Ribuan Rumah Terendam Banjir

DUA DUKUH - Dua dukuh di Desa Pait, Kecamatan Siwalan terendam banjir dengan ketinggian air 50 cm - 70 cm, kemarin siang. Dua pedukuhan ini masing-masing Dukuh Tugu dan Babatan. Foto: Hadi Waluyo.

TIRTO – Diguyur hujan lebat lebih dari 12 jam, ribuan rumah di Kabupaten Pekalongan terendam banjir sejak Rabu (19/2/2020) petang. Banjir di belasan desa di Kota Santri ini hingga Kamis (20/2/2020) sore kemarin sebagian besar belum surut.

Berdasarkan data yang diperoleh Radar, banjir sedikitnya merendam belasan desa di tujuh kecamatan di Kabupaten Pekalongan, yakni di Kelurahan Pekajangan dan Desa Ambokembang di Kecamatan Kedungwuni; Kelurahan Sragi, Tegalontar, Klunjukan, Gebangkerep, Purwodadi, dan Desa Bulakpelem di Kecamatan Sragi; Dusun 5, Desa Sembungjambu, Kecamatan Bojong; dan Desa Bebel, Kecamatan Wonokerto.

Berdasarkan data BPBD hingga kemarin sore, sembilan desa di tiga kecamatan lainnya juga terendam banjir. Yakni, Desa Mejasem, Kecamatan Siwalan (257 rumah, 367 KK), Desa Tengengwetan, Kecamatan Siwalan (556 rumah, 1000 KK), Desa Pait, Kecamatan Siwalan (130 rumah, 130 KK), Desa Pucung, Kecamatan Tirto (60 rumah, 122 KK), Desa Samborejo, Kecamatan Tirto (110 rumah, 121 KK), Desa Pacar, Kecamatan Tirto (632 rumah, 990 KK), Desa Karangjompo, Kecamatan Tirto (300 rumah, 491 KK), Desa Tegaldowo, Kecamatan Tirto (255 rumah, 325 KK), dan Kelurahan Bener, Kecamatan Wiradesa (20 rumah, 30 KK).

Sebanyak 240 Warga Desa Pacar, Kecamatan Tirto, kemarin, mengungsi ke Masjid PT Dupantek. Ketinggian banjir sendiri antara 20 cm hingga 90 cm. Banjir diakibatkan intensitas hujan yang tinggi, sehingga air meluap dari sejumlah sungai dan saluran drainase.

Camat Sragi Khasanudin, kemarin siang, menerangkan, banjir dengan ketinggian sekitar 15 cm hingga 30 cm di antaranya terjadi di Kelurahan Sragi, Desa Gebangkerep, Tegalontar, dan Desa Bulakpelem. Desa-desa itu, kata dia, merupakan langganan banjir saat musim hujan.

“Ketinggian banjir rata-rata selutut orang dewasa. Dibanding banjir kemarin ini lebih kecil. Tidak ada pengungsian di Kecamatan Sragi, namun anak-anak sekolah di wilayah banjir terganggu proses belajar mengajarnya. Banjir akibat luapan Sungai Sragi Lama dan Baru,” terang dia.

Sementara itu, Sigit Hadi Lesmono, warga Desa Karangjompo, Kecamatan Tirto, mengatakan, kondisi banjir di Desa Karangjompo agak besar. Dikatakan, banjir melanda tiga RT, yakni di RT 1,2, dan 3 di RW 5.

“Ketinggian banjir di dalam rumah sekitar 20 cm. Air mulai masuk pada Rabu (19/2/2020), sekitar pukul 17.00 WIB, dan sampai pagi hingga sekarang belum surut,” kata dia.
Dikatakan, banjir disebabkan air hujan dan rob, diperparah dengan meluapnya Sungai Meduri. “Kondisi warga tidak bisa masak, tidur susah, bahkan buang air besar saja susah,” kata dia.

Ia berharap, banjir yang telah melanda desanya dalam kurun lima tahun lebih itu bisa diatasi oleh pemerintah. Akibat menjadi langganan banjir dalam kurun waktu yang lama, lanjut dia, banyak rumah warga rusak.

“Kami juga berharap ada bantuan pompa di desa kami, sehingga air yang masuk pemukiman bisa dibuang ke Sungai Meduri. Saat ini hanya ada satu pompa, dan itu belum cukup,” ujar dia.

Ditambahkan, hingga kemarin belum ada warga di desanya yang mengungsi. Pihak desa, kata dia, sudah mendirikan posko dan dapur umum di sekitar Meduri Asri.

Sementara itu, Kades Pacar, Kecamatan Tirto, Mulyono, mengatakan, hujan deras membuat 4 RT di desanya, yakni RT 2 hingga RT 6 tergenang banjir. Menurutnya, jumlah rumah yang terendam sekitar 632 rumah, dengan rata-rata ketinggian banjir 50 cm hingga 80 cm.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here