Sinyal AS – Iran Berdamai

JAKARTA – Dalam pertemuan antara Presiden Iran, Hassan Rouhani dan Emir Qatar, Sheikh Tamim bin Hamad Al-Thani, kedua belah pihak sepakat bahwa penurunan eskalasi adalah satu-satunya solusi untuk mengakhiri konflik dengan Amerika Serikat (AS).

“Kami telah memutuskan untuk melakukan lebih banyak konsultasi dan kerja sama untuk keamanan seluruh wilayah,” kata Rouhani dikutip dari AFP, Senin (13/1)

“Kami sepakat bahwa satu-satunya solusi untuk krisis ini adalah de-eskalasi dari semua pihak dan dialog,” sambung Sheikh Tamim bin Hamad Al-Thani.

Menteri Pertahanan AS Mark Esper mengatakan, Trump masih bersedia duduk dan berdiskusi tanpa prasyarat dengan Iran, meskipun negara itu dengan tegas menolak mengadakan pembicaraan dengan AS kecuali jika sanksi dicabut terlebih dahulu.

Iran mengatakan pihaknya mendukung pelonggaran ketegangan setelah musuh bebuyutannya, AS, pada 3 Januari membunuh seorang jenderal Iran yang dihormati, kepala Pasukan Quds Qasem Soleimani, dalam serangan drone di Baghdad.

Dalam pertemuan antara Presiden Iran Hassan Rouhani dan Emir Qatar, kedua pihak sepakat bahwa pengurangan eskalasi adalah satu-satunya solusi untuk krisis saat ini.

Qatar menjadi tuan rumah pangkalan militer AS terbesar di kawasan itu, tetapi juga menjalani hubungan kuat dengan Iran dan berbagi ladang gas terbesar di dunia.

“Kunjungan ini terjadi pada saat yang kritis di kawasan itu,” kata Emir Sheikh Tamim bin Hamad Al-Thani, tentang apa yang diyakini sebagai kunjungan resmi pertamanya ke republik Islam itu.

“Kami sepakat bahwa satu-satunya solusi untuk krisis ini adalah de-eskalasi dari semua orang dan dialog.”

Sementara itu, Rouhani mengatakan: “Kami memutuskan memiliki lebih banyak konsultasi dan kerja sama untuk keamanan seluruh wilayah.”

Presiden Iran itu juga bertemu dengan Menteri Luar Negeri Pakistan yang berkunjung, Shah Mehmood Qureshi. Qureshi menawarkan menengahi antara Iran dan sekutu AS, Saudi.

Dalam briefing ke parlemen, Hossein Salami, Komandan Garda Revolusi Iran, mengatakan rudal yang ditembakkan Rabu lalu di pangkalan Irak yang menampung pasukan AS tidak ditujukan untuk membunuh personel Amerika.

“Tujuan kami bukan untuk membunuh tentara musuh. Itu tidak penting,” katanya kepada parlemen.

AS mengatakan, tidak ada personel Amerika yang terluka dalam serangan itu.

Namun pada Minggu (12/1) waktu setempat, di seberang perbatasan di Irak, militer menyebut roket menghantam Ahad ke Al-Balad, pangkalan udara Irak tempat pasukan AS ditempatkan, melukai dua perwira Irak dan dua penerbang.

Menanggapi serangan terbaru, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mencuit: “Kami marah oleh laporan serangan roket lain pada pangkalan udara Irak.”

“Ini pelanggaran terus-menerus terhadap kedaulatan Irak oleh kelompok-kelompok yang tidak loyal kepada pemerintah Irak harus berakhir,” tambahnya.

Tidak ada klaim tanggung jawab langsung atas serangan roket pada Minggu (13/1/2020) itu. AS sebelumnya menyalahkan serangan semacam itu terhadap kelompok-kelompok yang didukung Iran di Irak. Meski demikian, hingga kini belum ada pihak yang mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut.

Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo mengutuk serangan tersebut. “Ini pelanggaran terus-menerus atas kedaulatan Irak oleh kelompok-kelompok yang tidak loyal kepada pemerintah Irak dan ini harus diakhiri,” katanya. (der/afp/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here