Kecanduan Game Online, Bocah ini Disekap & Diborgol di Kandang Ayam

    JAKARTA – Anak yang kecanduan game online di Jember disekap oleh ayahnya di kandang ayam dengan kondisi tanpa busana dan ujung jempolnya diikat. Bahkan sebelum disekap, si anak sempat mengalami kekerasan. Pelaku penyekapan itu yakni Edi Wasito (41), warga Kecamatan Sukorambi, Jember. Sedangkan yang menjadi korban anak laki-lakinya M (12), yang masih kelas 6 SD.

    KPAI Cuma Bisa Prihatin

    Peristiwa ini langsung viral, dan tegas Komisioner Bidang Pornografi dan Cyber Crime Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Margaret Aliyatul Maimunah menyesalkan kejadian tersebut. Margaret mengaku prihatin atas kejadian tersebut, karena pada saat ini banyak kasus anak kecanduan game online, seiring dengan mudahnya akses anak terhadap gadget dan internet. Hal ini tentu saja menjadi perhatian penting bagi banyak pihak, khususnya orang tua.”Bagaimanapun kendali orang tua sangat penting dalam pengawasan dan kontrol terhadap anak yang kecanduan gadget/game online,” kata Margaret di Jakarta, Kamis (16/1).

    Margaret juga menyampaikan bahwa game online tidak hanya memiliki dampak positif bagi anak, tetapi memiliki konten negatif juga terhadap tumbuh kembang anak. Dalam kaitannya penggunaan gadget oleh anak sangat penting dilakukan pengawasan oleh orang tua. ”Game online tidak selalu memiliki konten yang berdampak positif terhadap tumbungkembang anak, sebaliknya banyak game online memiliki dampak negatif pada tumbuhkembang anak karena memiliki muatan pornografi, bermuatan kekerasan, bermuatan perjudian, dan bermuatan perilaku sosial menyimpang,” tutur Margaret.

    Menurut informasi, bahwa Edi Wasito sebelum menyekap anaknya di kandang ayam, ia melakukan kekerasan pada anak, agar jera dan tidak bermain game online lagi. Tentu dalam kondisi apa pun, kekerasan tidak dibenarkan dalam pengasuhan anak, kekerasan tidak akan membuat masalah menjadi selesai, bahkan akan menambah masalah baru dan akan membuat tumbuh kembang anak terganggu. ”Tidak benar, jika kekerasan dijadikan pola dalam pengasuhan anak, termasuk terhadap anak yang kecanduan game online,” ungkap Margaret.

    Ia mengajak kepada seluruh orang tua agar utamakan komunikasi dan diskusi jika anaknya mengalami dugaan kecanduan gadget/game online. ”Jika ada anak yang diduga mengalami kecanduan gadget atau game online, kami mengajak orang tua untuk tidak menegur dengan kekerasan, namun harus mengutamakan komunikasi, diskusi, sharing informasi, arahkan anak kepada hal positif serta bangun komitmen yang baik dengan anak dalam pengaturan penggunaan gadget maupun game online,” kata Margaret.

    KPAI mengajak orang tua menjadi teman yang baik bagi anak dalam penggunaan gadget serta dalam bermain game online yang positif. Sehingga kejadian-kejadian seperti dijember tidak terjadi lagi.

    Ketua KPAI Susanto menambahkan anak bagian dari generasi muda yang merupakan penerus cita-cita perjuangan bangsa sekaligus merupakan modal sumber daya manusia bagi pembangunan nasional sehingga wajib dilindungi dari berbagai dampak negatif atau kekerasan.

    ”KPAI memandang bahwa anak memiliki hak untuk beristirahat dan memanfaatkan waktu luang, bergaul dengan anak yang sebaya, bermain, berekreasi, dan berkreasi sesuai dengan minat, bakat, dan tingkat kecerdasannya demi pengembangan diri, sesuai dengan amanat pasal 11 UU Perlindungan anak,” kata Susanto.

    Ia prihatin dengan adanya kejadian kecanduan game online di Jember yang kemudian mengalami kekerasan oleh orang tuanya sendiri. Bocah M yang sebaiknya direhabilitasi, karena selain mengalami adiksi gadget ia juga mengalami kekerasan. “Anak perlu segera ditangani dengan cara rehabilitasi, karena sudah mengalami kekerasan yang dilakukan oleh ayahnya,” kata Susanto.

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here