56 Orang Disuntik, Untung Rp 10 M

Foto: pixabay

JAKARTA – Sebanyak 56 orang menjadi korban terapi suntik sel punca ilegal oleh sebuah klinik di bilangan Kemang, Jakarta Selatan. Keuntungan yang diperoleh klinik ilegal tersebut mencapai Rp 10 miliar.

Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Nana Sudjana mengatakan berdasarkan pemeriksaan sementara, jumlah korban klinik ilegal sel punca atau stem cell di Kemang, mencapai 56 orang.

“Yang terdata sampai saat ini dari hasil keterangan ada 56 orang korban selama praktik. Mereka melaksanakan praktik di Jakarta,” katanya saat gelar perkara di Polda Metro Jaya, Kamis (16/1).

Menurutnya, jumlah pasien tersebut diperoleh selama setahun klinik itu beroperasi.

“Praktik sekitar satu tahun dari Januari 2019 hingga Januari 2020,” sambungnya.

Dikatakan Nana, dalam praktiknya, klinik tersebut memasang tarif tinggi. Setiap serum stem cell yang dijual kepada korban harganya mencapai ratusan juta. Harga itu mengikuti jumlah selnya yang dipesan korban.

“Itu ada harga per ampul itu tergantung dari jumlah sel di ampul itu. Kalau selnya 100 itu harganya Rp100 juta, kalau 150 itu Rp150 juta, kalau 200 itu Rp200 juta,” kata Nana.

Penyidik kepolisian menyebut total keuntungan yang diraup oleh klinik tersebut mencapai Rp10 miliar.

“Total keuntungannya sekitar Rp10 miliar sementara,” kata Nana.

Diterangkan Nana, dalam beraksi ketiga pelaku YW, LJ, dan Dr OH memiliki peran yang berbeda-beda.

“Tersangka YW dan LJ mendatangkan serum stem cell dari Kintaro Jepang,” katanya.

Setelah dipesan, kedua tersangka mengambil serum stem cell di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang. Serum sel punca tersebut hanya bisa bertahan dalam waktu 48 jam. Kemudian, serum dibawa ke HUBSCH Clinic, di Kemang.

“Di sana, Dr. OH sebagai dokter umum sekaligus pemilik klinik, bertugas melakukan tindakan menyuntikan sel punca kepada para pasien,” katanya.

Padahal menurut Nana, OH tak punya latar belakang sebagai dokter spesialis.

“OH cuma dokter umum. Saya rasa dia belajar dari media sosial. Apalagi stem cell banyak beredar di berbagai negara,” katanya.

Dikatakan Nana, pasien yang akan membeli sekaligus menggunakan serum stem cell harus menyetorkan uang muka atau DP sebesar 50 persen dari harga kepada tersangka YW.

“Selanjutnya YW langsung order transfer Ke KINTARO CELLS POWER CO LTD di Jepang dan produk serum akan dikirim ke Indonesia dan langsung dijemput oleh YW di Bandara untuk kemudian dibawa ke klinik untuk segera disuntikan kepada pasien,” ujarnya.

Selain itu, tersangka JP juga berperan sebagai yang mencari konsumen melalui promosi di acara seminar dan iklan di media sosial.

“Sisa pembayaran dibayarkan setelah selesai dilakukan penyuntikan,” ujarnya.

Diketahui pada Sabtu (11/1) penyidik Polda Metro mengamankan YW (46) selaku manajer klinik, LJ (47) selaku manajer pemasaran dan dr OH selaku dokter umum di sebuah klinik stem cell ilegal di Kemang.

Dalam operasi tangkap tangan itu, petugas menyita sejumlah barang bukti seperti stem cell produk K asal Jepang yang tidak berizin, selang infus, alat suntik, alat antiseptik dan registrasi pasien.

Praktik suntik stem cell ini diduga telah melanggar Pasal 204 ayat (1) KUHP dan atau Pasal 263 KUHP dan atau Pasal 75 ayat (1), Pasal 76 UU Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran dan atau Pasal 201 jo Pasal 198 jo Pasal 108 UU Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan dan atau Pasal 8 ayat (1) huruf a UU Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen jo Pasal 55 dan Pasal 56 KUHP.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here