Pengaruh Cina di Asia Tenggara Meningkat

JAKARTA – Survei ISEAS-Yusof Ishak Institute yang berbasis di Singapura mencatat, adanya kekhawatiran besar terkait meningkatnya pengaruh ekonomi dan politik Cina di Asia Tenggara. Sedangkan, pengaruh Amerika Serikat (AS) dinilai menurun di kawasan.

Hasil survei terhadap pejabat, akademisi, dan profesional di Asia Tenggara tersebut dipublikasikan pada Kamis (16/1).

Dilansir Reuters, survei itu melibatkan 1.300 responden. 60 persen di antaranya tidak memercayai Cina. Jumlah itu naik dibandingkan pada 2019 yang berada di angka 52 persen.

Hampir 40 persen responden berpikir Cina adalah kekuatan revisionis dan berniat untuk mengubah Asia Tenggara menjadi ruang lingkup pengaruhnya.

“Kekhawatiran kawasan ini atas pengaruh Cina yang substansial dan masih terus berkembang berasal dari ketidakpastian cara Cina menggunakan kekuatannya yang sangat besar,” kata Tang Siew Mun dari ISEAS-Yusof Ishak Institute.

Mun mengatakan, keangkuhan Cina di Laut China Selatan dan kegemaran Beijing untuk menjadikan perdagangan sebagai senjata sudah cukup untuk menimbulkan kekhawatiran bahwa Negeri Tirai Bambu itu bangkit tidak dengan cara damai sebagaimana seharusnya.

Adapun responden yang paling tidak memercayai Cina adalah mereka yang berasal dari Vietnam dan Filipina. Kedua negara itu dalam beberapa tahun terakhir terlibat dalam konflik dengan Cina soal klaim laut China Selatan.

Survei itu juga mendapati bahwa hampir 80 persen responden (kebanyakan berasal dari kantor publik, akademisi, dan lembaga think tank), memilih Cina sebagai kekuatan ekonomi paling berpengaruh, naik dari 73 persen pada 2019.

Sementara sekitar 52 persen mengatakan, Cina adalah kekuatan politik dan strategis paling penting, naik dari 45 persen. Namun, sebagian besar dari responden megaku khawatir dengan semakin berkembangnya pengaruh Cina.

Survei itu juga menemukan, bahwa responden menunjukkan keprihatinan terhadap sejumlah isu lain. Hal itu seperti dugaan penganiayaan Cina terhadap Muslim di Xinjiang, penanganan protes pro-demokrasi di Hong Kong, dan penggunaan kekuatan ekonominya.

Laporan itu juga menyebutkan, bahwa isu penting menurut responden adalah masa depan jaringan 5G, Huawei HWT.UL dan perusahaan telekomunikasi Cina lainnya.

Perusahaan telekomunikasi Cina dianggap taruhan yang lebih baik daripada saingan mereka di AS, meskipun Washington menuduh peralatan Huawei dapat digunakan untuk memata-matai.

Terkait jaringan seluler 5G, 40 persen responden lebih menyukai produsen Korea Selatan, Samsung. Meski demikian, Huawei dan perusahaan Cina lainnya lebih disukai daripada pemasok Eropa atau AS. Perusahaan-perusahaan Cina menempati posisi teratas di Laos, Kamboja, dan Malaysia.

Sementara itu, responden yang memilih AS sebagai kekuatan politik utama di Asia Tenggara turun menjadi 27 persen dari angka tahun lalu sebesar 31 persen. Sedangkan, untuk kekuatan ekonomi AS di kawasan, angkanya sama dengan tahun lalu yakni 8 persen.

Bahkan, lebih dari tiga perempat responden mengatakan keterlibatan AS dengan Asia Tenggara menurun di bawah Trump dibandingkan dengan era Barack Obama. (der/rts/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here