Harun Masiku Ngumpet di Singapura

Foto : Iwan Tri wahyudi/ FAJAR INDONESIA NETWORK : Capim KPK/ Dosen, Nurul Ghufron berjabat tangan dengan Ketua Komisi III, Aziz Syamsuddin (tengah), Wakil Ketua Komisi III, Desmon Junaedi Mahesa (kedua kanan) dan, Anggota Ketua Komisi III, Erma suryani Ranik saat uji kelayakan dan kepatutan (Fit and proper test) calon pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (Capim KPK) di Gedung Parlemen Senayan Jakarta, Senin (9/9/2019).

JAKARTA – Tersangka kasus suap proses pergantian antar waktu (PAW) Harun Masiku, tidak berada di Indonesia. Pada 6 Januari 2020, kader PDIP tersebut diketahui terbang ke Singapura. Artinya, Harun pergi dua hari sebelum KPK melakukan operasi tangkap tangan (OTT) yang melibatkan mantan komisioner KPU, Wahyu Setiawan.

Kepergian Harun ke negeri Singa itu terekam dalam catatan Ditjen Imigrasi Kemenkumham. Kabag Humas Ditjen Imigrasi, Arvin Gumilang menyatakan Harun pergi sebelum ada surat permohonan dari KPK terkait permintaan pencegahan ke luar negeri.

Wakil Ketua KPK Nurul Ghufron membenarkan Harun berada di luar negeri. Dia menyebut Harun sudah pergi sebelum OTT digelar. KPK kemungkinan akan memasukkan Harun dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) jika tidak segera menyerahkan diri ke KPK.

Seperti diketahui, KPK melakukan OTT tangkap tangan terhadap delapan orang pada Rabu (8/1) hingga Kamis (9/1) di Jakarta, Depok, dan Banyumas. Dari delapan orang tersebut diketahui tidak ada nama Harun. Keesokan harinya, Kamis (9/1), KPK mengumumkan empat tersangka terkait tindak pidana korupsi suap penetapan anggota DPR RI terpilih 2019-2024. Sebagai penerima, yakni Komisioner KPU Wahyu Setiawan dan mantan anggota Bawaslu yang juga orang kepercayaan Wahyu, yakni Agustiani Tio Fridelina. Sementara sebagai pemberi adalah Harun Masiku dan Saeful. Dia disebut-sebut staf Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto.

Wahyu diduga meminta dana operasional Rp900 juta untuk membantu Harun menjadi anggota DPR RI. Ini setelah namanya diusulkan oleh DPP PDIP menggantikan Riezky Aprilia. Keduanya berasal dari dapil yang sama. Yakni Sumatera Selatan I. Dari jumlah tersebut, Wahyu hanya menerima Rp600 juta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here