18, September, 2021

Sehari Minimal Muncul Empat Berita Bohong

JAKARTA – Sebaran kabar bohong alias hoaks tidak ada matinya. Apalagi terkait virus corona. Ini seperti lahan subur bagi penyebar informasi sesat. Motifnya sederhana, membuat gaduh situasi dan kondisi publik. Bayangkan, dalam jejaring media sosial hingga kemarin (12/2) saja, data yang teridentifikasi dan telah divalidasi lewat mesin sensor konten negatif AIS, ditemukan 86 disinformasi.

Kepala Biro Humas Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo) Ferdinandus Setu mengatakan Hasil temuan hoaks, disinformasi dan kabar bohong terkait virus corona tersebar di beberapa daerah di Tanah Air seperti di Jakarta, Depok, Bandung, Jogjakarta, Semarang, Surabaya, Solo, Jember, Jombang dan Tulungagung, Makassar, Medan, Palembang, Tarakan, Pontianak, Lombok hingga Banda Aceh.

”Jika dilihat dari rata-rata temuan hoaks terkait virus Corona yang diidentifikasi dan divalidasi oleh Kementerian Kominfo terdapat empat hingga enam hoaks setiap harinya,” terangnya dipertegas dalam keterangan tertulis yang diterima Fajar Indonesia Network, Rabu (12/2).

Beragam jenis hoaks yang disebarkan misalnya, pasien terinfeksi virus corona di RS maupun tersebar lewat bandara dan tempat-tempat umum. Contoh hoaks yang ditemukan pada Selasa (11/2), misalnya, beredar di media sosial Facebook yang menyebutkan ada Tenaga Kerja Asing (TKA) asal Tiongkok ditemukan meninggal dunia karena virus corona di pembangunan proyek Apartemen Meikarta, Cikarang Selatan.

BACA JUGA: Dampak Virus Corona, FIA Coret Grand Prix Cina

Hal tersebut dibantah oleh Kapolres Metro Bekasi Kombes Hendra Gunawan yang mengatakan bahwa, TKA Tiongkok yang meninggal disebabkan karena faktor kecelakaan kerja, bukan karena virus corona.

Sebelumnya, Kementerian Kominfo telah melakukan konferensi pers terkait hoaks virus corona pada Senin (3/2), yang mengungkapkan sebanyak 54 informasi hoaks, disinformasi dan kabar bohong tersebar melalui media sosial dan platform pesan instan.

Kemudian, jumlah tersebut bertambah menjadi 86 hoaks per tanggal 12 Februari 2020. ”Kami kembali mengimbau warganet untuk ikut memantau penyebaran informasi seputar virus corona,” pintanya. Untuk diketahui, proses identifikasi atas beredarnya hoaks virus corona dilakukan sejak 23 Januari 2020, di mana ditemukan pesan berantai yang disebarkan melalui media sosial dan platform pesan instan.

Masih berkaitan dengan kabar bohong tersebut, Polres Singkawang memeriksa lima orang saksi terkait penyebaran informasi bohong soal ada pasien yang dicurigai (suspect) mengidap virus corona di RSUD Abdul Aziz Singkawang, beberapa waktu lalu. ”Informasi itu dinilai telah meresahkan masyarakat, karena seolah-olah di Singkawang sudah ada virus corona yang sangat mematikan itu,” kata Kepala Polres Singkawang, AKBP Prasetiyo Wibowo.

BACA JUGA: Kemiskinan dan Pengangguran di Babel Turun?

Polisi menyelidiki dan memeriksa penyebaran kabar bohong itu, lantaran usai kejadian itu, Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana bersama manajemen RSUD Abdul Aziz Singkawang membuat laporan tentang informasi itu. ”Hingga kini kami masih menyelidiki dengan melibatkan saksi ahli, apabila kami sudah mengantongi alat-alat bukti yang cukup, maka kasus tersebut akan kami tingkatkan ke penyidikan,” ujarnya.

Pada dasarnya, lanjut dia, polisi sangat mendukung upaya pemerintah Kota Singkawang dalam mengantisipasi dan menangkal informasi bohong di media sosial mengenai virus corona. ”Sekali lagi kami mengimbau kepada seluruh pengguna media sosial, agar lebih bijak dan cerdas didalam menggunakan media sosial, karena sudah tidak zamannya lagi harus narsis supaya lebih eksis di dunia maya,” katanya.

Sebelumnya, Wali Kota Singkawang, Tjhai Chui Mie, meminta polisi mencari dan mendapatkan pelaku yang sudah membuat informasi bohong yang menyebutkan terjadi di RSUD Abdul Aziz Singkawang. ”Karena informasi tersebut sudah meresahkan masyarakat Singkawang,” tegasnya. (fin/ful)

Rekomendasi Berita Terbaru

Populer