Waspada Gejala Aritmia

Foto: pixabay

JAKARTA – Jika seseorang kerap mengeluh jantung berdebar-debar, pusing, atau bahkan sering pingsan, maka hal itu dapat berpotensi menderita penyakit aritmia. Ini adalah gangguan irama jantung yang terjadi akibat pembentukan dan atau penjalaran impuls listrik sehingga memunculkan denyut jantung yang tidak beraturan. Denyut jantung berdetak cepat disebut takiaritmia, sebaliknya denyut jantung yang melambat dikenal sebagai bradiaritma.

Dokter spesialis kardiovaskular dr. Sunu Budhi Raharjo menjelaskan, jantung berdebar merupakan keluhan awal yang paling sering dirasakan pasien baik anak-anak maupun orangtua.

“Harus diidentifikasi berdebarnya apakah normal atau tidak. Termasuk kliyengan yang dirasakan serta keluhan pingsan bisa saja pingsan akibat kondisi lain,” jelas dr. Sunu dalam acara talkshow “MMC Hospital Introducing: Integrated Cardiovascular Centre” di Jakarta, Kamis (23/01).

Menurutnya, rasa pusing yang dialami bisa terjadi akibat suplai darah ke otak berkurang atau memang denyut jantung yang tidak normal. Sayangnya, aritmia kerap tidak terdeteksi, padahal bila tidak tertangani dengan baik dapat menyebabkan kerusakan otak secara permanen hingga kematian mendadak.

Aritmia yang paling sering terjadi adalah fibrilasi atrial (AF). Prevalensi AF di Indonesia sebesar 2,2 juta orang, dan 40 persen diantaranya berisiko mengalami stroke, apabila tak segera mendapatkan penanganan medis. Lebih jauh Riset dari New England Medical Journal (2001) menyebutkan bahwa PJK merupakan penyebab 20-30% gangguan irama jantung dan dapat berakhir dengan kematian mendadak.

Dokter spesialis kardiovaskular Prof. Yoga Yuniadi menambahkan, bahwa normalnya, jantung berdenyut sebanyak 50-90 kali per menit. Saat jantung berdenyut cepat dia akan berdetak hingga 200 kali per menit. Sementara itu, denyut jantung melambat ketika denyut irama jantung terhitung 40 kali per menit.

Dilanjutkan dokter spesialis jantung Dicky Hanafy, pada pasien muda umumnya aritmia tidak terlalu fatal. Tetapi tetap saja menurunkan kualitas hidup pasien. “Makanya kalau bisa dilakukan tindakan akan lebih baik sebab minum obat jangka panjang tentu ada efek sampingnya,” kata dr. Dicky.

Gangguan irama jantung ini dapat ditangani dengan metode pemasangan Left Atrial Appendage (LAA) Closure, yang diyakini sebagai strategi penanganan terbaik untuk mengurangi kemungkinan terjadinya penggumpalan (pembekuan) darah di serambi jantung kiri (left atrial appendage sac).

Yaitu kantung di kiri jantung dimana sering terjadi pembekuan darah memasuki arteri darah atau pembuluh darah otak dengan melakukan penutupan serambi kantung jantung kiri. Menggunakan alat kecil bernama watchman/amplatzer cardiac plug/lariat.

Di samping menangani kasus aritmia dengan metode LAA Closure, dr. Sunu mengatakan bahwa aritmia dapat ditangani dengan metode Ablasi Kateter Elektronis, yang lebih ampuh untuk menyembuhkan total yang tidak hanya meringankan gejala, dengan tingkat keberhasilan sekitar 97%. Ini merupakan tindakan medis dengan minim invasif (tanpa operasi) bagi penderita aritmia.

Dengan menggunakan kateter elektroda yang akan dipasang di pembuluh darah vena atau arteri di lipatan pangkal paha ditujukan untuk ke jantung, ujung kateter elektroda akan menghancurkan sebagian kecil jaringan sistem hantaran listrik yang mengganggu irama di jantung hingga normal kembali. “Alat ini akan secara akurat mengidentifikasi sumber utama penyakit aritmia secara kasat mata,” ujar dr. Sunu.

Disamping jantung sering berdebar-debar, kliyengan, dan sering pingsan, kelelahan juga bisa menjadi indikasi dari aritmia. Keluhan ini jika dirasakan berlangsung lama. Menurut dr. Dicky semua penyakit umumnya dicirikan dengan kelelahan, namun 20% di antaranya adalah gejala aritmia, yaitu kelainan irama jantung yang tidak reguler. Jika merasakan keluhan tersebut maka sebaiknya Anda segera berkonsultasi ke dokter. Tak main-main, aritmia bisa berakibat kematian mendadak.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here