Waspadai Perdagangan Anak Bermodus Portal Job

    JAKARTA – Tahun 2020 kasus tindak pidana perdagangan orang (TPPO) dan eksploitasi pada anak belum kunjung mereda. Dalam sistem data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) sepanjang tahun 2019 tercatat 244 kasus dengan jumlah kasus tertinggi adalah anak korban Eksploitasi Seksual Komersial Anak sebanyak 71 kasus. Disusul anak korban prostitusi 64 kasus, anak korban perdagangan 56 kasus dan anak korban pekerja 53 kasus.

    Pada kasus anak korban prostitusi di Penjaringan Jakarta Utara KPAI melakukan pengawasan rehabilitasi psiko social yang kini sedang mereka jalani di bawah naungan Kementerian Sosial (Kemensos) RI.

    Komisioner KPAI Bidang Trafficking dan Eksploitasi Ai Maryati Solihah, menjelaskan modus awal mereka direkrut melalui modus job seeker di media social untuk pegawai restoran, toko kosmetik hingga penjaga toko busana yang tidak ada hubungannya dengan kegiatan transaksi seksual. “Namun saat mereka datang, dipaksa harus mengikuti perintah ‘Mami’, semua alat komunikasi dirampas, 2 bulan pertama tidak dibayar, dan semua kebutuhan korban yang diberikan menjadi hutang,” kata Ai di Jakarta, Minggu (26/1).

    Ia menuturkan profil korban hampir sama yakni rata-rata mereka adalah anak putus sekolah, usia 14 tahun sampaidengan 18 tahun, berasal dari Banten, Jawa Barat dan Jawa Tengah. Dari hasil pengawasan KPAI menyampaikan bahwa korban sedang menjalani pemulihan rehabilitasi psiko-sosial untuk kesehatan fisik, terutama kesehatan reproduksi, psikis dan psikologis. “Korban belum seluruhnya bisa terhubung dengan orangtua dikarenakan diantaranya ada yang tidak hafal alamat rumah,” ujar Ai.

    Saat ini, kata ia korban membutuhkan perlindungan saksi dan korban untuk melindungi seluruh keterangan yang mereka berikan serta kerugian yang selama ini mereka derita. “KPAI telah melakukan koordinasi dengan LPSK untuk segera memberikan layanan tersebut,” tuturnya.

    KPAI menuturkan bahwa Polda Metro Jaya terus mengembangkan kasus ini, melakukan cyber patroli secara intens pada kejahatan tipu daya bermodus job seeker online. Sebab kemungkinan masih marak tipu daya rekrutmen untuk menjerat korban anak. ”Polisi sudah menetapkan 6 orang pelaku, yang menghasilkan manfaat material dengan omzet hampir 2 Milyar, sehingga kejahatan yang mereka lakukan terlihat sangat sistematis,” kata Ai.

    UU No 21 Tahun 2007 tentang TPPO mengatur jika anak menjadi korban maka pelaku dijerat hukuman maksimal 15 tahun dan penambahan 1/3 serta denda, untuk efek jera di masyarakat.

    KPAI menghimbau kepada masyarakat, pengguna internet dan media social untuk hati-hati serta memastikan portal yang menginformasikan lowongan kerja aman dan dapat dipertanggungjawabkan, tidak mudah diiming-iming dan bujuk rayu pada pekerjaan yang belum jelas. ”Peran orangtua perlu ditingkatkan dalam mendampingi dan mengawasi anak yang menggunakan media social,” terangnya.

    Sementara itu, Pendiri Yayasan Semai Jiwa Amini (SEJIWA), Diena Haryana mengungkapkan hasil temuan yang di lapangan menunjukkan, isu asusila seperti pornografi serta eksploitasi seksual telah berdampak terhadap anak-anak sebagai korban. ”Pada Oktober 2019, Sulawesi Utara, lima pasangan anak berusia tujuh tahun, melakukan hubungan seksual bersama-sama, karena mereka mengikuti apa yang mereka lihat pada gadget mereka,” kata Diena.

    Ia menjelaskan, penggunaan gawai (gadged) tanpa pendampingan di usia dini bisa jadi sumber permasalahan. Pembiaran banyak terjadi karena orangtua tidak menyadari adanya konten-konten negatif di sosial media. ”Minimnya pendampingan anak dari orangtuanya di ranah daring, di mana orangtua justru memberikan gadget pada anak-anaknya agar mereka tidak mengganggu, atau agar mereka diam tenang,” katanya.

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here