Tanggulangi Stunting melalui Pendekatan Kesehatan Lingkungan

PT Reckitt Benckiser Indonesia bersama Center of Public Health Innovation, Faktultas Kedokteran Universitas Udayana sepakat melakukan kerjasama untuk secara aktif berpatisipasi dalam rencana kerja nasional terkait stunting. Foto: Reckitt Benckiser for FIN

GIANYAR- Upaya penanggulangan stunting adalah agenda prioritas nasional, bahkan dalam RPJMN tahun 2020-2024 dicanangkan target pencapaian 6,5 persen angka kemiskinan. Dan 14 persen lainnya angka prevalensi stunting hingga pengujung tahun 2024. Tahun 2019 angka prevalensi stunting nasional berada pada level 27,67 persen.

Sebagai bagian dari pelaku usaha di Indonesia, PT Reckitt Benckiser (RB) Indonesia bersama Center of Public Health Innovation (CPHI) Faktultas Kedokteran Universitas Udayana sepakat melakukan kerjasama untuk secara aktif berpatisipasi dalam rencana kerja nasional terkait stunting.

Diawali pada tahun 2019 lalu telah ditandatangani Nota Kesepahaman antara Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) dengan RB tentang Program Tanggung Jawab Sosial Perusahaan dalam Upaya Mendukung Pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) melalui edukasi dan pemberdayaan masyarakat.

Untuk dapat menjalankan amanah yang diberikan Kemenkes RI, maka RB memutuskan untuk menjalin kemitraan strategis dengan CPHI yang juga memiliki misi yang sama dalam peningkatan kesehatan masyarakat di Indonesia.

“CPHI sebagai bagian dari Fakultas Kedokteran Universitas Udayana menyambut positif kerjasama lintas pemangku kepentingan yang akan terlibat dalam project di Desa Lebih, Kabupaten Gianyar ini. Kami percaya lewat kolaborasi masyarakat, desa adat, dan seluruh kader akan menjadikan upaya ini memberikan dampak bagi masyarakat, khususnya desa Lebih kabupaten Gianyar,” terang Ketua CPHI Universitas Udayana dr. Pande Januraga MKes, DrPH.

Dari berbagai kajian dan data yang telah dipublikasikan pada tahun 2019, diperkirakan tingkat prevalensi stunting di Kabupaten Gianyar adalah 9-12 persen, jauh lebih baik dari publikasi RISKESDAS 2013.

Desa Lebih telah berkomitmen mengalokasikan APBDES sebesar lebih dari 280 juta untuk menanggulangi stunting yang terjadi di warganya. Hal ini tentu perlu terus diperkuat dengan kolaborasi lintas pemangku kepentingan untuk semakin mempercepat peningkatan kualitas kehidupan masyarakat khususnya di Desa Lebih.

”Ada kebanggaan desa Lebih terpilih menjadi lokasi project Keluarga Sehat Indonesia Kuat dari PT Reckitt Benckiser Indonesia. Kami berterima kasih, dan siap berkerjasama agar masyarakat bisa lebih baik,” tegas Kepala Desa Lebih I Wayan Geria.

Dalam sarasehan peluncuran program pada 12 Februari 2020 di Kantor Kepala Desa Lebih, Gianyar, RB menilai masyarakat Desa Lebih memiliki semangat yang luar biasa dalam berkolaborasi selama perencanaan program bersama mitra CPHI, Fakultas Kedokteran Universitas Udayana.

Target untuk peningkatan kualitas kesehatan lingkungan lewat pendekatan STBM diharap mampu mendukung pencapaian positifi penurunan prevalensi stunting yang ada saat ini. Sarasehan ini turut dihadiri Kepala Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi Propinsi Bali drg. Nyoman Wiradharma, M.Erg. dan perwakilan dinas-dinas terkait di Kabupaten Gianyar.

”Sejalan dengan misi global RB untuk membawa perbedaan dengan memberikan solusi inovatif, dan dengan kepercayaan yang diberikan kami siap membagikan praktik-praktik terbaik dalam tata kelola kesehatan lingkungan, dan sanitasi. Harapannya, kami dapat mendukung pencapaian pemerintah pusat maupun daerah. RB Indonesia melalui produk-produk kesehatan dan kebersihan seperti sabun antiseptik/antibakteri sebagai komitmen untuk turut mewujudkan Indonesia Sehat melalui keluarga yang sehat dengan mendukung berbagai inisiatif bidang kesehatan dan sanitasi,” tutup Director CSR Project PT Reckitt Benckiser dr. Helena Wonohadi. (wsa/fin)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here