Beranda Internasional Ukraina Minta Kompensasi dari Iran

Ukraina Minta Kompensasi dari Iran

- Advertisement -
- Advertisement -

KIEV – Pemerintah Ukraina akan memberikan kompensasi sebesar 8.350 dolar AS (setara Rp114,8 juta) kepada masing-masing keluarga yang anggotanya menjadi korban tewas dalam peristiwa nahas jatuhnya pesawat Ukraina di Iran pekan ini. Perdana Menteri Ukraina Oleksiy Honcharuk menyebutkan maskapai penerbangan nasional Ukraine International Airlines akan menyerahkan dana santunan kepada keluarga anggota kru yang meninggal dalam kecelakaan pesawat.

Ditambahkannya, para diplomat Ukraina sedang mengupayakan soal bagaimana memperoleh kompensasi dari otoritas Iran. ”Iran harus bertanggungjawab atas peristiwa ini. Aksi menewaskan seluruh 176 orang merupakan kesalahan tragis,” terangnya, Minggu (12/1).

Sementara itu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy menegaskan pengakuan Iran bahwa pihaknya menembak jatuh pesawat penumpang Ukraina merupakan langkah yang benar tetapi menginginkan mereka yang bertanggung jawab dimintai pertanggungjawabannya. ”Saya bersikeras agar identifikasi jasad segera diselesaikan dan dipulangkan ke Ukraina,” cuit Zelenskiy di Twitter seusai berbicara dengan Presiden Iran Hassan Rouhani.

“Para pelaku harus dimintai pertanggungjawaban. Kebenaran soal kejatuhan pesawat penumpang Ukraina tidak dapat disembunyikan,” imbuhnya. Zelenskiy mengaky sepakat dengan Presiden Iran Hassan Rouhani soal kerja sama untuk memecahkan kode kotak hitam dari pesawat Ukraina itu, yang tertembak jatuh pekan ini.

Meski demikian Zelenskiy juga mendesak semua mitra internasional Ukraina agar bersatu dan tak menyerah hingga penyelidikan peristiwa nahas itu rampung. ”Kami minta keadilan, dan Iran harus memahami posisi ini,” jelasnya.

Terkait dengan peristiwa nahasnya Pesawat Ukraina, Menteri luar negeri Israel Israel Katz mendadak menunda kunjungannya ke Dubai pada Januari ini karena masalah keamanan. Ia menghubungkan keputusan tersebut dengan peningkatan ketegangan Iran dan Amerika Serikat.

Israel Katz, yang merangkap sebagai menteri intelijen, sebelumnya dijadwalkan melakukan pertemuan pada pertengahan Januari di Uni Emirat Arab menjelang Expo 2020 Dubai di negara Teluk itu. Namun berdasarkan instruksi pejabat keamanan, kunjungan itu akan ditunda, menurut seorang diplomat Israel, tanpa menyebutkan tanggal baru.

Sementara itu diplomat lain, yang juga merahasiakan identitasnya, menyebutkan bahwa Israel sedang mengambil tindakan pencegahan agar jangan sampai musuhnya, Iran, mencoba menargetkan Katz di Teluk sebagai bagian dari aksi balasan terhadap sekutu Israel, Amerika Serikat. Diplomat itu tak merujuk bukti untuk mengindikasikan ada ancaman spesifik.

Iran dan Israel terlibat dalam permusuhan sengit di kawasan sejak revolusi Iran 1979. Permusuhan selama puluhan tahun antara Teheran dan Washington semakin buruk dalam beberapa pekan belakangan ini setelah AS menewaskan jenderal besar Iran Qassem Soleimani dan Iran melakukan balasan dengan menembakkan roket ke pangkalan udara Irak, yang ditempati pasukan AS.

Dalam peristiwa nahasnya pesawat Ukraina, Iran sendiri telah mengaku bahwa militer mereka melakukan kesalahan fatal dengan menembak jatuh sebuah pesawat Ukraina hingga menewaskan seluruh 176 orang di dalamnya. Menurut Iran, senjata pertahanan udaranya tak sengaja ditembakkan saat berada dalam status waspada setelah roket Iran menghantam sejumlah target Amerika Serikat di Irak. (ful/fin)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Terbaru

[300x250]