Nasib Benny

Ternyata tidak hanya politik yang memanfaatkan ‘masa transisi’ melainkan juga para pemain saham.

Begitulah jadinya.

Sepanjang yang diberitakan media, hanya dua jenis transaksi itu yang terkait dengan Benny –MTN dan beli saham.

Yang MTN, katanya, sudah dilunasi empat tahun lalu. Yang untuk beli saham ya sudah terkubur secara sah di jurang penggorengan itu.

Kalau benar MTN itu sudah dilunasi empat tahun lalu, jangan-jangan justru di sini lucunya: uang untuk melunasi utang ke Jiwasraya itu memakai uang Jiwasraya yang untuk membeli saham itu.

Kalau benar begitu, sungguh luar biasa lihainya.

Apalagi kalau ia sendiri yang bisa membuat harga saham naik dan harga saham turun.

Tapi belum tentu seperti itu. Kita tunggu hasil pengusutannya.

Benny sendiri bukan sosok yang misterius. Bukan orang yang sembunyi-sembunyi. Ia orang yang selalu yakin langkahnya tidak melawan hukum.

Misalnya saat Benny mengumpulkan uang dari publik. Yang juga mencapai ratusan miliar rupiah. Yang kemudian diperiksa OJK. Dan dinyatakan melanggar.

Benny tenang saja. Memang ia lantas menghentikan pengumpulan dana itu. Dan hanya membayar denda.

Tapi seandainya perkara ini sampai ke ranah hukum pun ia sangat siap –dengan dokumen yang bisa dianggap tidak melanggar hukum.

Bisa saja ada dokumen transaksi yang disiapkan di balik proses pengumpulan dana itu. Misalnya bisa saja disiapkan  dokumen jual beli tanah. Bisa saja secara resmi mereka itu bukan ‘menempatkan uang’. Tapi pembeli kapling tanah. Tanahnya ada –setidaknya di layar komputer.

Untuk itu pembeli bisa saja diberi bunga 12 persen setahun. Sebelum tanahnya diserahterimakan. Selama uang mereka disimpan di situ.

Bisa jadi pemilik uang sendiri tidak berharap memperoleh tanah itu sungguh-sungguh. Sepanjang bunga tingginya terus dibayar.

Saat harga tanah sudah menjadi mahal Benny bisa membayar kembali uang mereka. Atau terus membayar bunga. Agar uangnya bisa dipakai yang lain lagi.

Memang bisa saja kelihatannya orang menabung uang ke Benny. Tapi disertai dokumen transaksi jual beli tanah –sebagai jaga-jaga kalau dianggap melanggar.

Benny memang punya banyak tanah. Bisnisnya memang di bidang bank tanah. Ia beli tanah. Ia jual tanah.

Orang Solo akan menyebut orang seperti Benny sebagai pengusaha lemah –lemahe akeh tenan.

Kini Benny punya sekitar 6.500 ha tanah. Betapa kayanya. Pun ia masih perlu banyak uang untuk terus membeli tanah. Kadang ia ‘sulit uang’ kalau jualan tanahnya lagi sepi.

Seperti empat tahun terakhir ini.

Benny sudah main tanah sejak muda. Sejak masih di Solo.

Awalnya karena ia jengkel: setiap Batik Keris mau memperluas pabrik harga tanah di sebelahnya sudah naik.

Maka Benny muda memutuskan agar Batik Keris sekalian saja beli tanah yang luas. Kapan pun mau memperluas pabrik tidak jengkel lagi.

Ternyata perkembangan Batik Keris tidak terus memerlukan perluasan pabrik. Ternyata jualan rumah lebih cepat mendapat uang –daripada jualan batik.

Maka tanahnya yang ‘itu’ dijadikan real estate. Di Solo Baru. Itulah real estate pertama yang modern di Solo. Di selatan kota Solo. Sudah masuk wilayah kabupaten. Kabupaten apa ya? Sukoharjo?

Dari situ Benny lebih tertarik ke tanah daripada batik.

Ups… Juga tetap tertarik main saham.

Meski begitu Benny tidak rela digelari tukang goreng saham. Beberapa kali ia menepis gelar itu. Tapi itulah gelar yang sudah amat terkenal di lingkungan bursa saham.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here