Benarkah BPIP Akan Mengganti Salam Keagamaan dengan Salam Pancasila?

Prof Yudian Wahyudi
Prof Yudian Wahyudi

JAKARTA – Beberapa hari terakhir muncul pemberitaan di berbagai media massa mengenai pernyataan Kepala BPIP Prof Yudian Wahyudi terkait salam umat Muslim yaitu Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Pemberitaan yang berasal dari wawancara “Blak-blakan Kepala BPIP: Jihad Pertahankan NKRI” di sebuah media online pada Rabu (12/2) menjadi ramai dan kontroversial karena diviralkan di media sosial dan group-group Whatsapp dan dikesankan bahwa Kepala BPIP akan mengganti Assalamualaikum Wr Wb dengan Pancasila.

Wawancara tersebut di atas dilakukan beberapa hari sebelum Kepala BPIP melakukan Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi II DPR RI pada Selasa (18/2). Jadi  dalam kaitan ini Kepala BPIP tidak membuat pernyataan baru setelah RDP dengan Komisi II DPR RI.

Untuk itu, marilah kita simak petikan pernyataan Kepala BPIP di video Detik.com tanggal 12 Februari 2020 tersebut, mulai menit 29.08 hingga 32.56 sebagai berikut:

”Daud Jusuf (Menteri Pendidikan di era Orde Baru) ketika menjadi jadi Menteri tidak pernah sekalipun mengucapkan Assalamualaikum di hadapan publik. Tapi ketika (bertemu) pribadi fasih betul (mengucapkan Assalamualaikum). Mungkinkah nilai-nilai semacam Daud Jusuf ini dihidupkan kembali?,” begitu pertanyaan presenter detik.com Aleksander Sudrajat.

Prof Yudian Wahyudi
Prof Yudian Wahyudi

”Dulu kita sudah mulai nyaman dengan Selamat Pagi (sebagai salam nasional). Tapi sejak reformasi diganti dengan Assalamualaikum, total, maksudnya dimana-mana, tidak peduli ada orang Kristen Hindu, pokoknya hajar saja. Tapi karena mencapai titik ekstrimnya maka sekarang muncul kembali. Kita kalau salam sekarang ini harus 5 atau 6 (sesuai dengan agama-agama). Nah ini jadi masal;ah baru lagi,” ujar Prof Yudian.

”Sekarang sudah ditemukan oleh siapa gak tau Yudi latief atau siapa yang lain (yang namanya) Salam Pancasila,” tambah Prof Yudian

”Jadi sependapat dengan Salam Pancasila?” sela presenter

“Iya, Salam Pancasila. Salam itu kan maksudnya mohon ijin atau permohonan kepada seseorang sekaligus mendoakan agar kita selamat. Itulah makna salam. Nah Bahasa Arabnya Assalamualaikum Wr Wb,” ujar Proif Yudian.

Untuk menjelaskan pernyataannya, Kepala BPIP menambahkan sebagai berikut ”Sekarang kita ambil contoh, ada hadis. Kalau anda sedang berjalan dan ada orang duduk, maka ucapkan salam. Itu kan maksudnya adaptasi sosial,” terangnya.

”Itu di jaman agraris. Sekarang jaman industri dengan teknologi digital. Sekarang mau balap pakai mobil, salamnya pakai apa? Pakai lampu atau klakson. Kita menemukan kesepakatan-kesepakatan bahwa tanda ini adalah salam. Jadi kalau sekarang kita ingin mempermudah, seperti dilakukan Daud Jusuf, maka untuk di public service, cukup dengan kesepakatan nasional, misalnya Salam Pancasila. Itu yang diperlukan hari-hari ini. Daripada ribut-ribut itu para Ulama, kalau kamu ngomong Shalom  berarti kamu jadi orang Kristen,” jelas Kepala BPIP

”Wong Nabi Muhammad SAW saja mendoakan raja Najasi yang Kristen saat wafat. Ada unsur kemanusiaan. Nah kita juga begitu, ngomong Shalom tidak ada unsur teologisnya. Wong kita sampaiukan (salam) supaya kita damai. Maaf, bagi orang Kristen mengucapkan salam juga tidak menjadi bagian teologis. Itu kode nasional yang tidak masuk dalam akidah. Kalau bisa dipakai tidak masalah,” pungkas Kepala BPIP itu.

Dari pernyataan Prof. Yudian seperti tersebut di atas jelas sekali tidak ada satupun narasi yang semata menyatakan penggantian Assalamualaikum dengan Salam Pancasila. BPIP tidak pernah mengusulkan penggantian Assalamualaikum dengan Salam Pancasila. Yang disampaikan adalah mengenai kesepakatan-kesepakatan nasional mengenai tanda dalam bentuk salam dalam pelayanan publik, dalam kaitan ini kesepakatannya adalah Salam Pancasila.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here