Beranda Nasional Emak-emak Lempar Tomat, 17 Provokator Dibebaskan

Emak-emak Lempar Tomat, 17 Provokator Dibebaskan

- Advertisement -
- Advertisement -

Jakarta memang dinamis. Dari soal macet, banjir sampai warna-warni gerakan massa yang dibalut dengan nuansa politis. Gubernur Anies Baswedan pun tak terlepas dari efek yang ada. Seperti aksi yang berlangsung kemarin. Apa sebenarnya tututan massa?

JAKARTA – Demonstarsi di Jakarta bukan hal asing. Setiap pekan ada saja cara orang menyuarakan pendapat. Dari turun ke jalan, berkumpul di monas, sampai membentangkan spanduk di depan Istana Negara.

Nah kali ini, demonstaran yang mengatasnamakan Massa Jakarta Bergerak tak mau kalah. Tidak sekadar berorasi, mereka pun memiliki cara unik dalam mengilustrasikan aksinya. Selain berorasi massa yang mengatasnamakan Jakarta Bergerak yang kontra terhadap pemerintahan Anies Baswedan di DKI Jakarta. Ini terlihat di depan Patung Kuda Arjuna Wiwaha, kemarin.

“Ayo ibu-ibu. Kita berkumpul ke depan. Kita lakukan lempar tomat ke Pak Anies. Ibu-ibu biasanya kuat tenaganya,” teriak Koordinator Jakarta Bergerak Sisca Rumondor.

Seketika mendengarkan komando dari Sisca, ibu-ibu yang hadir dalam aksi itu bergerak maju ke depan dan mengambil tomat yang sudah disediakan para koordinator. ”Lempar ibu-ibu, sampai pak Anies’kapok. Sampai turun,” terang Sisca.

Ibu-ibu yang hadir semakin heboh melempari Anies dengan tomat-tomat segar hingga membasahi pakaian sang pemeran Anies yang menggunakan jaket biru dongker itu. “Sudah-sudah cukup pak Anies-nya sudah kapok,” sahut Dewi Tanjung yang juga termasuk sebagai koordinator aksi Jakarta Bergerak usai melihat Anies kepayahan menerima serangan tomat dari para emak-emak itu.

Tidak lama mereka diinstruksikan untuk bubar karena kondisi tidak kondusif karena peserta pro Anies masih mencoba untuk membubarkan massa itu. Massa di sekitar Patung Kuda diminta bubar oleh pihak kepolisian pada pukul 16.25 WIB. “Karena instruksi dari petugas keamanan kita bubar, tapi kita tidak akan mundur. Ini bukan cuma sekali. Masih ada gebrakan-gebrakan lain,” kata Sisca Rumondour.

Yang menarik ada penggiat media sosial Abu Janda di lingkaran aksi. Sebelum lempar tomat dilangsungkan, pria yang kala itu mengenakan blangkon dengan lantang menyuarakan pendapatnya. ”Yang diinginkan masyarakat DKI bukan pencitraan kerja bakti tapi kerjaan pak Ahok itu diteruskan. Pak Ahok diberikan tugas pak Presiden untuk normalisasi, apa sih normalisasi itu? Melebarkan sungai yang konsekusensinya mengusur warga yang tinggal di bantaran sungai. Pak Anies tidak melakukan itu karena dia mau pencitraan untuk Pilpres 2024,” kata Abu Janda.

Jika normalisasi Kali Ciliwung dilakukan lebih cepat maka banjir Jakarta yang merugikan warga Jakarta tidak akan terjadi pada awal 2020. “Kalau dia lakukan itu, dia bakal dihajar habis sama pendukungnya, kalau itu dilakukan juga akan kehilangan dukungan,” kata Abu Janda.

Oleh karena itu sebagai bagian dari warga Jakarta yang merasa dirugikan oleh banjir Jakarta, Abu Janda mendukung langkah gugatan kelompok atau class action mengenai kerugian banjir Jakarta. “Aksi ini bagian dari mengawal gugatan class action,” kata Abu.

Terpisah pihak kepolisian yang awalnya mengamankan 17 orang di depan Balai Kota saat berlangsungnya aksi akhirnya dipulangkan. ”Tidak ada yang dibawa ke kantor polisi, kan tadi ustadznya (Lukman Abidin) yang minta mereka dikeluarkan dari Balai Kota. Mereka sudah dipulangkan masing-masing, kami lepaskan. Orang tidak berbuat apa-apa kok, gak ada yang ribut,” kata Kasatreskrim Polres Metro Jakarta Pusat AKBP Tahan Marpaung.

Ditambahkannya Tujuh belas orang yang diamankan itu, bukanlah dari kelompok yang mereka curigai sebagai provokator, namun merupakan kelompok mereka sendiri. ”Itu dari kelompok mereka yang dicurigai sebagai provokator, ternyata grup mereka juga jadi tadi perintah ustadnya dinaikkan ke mobil dibawa dari situ,” ucap Tahan.

Saat ditanyakan apakah 17 orang tersebut adalah kelompok pendukung Anies yang berniat menyatroni massa yang menuntut pertanggungjawaban Anies soal banjir Jakarta, Tahan membenarkannya. “Iya, mereka bagian yang dihalau itu. Mereka diamankan agar tidak ada hal yang tidak diinginkan. Akhirnya dibawa keluar dari Balai Kota untuk menjauh,” tutupnya. (fin/ful)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here