Nasib Benny

Ke mana perusahaan pialang memasarkannya?

Mereka biasanya tahu: siapa saja yang punya uang nganggur. Atau siapa saja yang ingin memutar uang. Yang kalau ditaruh di bank hanya mendapat bunga 5 atau 6 persen.

Kalau Anda menawarkan surat utang itu dengan bunga 12 persen tentu banyak yang mau.

Di Mayapada ini banyak orang yang tertarik bunga tinggi. Ada juga yang tergiur komisi di bawah tangan –untuk kantong pribadi.

Kalau Anda direktur utama dari perusahaan milik Anda sendiri, Anda pasti tidak mau komisi gelap seperti itu.

Anda akan memilih memperoleh bunga setinggi-tingginya. Ditambah jaminan bahwa utang pasti kembali.

Kalau perlu minta jaminan tambahan yang cukup.

Tapi kalau Anda direktur utama dari sebuah perusahaan yang bukan milik Anda, komisi gelap itu sangat menggiurkan. Apalagi kalau pemilik perusahaan itu negara. Yang hanya mementingkan proses legalitas. Yang penting administrasinya benar. Padahal administrasi itu bisa diberes-bereskan.

Tidak akan ketahuan –kalau nasibnya baik.

Apalagi kalau transaksinya di luar negeri. Seperti di Petral. Atau di Garuda. Yang proses administrasinya ada di luar negeri.

Bahwa kasus Garuda terkuak itu hanya karena nasib tadi –di sononya terbongkar.

Maka Benny Tjokrosaputro pasti merasa akan lolos lagi. Secara administrasi ia pasti bisa bebuat tidak salah. Semua transaksinya sudah dibuat legal. Apalagi –seperti dikatakannya kepada media– ia sudah melunasinya.

Satu-satunya faktor yang bisa membuat Benny ‘kena’ adalah: kalau ia menyuap direksi Jiwasraya. Agar Jiwasraya mau membeli surat utangnya. Atau kalau ia menyuap siapa pun yang terkait transaksi ini.

Tapi orang seperti Benny pasti teliti. Tidak akan mengirim suap –sebut saja komisi– seperti itu lewat rekening bank. Yang bisa dilacak di kemudian hari.

Kalau pun dibayar kontan lewat orang pasti sudah diputus mata rantainya.

Bagaimana kalau direksi Jiwasraya mengaku disogok?

Emangnya mau mengaku?

Benny bukan orang bodoh.

Benny itu sudah belajar main saham sejak umur 19 tahun. Sejak masih SMA. Yakni menggunakan uang jajan dari ayahnya –si pewaris Batik Keris Solo. Yang terkenal itu. Benny adalah cucu pendiri perusahaan batik itu.

Tapi MTN bukan satu-satunya transaksi antara Jiwasraya dan perusahaan Bentjok.

Masih ada lagi transaksi lewat pasar modal: membeli saham Henson International milik Bentjok.

Jiwasraya belanja saham Henson Internasional ketika harganya Rp 1.300/lembar. Sebanyak Rp 760 miliar.

Banyak yang menilai itu kemahalan. Tapi itulah harga resmi di pasar modal. Setahun kemudian harga saham itu naik drastis. Menjadi Rp 1.865/lembar.

Saat inilah mestinya Jiwasraya jual saham. Bisa untung lebih Rp 100 miliar.

Tapi itu tidak dilakukan. Mungkin menunggu harga naik lagi. Padahal setelah itu saham Henson terjun bebas. Ke dasar jurang yang paling dalam: tinggal Rp 50/lembar.

Tidak ada lagi harga saham yang lebih rendah dari itu. Itulah saham asfalasafilin.

Hitung sendiri berapa ratus miliar uang Jiwasraya hilang.

Saya bukanlah pengamat pasar modal. Juga tidak pernah beli saham di bursa –sejak tahun 1999. Sejak uang saya habis terbakar di bursa saham –akibat krisis moneter terberat dalam sejarah Indonesia. Yang sampai membuat Presiden Soeharto lengser.

Mungkin justru ada pembaca yang tahu, ada apa dengan Henson saat itu. Kok sahamnya terjun bebas seperti itu.

Betul-betul terjun bebas. Hanya dalam hitungan jam. Di sekitar hari pergantian presiden tahun 2014 itu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here