini kepada Fajar Indonesia Network (FIN) di Jakarta, Senin (24/2).

Setelah jabatannya usai, Zaki bisa kembali mencalonkan diri menjadi legislatif. Bahkan, calon kuat Gubernur DKI Jakarta. ”Dia (Zaki, red) pernah di DPR RI, kemudian bupati, mungkin akan mencoba gubernur nantinya,” papar Ujang.

Dari prestasi yang ia bangun menjadi modal Zaki untuk berkiprah lebih banyak di DKI Jakarta. Peluangnya pun terbuka. Tokoh-tokoh politik nasional pun sudah membaca. Rekam jejaknya mulai terangkum secara periodik.

Kalau boleh disejajarkan.Langkah Zaki nyaris sejalan dengan upaya PDI Perjuangan mendorong Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini.

Dalam Pilgub Jatim 2018 lalu misalnya, nama Risma sempat digadang-gadang untuk menjadi calon kuat bagi PDIP. Namun, sang wali kota menolak dan berakhir hanya menjadi pendukung bagi paslon Saifullah Yusuf (Gus Ipul)-Puti Guntur Soekarno.

Mungkin, sosok keibuan Risma memang sering kali berhasil dalam membius masyarakat Surabaya. Berbagai kebijakannya yang dianggap sukses juga membuat masyarakat Surabaya tidak jarang membangga-banggakan sang wali kota ini.

Sama halnya dengan Zaki. Beberapa hasil survei menjelang Pilgub Banten, nama Zaki pun muncul. Beberapa opsi pun termuat dalam lingkaran survei-survei tersebut. Dari Rano-Zaki, Zaki- Andika Hazrumy, sampai Wahidin-Zaki.

Warna Zaki dalam urusan politik di Banten, terutama suksesi kepemimpinan, tidak melepaskan kiprahnya yang kuat. Cek saja dalam Pilkada Kota Tangerang Selatan tahun 2015, Intan Nurul Hikmah adik Zaki dibawa-bawa dalam urusan itu. Zaki pun kadang geleng-geleng kepala, melihat dinamika yang ada.

Tapi Lagi-lagi wajar. Zaki punya magnet soal urusan ini.
Selamat bekerja. (ful)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here