Beranda Bola LA LIGA: Stein In, Valverde Out

LA LIGA: Stein In, Valverde Out

- Advertisement -
- Advertisement -

BARCELONA – Berada di jalur yang benar untuk meraih titel juara La Liga musim ini, tak berarti nasib entrenador Ernesto Valverde aman di Barcelona. Dini hari kemarin, Valverde menjadi salah satu pelatih yang dilengserkan paksa sebelum musim ini.

Tiga hari pasca kekalahan dari Atletico Madrid di semifinal Piala Super Spanyol, manajemen Barcelona resmi mengambil keputusan untuk mendepak Ernesto Valverde.

Titel dan semua yang diraih Valverde tak menjadi jaminan nasibnya di Barca aman. Dua gelar Liga Spanyol, satu Copa Del Rey, dan satu Piala Super Spanyol tidak cukup menjadi alasan manajemen mengamankan posisinya. Valverde harus keluar. Ini karena reputasi, Valverde belum bisa memberikan Barcelona gelar Liga Champions. Padahal itu adalah trofi paling prestise bagi klub terbaik di dunia tersebut.

Kurang dari 24 jam, Barcelona akhirnya menunjuk Quique Setien sebagai pelatih barunya. Penunjukkan ini terbilang aneh, para suporter menilai Setien adalah pelatih lapis dua yang kontribusinya di kancah Eropa belum terlihat matang.

Setien yang kini berusia 61 tahun hanya sosok pelatih kelas Segunda Division. Ia banyak bertualang di klub papan bawah hingga divisi dua La Liga seperti Racing Santander, Poli Ejido, Logrones, Lugo, Las Palmas, dan terakhir Real Betis.

Dilansir dari situs web resmi Barcelona, Setien diikat dengan kontrak 2,5 musim hingga 30 Juni 2022. Barcelona dikabarkan, terpikat oleh filosofi sepakbola Quique Setien. Dari pemaparannya, Setien tetap membawa Attacking Style-nya sejak dari Real Betis ke Barcelona. Elit Barca pun merasa gaya ini cocok diadaptasi Barca di sisa musim ini.

“Stein akan membawa perubahan baru. Gaya menyerang dengan mengandalkan bola akan tersaji lagi bagi pencinta Barcelona. Dan kami menunggu itu,” tulis Barcelona di laman ofisialnya.

Kendati hebat di tataran filosofi, penunjukkan Stein membuat pertanyaan besar. Pria 61 tahun tak pernah meraih gelar selama karirnya. Ia baru mendapat merasakan gelar Piala Super Spanyol 1985 saat masih menjadi pemain Atletico Madrid.

Stein pun tak punya pengalaman yang mentereng. Dilansir dari data Transfermarkt, Setien hanya pelatih medioker. Prestasinya pun hanya membawa Racing Santander meraih persentase kemenangan 50 persen pada musim 2001/2001. Selebihnya, Stein harus merasakan momen berpindah klub karena gagal memberikan kemenangan bagi klub-klub setelahnya.

Satu dekade kemudian, Setien menjadi sorotan. Di musim 2015-2016, Stein mampu mempertahankan posisi Las Palmas di Primera Divison La Liga. Hal yang sama juga dilakukan saay menangani Real Betis sejak musim 2017/2018 hingga musim lalu.

Setien membawa Real Betis menaklukkan sang juara Barcelona 3-4 di Camp Nou pada 11 November 2018, dan membungkam Real Madrid 0-2 di Santiago Bernabeu dalam laga terakhir kompetisi.

“Saya hanya ingin membawa total Football seperti Barcelona dahulu. Saat anda banyak menguasai bola, tak ada lawan yang bisa mencetak dan ini tentu akan attraktid,” ujar Setien kepada Marca, kemarin.

Laga Barcelona versus Granada menjadi debut pertama Stein di Camp Nou, Senin (20/1) depan. Secara historis, Setien merupakan pelatih yang selalu mengandalkan satu penyerang (target man) dalam formasi 3-4-2-1 atau 4-2-3-1. Absennya Luis Suarez, memastikan posisi tengah akan diisi oleh Lionel Messi. Posisi ini jelas membuat Messi yang biasanya menghuni winger kanan akan banyak bermain ekstra. Namun dari catatan Whoscored, Messi pernah sukses menjadi penyerang tengah di musim 2009/2010. Saat itu, ia mencetak 47 gol dari 53 pertandingan. (fin/tgr)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here