56 Orang Disuntik, Untung Rp 10 M

Sementara itu, Direktur Pelayanan Kesehatan dan Rujukan Dokter, Kementerian Kesehatan Tri Hesti Widyastoeti menjelaskan Peraturan Menteri Kesehatan no 32 tahun 2018 tentang penyelenggaraan sem cell mengatur fasilitas kesehatan yang dibolehkan.

“Jadi kalau ada fasilitas pelayanan kesehatan baik rumah sakit maupun klinik itu tentu harus ada alur perizinan. Karena tujuannya untuk melindungi masyarakat tentang sel punca,” ujarnya.

Tri menyebut di Indonesia sel punca masih belum dapat diperjualbelikan. Hingga kini baru sebatas pengolahan yang dijual.

“Karena biaya pengelolaan mahal jadi biaya pengolahan. Tapi sel sendiri belum dapat diperjualbelikan karena masih tahap penelitian berbasis pelayanan,” terangnya.

Pada 17 Desember lalu, Menteri Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kemenristek/BRIN) Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro meresmikan Pusat Produksi Sel Punca dan Produk Metabolit Nasional di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI).

“Saya merasa bangga atas pencapaian yang dilakukan rekan-rekan di FKUI dan tentunya tidak hanya membanggakan UI tetapi juga membanggakan sektor kesehatan Republik Indonesia,” katanya.

Menurutnya kini, Indonesia menjadi salah satu negara yang telah melakukan pelayanan terapi sel punca bagi pasien umum di sejumlah rumah sakit.

Ke depan, melalui peresmian Pusat Produksi Sel Punca dan Produk Metabolit Nasional, pemerintah ingin pelayanan terapi sel punca bagi pasien umum tidak hanya diperuntukkan bagi pasien dalam negeri, tetapi juga pasien dari mancanegara.

Bambang juga berharap peresmian Pusat Produksi Sel Punca tersebut dapat semakin meningkatkan kualitas riset stem cell yang pada akhirnya berdampak pada peningkatan pelayanan kepada masyarakat.

“Tentunya yang saya harapkan adalah semakin hari kualitas stem cell kita semakin bagus risetnya dan juga nanti kepada pelayanan kepada masyarakat,” katanya.

FKUI-Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (FKUI-RSCM) telah melakukan penelitian sel punca sejak 2008.

Unit Pelayanan Terpadu Teknologi Kedokteran (UPTTK) Sel Punca RSCM-FKUI telah melakukan penelitian berbasis pelayanan terapi pada kasus patah tulang gagal sambung, defek tulang panjang dan lain sebagainya.

Setelah peresmian Pusat Produksi Sel Punca dan Produk Metabolit Nasional tersebut, FKUI-RSCM juga ingin melakukan pengembangan lebih lanjut dalam penelitian sel punca untuk gagal ginjal akut, nerve regeneration, demensia, alzheimer dan penyakit lain yang tidak lagi merespons pengobatan konvensional.

Sebelumnya Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny Lukito mendukung teknologi medis stem cell atau sel punca dikomersilkan secara lebih luas lagi.

“Sudah terbukti manfaat sel punca, saya bangga sekali. Sebagai Kepala BPOM tentu bangga kalau sampai ada produk yang bisa dikomersilkan salah satunya Universitas Airlangga akan memproduksi sel punca pertama di Indonesia,” kata Penny.

Penny berharap teknologi sel punca dapat diterapkan di Indonesia sehingga masyarakat Indonesia yang membutuhkan penanganan kesehatan dengan stem cell tidak perlu pergi ke luar negeri sehingga lebih ekonomis.

Menurut dia, permintaan terhadap stem cell di Indonesia sangat besar.

“Itu bisa kita produksi di sini karena ‘demand’ yang besar di negeri ini,” katanya.

Sementara Rektor Universitas Airlangga Mohammad Nasih mengatakan stem cell merupakan salah satu inovasi Unair yang berkolaborasi dengan berbagai pihak salah satunya RSUD Dr Soetomo selaku rumah sakit pendidikan.

Nasih mengatakan sel punca sedang diproses agar segera mendapat legalitas peredaran. (gw/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here