Beranda Nasional Tak Ada Penderita Corona

Tak Ada Penderita Corona

- Advertisement -
- Advertisement -

JAKARTA – Pemerintah kembali menegaskan tak ada pasien yang terjangkit virus corona (COVID-19). Hampir seluruh spesimen suspect atau diduga terpapar corona dinyatakan negatif.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy mengatakan sebanyak 104 spesimen suspect Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) dari seluruh Indonesia telah diperiksa dan diteliti Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Hasilnya sebanyak 102 spesimen dinyatakan negatif. Sedangkan sisanya masih dalam proses pemeriksaan.

“Sampai saat ini laporan Pak Dirjen Kementerian Kesehatan sudah ada 104 spesimen, atau 104 sampel seluruh Indonesia sudah diperiksa di laboratorium pusat penelitian penyakit infeksi Kementerian Kesehatan, dari jumlah tersebut 102 dinyatakan negatif, dan dua masih proses,” katanya di gedung Bina Graha Jakarta, Senin (17/2).

BACA JUGA: 12 Pengunjung Positif Narkoba, Black Owl Ditutup Pemprov DKI

Dia menambahkan bahwa Kemenkes terus mendapatkan spesimen dari seluruh penjuru Tanah Air. Dan hingga saat ini tidak ada yang positif COVID-19.

“Kita selalu dapat kiriman spesimen dari seluruh Indonesia dan mudah-mudahan tidak ada yang terjangkit virus corona,” katanya usai rapat koordinasi di Kantor Staf Kepresidenan bersama Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko, Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto, dan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan Heru Pambudi.

Dilanjutkannya, dalam upaya pencegahan penyebaran virus COVID-19, hal yang harus dilakukan adalah memperketat pengawasan di pintu masuk negara.

“Dan menelusuri riwayat perjalanan orang-orang yang akan masuk ke Indonesia, terutama sesuai dengan standar Kementerian Luar Negeri, misalnya mereka yang dalam 14 hari terakhir pernah berada di pusat sumber wabah yaitu di mainland China (China daratan) jadi itu akan kita perhatikan betul,” terangnya.

Selain itu, Muhadjir juga mengimbau agar masyarakat tak panik dengan merespon kabar yang belum tentu kebenarannya mengenai penularan COVID-19.

“Jangan panik dan chaos (kacau) seperti ramai-ramai memborong masker padahal anjuran Pak Menkes yang bermasker adalah mereka yang sakit dan yang memiliki risiko sakit karena tugas pelayanannya. Kalau tidak keduanya ya tidak perlu pakai masker, kecuali kalau mereka punya duit banyak, jangan sampai orang-orang memanfaatkan peluang dalam kondisi seperti ini,” katanya.

Terlebih kata dia, Indonesia telah memiliki reagen standar untuk pemeriksaan spesimen pasien yang diduga terserang COVID-19.

“Reagen primer yang digunakan dengan Indonesia kerja sama CDC di Atlanta, Amerika Serikat, jadi tidak benar diragukan kemampuannya. Kita punya jatah antisipasi yang cukup kalau dibutuhkan dan seluruh rumah sakit kita memiliki kesiapan,” katanya.

Bahkan, sebagian rumah sakit di Indonesia, sudah menyiapkan ruang isolasi khusus untuk menangani pasien yang diduga terserang COVID-19.

“Ruang isolasi bertekanan negatif hanya untuk pasien gawat, kalau yang belum gawat cukup di ruangan isolasi biasa dan jumlah bed (tempat tidur) ruang isolasi negatif ada 227 bed jadi cukup, Insya Allah hingga wabah berakhir Indonesia terhindar dari wabah ini,” tegasnya.

Pada kesempatan yang sama, Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menegaskan 135 pintu masuk ke wilayah Indonesia sudah diawasi dengan ketat.

“Kami tetap di pintu-pintu penjagaan, terus menerus mewaspadai lalu-lintas orang melalui 135 pintu masuk. Dari kesehatan menjadi palang pintu depan mengecek secara langsung secara visual apa-apa, maupun melakukan pemeriksaan, ya kita sambil berdoa bersama semoga tetap tidak ada yang masuk,” katanya.

Selain itu, mempersiapkan pemeriksaan dan labaoratorium pendukung jika ada yang diduga terserang COVID-19.

“Termasuk pengecekan di laboratorium yang ada juga dipantau WHO dan kita memang sudah sangat memenuhi syarat. Semua antisipasi sudah dilakukan dan saya yakin ini membuat kita menjadi bangsa yang terus bersyukur karena mendapat perlindungan dan penjagaan dari Tuhan Yang Maha Esa,” katanya.

Ia mengatakan bahwa Pemerintah Indonesia juga bekerja sama dengan negara lain yang melaporkan kasus positif COVID-19.

“Kita bekerja sama dengan kementerian dan imigrasi dari Singapura juga, mereka memberi warning (peringatan) mana warga yang terkontak dan Singapura bukan episentrum,” katanya.

Terawan mengatakan menurut Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO episentrum COVID-19 hanya China daratan.

“Kami bekerja sama dengan imigrasi dan kementerian dengan melakukan warning dan selalu mengecek karena tidak ada satu negara pun yang membiarkan warganya yang sakit masuk ke negara lain, jadi jangan khawatir,” katanya.

Sementara Direktur Izin Tinggal Keimigrasian Kementerian Hukum dan HAM Bambang Widodo menjelaskan semenjak ada wabah COVID-19, sedikitnya 109 orang ditolak masuk Indonesia.

“Yang sudah ditolak ada 109 orang. Kenapa ditolak? Karena berdasarkan pemeriksaan paspor mereka pernah tinggal 14 hari di mainland (China daratan) sejak akhir Januari hingga sekarang,” katanya.

BACA JUGA: Survei: Prabowo Subianto Menteri yang Paling Populer dengan Kinerja Terbaik

Rinciannya, kata Bambang, sebanyak 85 orang ditolak masuk di Bandara Ngurah Rai, 13 ditolak masuk di Bandara Soekarno Hatta, lima orang ditolak masuk di Bandara Juanda Surabaya, lima orang ditolak masuk di Bandara Kualanamu Medan, dan satu orang ditolak di pelabuhan Batam.

Selain itu ada 36 orang yang visanya ditolak di imigrasi, meliputi tujuh warga Rusia, satu warga Rumania, empat warga Brazil, satu warga Tiongkok, tiga warga Armenia, satu warga Selandia Baru, dua warga Ukraina, tiga warga Inggris, dua warga Maroko, enam warga Kazakhstan, dua warga Amerika Serikat, satu warga Ghana, satu warga Australia, satu warga Kanada, dan satu warga Maladewa.

“Mereka yang ditolak masuk ke Indonesia, dikembalikan ke bandara terakhir yang didatangi,” katanya.(gw/fin)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Terbaru

[300x250]