Statement Trump Kembali Bikin Gaduh

FOTO: AFP KECAM TRUMP: Pernyataan AS Donald Trump memancing reaksi dunia. Aksi mengutuk Donald Trump pun dilakukan oleh demonstran di Bagdad, kemarin.

JAKARTA – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump lagi-lagi bikin kontroversi. Setelah sebelumnya Timur Tengah sempat dingin pasca Iran meluncurkan rudalnya ke markas tentara AS di Irak, kini Trump melancarkan aksi dengan menolak bernegosiasi dengan Iran dan menyatakan tidak akan mencabut sanksi terhadap negara itu, kata Presiden AS Donald Trump, Minggu (26/1).

Pernyataan Trump itu tampaknya merespons wawancara majalah Jerman, Der Spiegel, dengan menteri luar negeri Iran. ”Menteri Luar Negeri Iran mengatakan ingin bernegosiasi dengan AS, namun ingin juga sanksi dicabut. @FoxNews @OANN, tidak, terima kasih!” tulis Trump dalam sebuah cuitan di Twitter dengan bahasa Inggris, disusul dengan bahasa Persia.

Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif kemudian membalas cuitan Trump pada Minggu melalui cuitan berisi kutipan wawancaranya dengan Der Spiegel, yang terbit pada Jumat (24/1). Dalam kutipan itu, Zarif mengatakan Iran masih membuka diri untuk melakukan negosiasi dengan AS jika sanksi terhadap negara itu dicabut.

”@realDonaldTrump lebih baik dinasihati untuk berkomentar dan mengambil keputusan soal kebijakan luar negeri berdasarkan fakta, daripada berita utama @FoxNews ataupun penerjemah bahasa Persia,” kata Zarif dalam cuitan yang sama.

Ketegangan antara Iran dan AS meningkat sejak Trump menarik AS dari perjanjian nuklir Iran dengan beberapa negara kuasa dunia pada 2018, serta menerapkan sanksi terhadap Iran yang berakibat pada penurunan ekspor minyak dan tekanan ekonomi negara itu.

Ketegangan itu mencapai puncak pada dekade ini setelah AS membunuh pimpinan militer Iran, Mayor Jenderal Qassem Soleimani, dalam serangan roket di bandara Baghdad pada 3 Januari.Selang beberapa hari, Iran membalas serangan itu dengan menembakkan roket ke pangkalan-pangkalan di Irak yang ditempati pasukan AS.

Nah, di tengah ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat, Israel malah mengeluarkan komentar panas ke Iran. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menuding ancaman Iran sama halnya dengan Nazi. Dirinya juga meminta negara di dunia bersatu dan tegas melawan Iran karena senjata nuklirnya yang mampu menghancurkan Israel. ”Dalam kesempatan ini, saya meminta semua pemerintah bergabung dalam upaya untuk menghadapi Iran, ini harus harus dihadapi serius,” ujarnya Netanyahu sebagaimana dikutip dari AFP.

Netanyahu juga mendukung langkah militer yang sudah dilakukan Presiden AS Donald Trump. Di depan Wakil Presiden AS Mike Pence dirinya menyampaikan rasa hormat kepada presiden kontroversial itu. ”Akan ada gerakan bahwa Israel akan melakukan apa pun yang harus dilakukan untuk mempertahankan negara kami, membela rakyat kami, dan membela masa depan Yahudi,” timpalnya.

Israel merupakan negara yang menentang kesepakatan nuklir Iran pada 2015 silam. Netanyahu memberikan apresiasi saat Trump menarik diri dari perjanjian tersebut pada 2018 dan mendorong kekuatan Eropa untuk mengikuti jejak Washington.

Iran dan sejumlah negara menandatangani Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) di 2015. Perjanjian itu dilakukan dengan China, Prancis, Rusia, Inggris, AS, termasuk Jerman dan negara Uni Eropa.

JCPOA membatasi penelitian uranium nuklir Iran selama delapan tahun. Selain itu, Iran juga dibebaskan dari semua sanksi internasional. Namun di 2018, Presiden AS Donald Trump merevisi kembali JCPOA. Trump menilai perjanjian itu tak cukup mengerem nuklir Iran. Akibatnya,Trump menarik AS dari perjanjian. Tidak hanya itu, Iran pun dijatuhi sanksi ekonomi, yang menyebabkan ekonomi negara tersebut terpuruk.

Akibat tekanan dari AS, Iran terus melanjutkan program nuklirnya. Eropa pun berupaya untuk menyelamatkan perjanjian tersebut. Namun, Iran mengajukan syarat khusus pada Eropa. Iran menagih dana sebesar US$ 15 miliar, sebagai mana dijanjikan Prancis. Prancis memang sempat mengusulkan pemberian kredit sebesar US$ 15 miliar hingga akhir 2019 jika Teheran mau kembali mematuhi perjanjian nuklir tahun 2015.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here