Pendiri OCBC NISP Wafat

Foto: (www.ocbcnisp.com)

JAKARTA – Founding Chairman PT Bank OCBC NISP Tbk Karmaka Surjaudaja (Kwee Tjie Hoei) meninggal dunia pada Senin (17/2) pukul 15.25 WIB, di Bandung, Jawa Barat. Dari pernyataan resmi manajemen Bank OCBC NISP yang diterima Karmaka Surjaudaja menghembuskan nafas terakhir pada usia 85 tahun.

”Kami sangat kehilangan sosok pemimpin yang ramah, rendah hati, dan bersahaja. Selama kepemimpinan, beliau menjadi teladan yang baik bagi seluruh keluarga besar Bank OCBC NISP,” demikian pernyataan resmi OCBC NISP.

Adapun, informasi mengenai pemakaman akan dikomunikasikan lebih lanjut oleh manajemen perusahaan. Sementara mengutip dari situs resmi perusahaan, Bank OCBC NISP, yang sebelumnya dikenal dengan nama Bank NISP, merupakan bank tertua keempat di Indonesia, yang didirikan pada 4 April 1941 di Bandung dengan nama NV Nederlandsch Indische Spaar En Deposito Bank.

Keberadaan Bank OCBC NISP di industri Perbankan Indonesia selama lebih dari 78 tahun tidak lepas dari sosok Karmaka Surjaudaja dan Lelarati Lukman.

BACA JUGA: Kinerja 100 Hari Digerus Isu Ekonomi

Karmaka Surjaudaja mulai mengelola Bank pada tahun 1963 dengan jabatan Direktur Operasional. Di tengah kondisi Indonesia yang sedang bergejolak saat itu, Bank tumbuh dengan sehat dan berhasil melalui beberapa krisis, salah satunya sanering pada tahun 1965.

Keberhasilan ini membawa Karmaka Surjaudaja diangkat menjadi Presiden Direktur pada tahun 1971–1997 dan Presiden Komisaris pada tahun 1997– 2008.

Kesuksesan Karmaka Surjaudaja juga terinspirasi oleh Lelarati Lukman, sang pendamping yang setia mendukungnya dalam mengelola Bank. Lelarati Lukman menjabat sebagai Komisaris tahun 1982 – 2011.

Atas pengabdian dan pengorbanannya yang luar biasa selama lebih dari 40 tahun, Karmaka Surjaudaja dan Lelarati Lukman diberikan gelar Chairman Emeritus serta Commissioner Emeritus, dan Senior Advisor di Bank OCBC NISP pada tahun 2008. Sejak tahun 2015 kemudian berubah menjadi Founding Chairman dan Founding Chairwoman.

Walaupun mereka tidak lagi menjabat secara struktural, tapi landasan, nilai, dan budaya yang diterapkan keduanya terus melekat dalam hati seluruh keluarga besar Bank.

Sejak awal pendirian, Bank dijalankan dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian dan fokus untuk melayani segmen Usaha Kecil dan Menengah (UKM). Pada tahun 1967, Bank menaikkan status operasionalnya dari Bank tabungan menjadi Bank komersial.

Peningkatan status tersebut didukung atas keberhasilan perusahaan yang terus bertumbuh di tengah kondisi kekacauan ekonomi dan politik yang kurang kondusif pada tahun itu. Sejalan dengan perkembangan yang dicapai, Bank kemudian dinaikkan statusnya menjadi Bank devisa pada tahun 1990.

Dalam rangka mengantisipasi pasar yang makin terbuka dan persaingan serta memperkuat struktur permodalan, Bank mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (dahulu Bursa Efek Jakarta) pada tahun 1994. Pencatatan saham ini menjadikan Bank sebagai perusahaan terbuka. (fin/ful)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here