MOHAMMAD Zubair berjalan tenang. Ia bergegas pulang dari sebuah masjid yang berada di wilayah timur Kota New Delhi.

Seketika matanya terbelalak. Tertegun, ketika melihat kerumunan massa tidak jauh dari lokasinya berdiri.

Sejurus ia berbalik arah. Mencari jalan keluar. Menghindari keributan. Berlari sekencang-kencanganya. Dalam hitungan detik, dia meringkuk di tanah.
Dikelilingi lebih dari selusin pemuda. Ia terkapar.

Tangganya melindungi kepala. Orang-orang itu, sergap melontarkan pukulan dengan tongkat kayu dan batang logam ke tubuhnya.

”Allahu akbar!”

Mohammad Zubair tak kuasa melawan.

Darah mengalir segar dari kepalanya. Bau amis menebar.
Noda merah kental menyiram pakaiannya. Wajahnya pun mandi darah.
Pukulan tak berhenti.
Bahkan semakin menggila.

”Saya pikir saya sudah mati,” ucap Zubair setelah meneguk segelas air putih yang disodorkan kerabatnya, Jamal Ahmad, Selasa (25/2).
Matanya masih merah, sembab. Pelipisnya robek.

Kepalanya terbungkus perban. Serangan siang bolong itu tak terelakan. Dramatis. ”Saya tak tahu, mengapa mereka begitu benci pada saya,” tutunya.

BACA JUGA: India Membara, Sejumlah Masjid Dibakar, 27 Orang Tewas

“Mereka melihat saya sendirian, mereka melihat topi saya, jenggot, shalwar kameez (pakaian) dan melihat saya sebagai seorang Muslim,” kata Zubair kepada Reuters yang dikutip Fajar Indonesia Network (FIN).

“Mereka membabi buta, menyerang. Kemanusiaan macam apa ini?” sergahnya.
Hubungan warga muslim dan Hindu di New Delhi tengah memanas. Beberapa jam, kota itu lumpuh. Aksi aksi kekerasan. Massa melempar batu hingga bom bensin.

Di lokasi, beberapa kali teriakan terdengar. Pemandangan massa beringas menyerukan slogan-slogan pro-Hindu. Tiba-tiba massa mengepung seseorang yang tidak bersenjata. Karen pria itu muslim.

Mohammad Zubair dengan kerabatnya.

Ketegangan yang meningkat antara anggota dua agama dominan India sulit untuk ditahan.
Keresahan ini sebenarnya telah terjadi sejak medio Desember 2019 lalu. Ini dipicu dengan disahkannya undang-undang bernada diskriminatif bagi umat Muslim di sana. Bahkan muncul wacana pemutusan dari tradisi sekuler India.

Di India memang unik. Minoritas agama dari komunitas Sikh, atau Kristen mendapatkan kewarganegaraan. Tetapi umat muslim tidak menikmati semua keuntungan yang sama.

Anehnya lagi, Perdana Menteri Narendra Modi mengatakan undang-undang kewarganegaraan baru diperlukan untuk melindungi minoritas yang dianiaya dari Pakistan, Bangladesh dan Afghanistan, dan menyangkal adanya bias terhadap Muslim India.

Juru bicara Bharatiya Janata Part (BJP) Tajinder Pal Singh Bagga menegaskan partainya tidak mendukung segala bentuk kekerasan. Dia menyalahkan pihak-pihak yang berselisih karena memicu kekacauan selama kunjungan Presiden AS Donald Trump untuk merusak citra India.”Ini 100 persen direncanakan,” terang kader partai nasionalis itu.

Ia pun mengklaim, kebijakannya yang oleh partainya tidak ada hubungannya dengan diskriminasi. Sementara pemerintah federal, yang mengendalikan polisi Delhi, bergerak untuk mengerahkan pasukan paramiliter untuk mengendalikan situasi.

“Saya percaya dalam 24 jam semuanya akan baik-baik saja,” tambahnya.
Polisi Delhi tidak segera tersedia untuk mengomentari serangan terhadap Zubair maupun korban lainnya.

BACA JUGA: Perpecahan Malaysia Kian Tajam

Sejak melanjutkan kekuasaan pada Mei, Modi telah mengejar beberapa agenda. Sekarang para penentang dan pendukung hukum, sebagian besar terbagi antara Muslim dan Hindu, memiliki pandangan yang beragam terhadap UU yang akan disahkan.

Bahkan beberapa pengamat menuding ini adalah polarisasi membangkitkan bab gelap di masa lalu India.

Mohammad Zubair yang menyangka dirinya sudah mati.

”Kekerasan sekarang terjadi di saku kecil Delhi dan mengingatkan Anda tentang awal kerusuhan anti-Sikh 1984,” kata Yogendra Yadav, seorang ilmuwan politik yang memimpin partai politik kecil yang menentang BJP.

Dia merujuk pada serangan massa pada minoritas Sikh setelah anggota komunitas membunuh Perdana Menteri Indira Gandhi. Ribuan orang Sikh terbunuh di kota-kota termasuk Delhi dalam apa yang dikatakan penyelidik India adalah kekerasan yang diorganisir.

Modi sendiri telah meminta tenang warganya. Setelah 20 orang tewas lebih tewas dan 200 lainnya cedera.

Undang-undang kewarganegaraan di balik kerusuhan adalah salah satu dari beberapa langkah yang diambil oleh pemerintah Modi sejak pemilihan ulang pada bulan Mei yang telah menarik mayoritas Hindu.

Pada bulan Agustus, negara itu menanggalkan status khusus Kashmir, satu-satunya negara bagian mayoritas Muslim di India. Ini sebuah langkah yang dipertahankan Modi sebagai cara mengintegrasikan kawasan itu dengan bagian lain negara itu.

Peristiwa kelam di Gujarat ini merupakan kerusuhan terburuk dalam sejarah India sejak 2002.

Mohammad Zubair dengan kondisi luka kepalanya.

Publik tentu masih mengingat peristiwa November 2019 lalu. Yang berujung tewasnya ribuan umat muslim lantaran dituding melakukan sabotase yang mengakibaykan kecelakaaan kereta api hingga 59 peziarah Hindu mati terbakar.

Modi sendri dibebaskan dari kesalahan, bahkan ketika puluhan lainnya di kedua sisi kerusuhan dihukum. Sebelum bentrokan pekan ini di New Delhi, 25 orang tewas dalam pertempuran antara pemrotes dan polisi di seluruh negeri.

Di antara mereka, ada Yatinder Vikal, seorang Hindu berusia 33 tahun. Saat kritis, dibawa ke Rumah Sakit Guru Teg Bahadur, akibat luka tembak di lutut kanannya. ”Berdarah dan Yatinder tewas tertembak saat mengendarai skuter,” ujar Yarendra rekan kerjanya. (ful)