DBD Serang Warga Cilegon

Ilustrasi: Pixabay

CILEGON – Kota Cilegon mulai terserang penyakit demam berdarah (DBD). Selama dua pekan terakhir, sudah 22 orang warga yang tercatat menderita penyakit tersebut.

Berdasarkan data yang dihimpun Radar Banten dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Cilegon, 22 orang yang menderita penyakit berasal dari nyamuk aedes aegypti tersebut tersebar di delapan kecamatan di Kota Cilegon. Mayoritas terjadi di Kecamatan Citangkil dan Purwakarta.

Belum lama ini, penyakit ini kembali menghebohkan Kota Cilegon, dimana salah satu warga Kelurahan Gunung Sugih, Kecamatan Ciwandan, dikabarkan meninggal akibat penyakit tersebut. Kemudian sejumlah warga pun dikabarkan menderita dalam waktu yang relatif bersamaan.

Ditemui di ruang kerjanya, Kepala Dinkes Kota Cilegon Arriadna menjelaskan, sejak awal tahun 2020, kasus penderita DBD sudah terjadi di Kota Cilegon, namun belum ada yang sampai menyebabkan masyarakat meninggal dunia.

Terkait informasi adanya warga Kecamatan Ciwandan yang meninggal karena DBD, menurut Arriadna pihaknya telah melakukan pengecekan, dan hasilnya belum bisa dipastikan jika warga berusia lima tahun itu meninggal karena DBD.

“Memang ada orang demam tapi bukan DBD, yang meninggal kemarin juga bukan DBD,” tutur Arriadna, Kamis (16/1).

Untuk mengatisipasi penyebaran penyakit itu, Arriadna mengaku mengajak kepada masyarakat untuk melakukan upaya pencegahan melalui upaya pemberantasan sarang nyamuk, terlebih saat ini sedang memasuki musim hujan.

Dijelaskan Arridna upaya efektif untuk mencegah penyakit DBD adalah dengan memastikan tidak ada tempat berkembang biaknya nyamuk. Diketahui, nyamuk aedes aegypti berkembang biak di air bersih, karena itu masyarakat diharapkan untuk bisa memastikan tidak ada jentik nyamuk atau cekungan-cekungan yang bisa menampung air.

“Apala lagi ini lagi hujan, air hujan kan bersih, kalau itunya (tempat berkembang biak nyamuk) gak diilangin susah geh, itu aja masalahnya,” kata Arriadna.

Di awal tahun Walikota Cilegon telah melayangkan surat edaran kepada seluruh kelurahan dan kecamatan untuk waspada penyakit DBD, ia berharap jajaran di kelurahan dan kecamatan bersama warga sudah melakukan upaya pemberantasan sarang nyamuk guna mengatisipasi penyakit tersebut.

Ketua RT 18 Lingkungan Cilodan, Kelurahan Gunung Sugih Saipul menuturkan, di tahun ini ada sekira enam warga di Lingkungan Cilodan yang menderita DBD, salah satunya adalah yang meninggal belum lama ini.

Menurutnya, DBD sudah menyerang warga di RT 16 dan RT 18 Lingkungan Cilodan sejak November 2019 lalu. Hingga kemarin, total sebanyak 12 warga yang terjangkit penyakit tersebut. “Sekarang satu orang masih di rawat di Rumah Sakit Kurnia,” ujarnya.

Meski Dinkes maupun puskesma menilai yang meninggal maupun yang saat ini sakit bukan menderita DBD, namun menganggap sebaliknya.

“Yang sudah berobat ke rumah sakit, ditanya kena DBD, masa dia memvonis sendiri, gak mungkin kalau gak ada info dari rumah sakit,” ujarnya.

Ketua RT 16 Lingkungan Cilodan Bram Junaidi, kemarin sudah ada penyuluhan dari Puskesmas Ciwandan, rencananya hari ini akan diadakan gotong royong, membersihkan lingkungan.

“Semua  yang ada di rumah membersihkan area rumah, jalan-jalan, biar gak ada nyamuk,” tuturnya.

Sementara itu Anggota DPRD Kota Cilegon Ibrahim Aswadi menuturkan, pemerintah harus gencar melakukan langkah antisipasi, dengan cara menyosialisasikan pentingnya kebersihan lingkungan, dan  memberantas jentik nyamuk.

“Yang penting pemerintah mendorong agar tidak terjadi sampai KLB demam berdarah, karena kita tahu sekarang bulannya bulan hujan, jangan berdebat itu penyakit demam beradarah atau bukan, pemerintah harus bergerak cepat,” ujarnya. (bam)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here