Inflasi 2019 2,72 Persen Terendah 10 Tahun Terakhir
JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi sepanjang tahun 2019 sebesar 2,72 persen adalah terendah sejak 2009 atau 10 tahun terakhir. "2009 inflasi 2,78 persen, kalau tahun 1999 itu sebesar 2,3 persen. Sedangkan tahun 2019 inflasi 2,72 persen ini selama 10 tahun terakhir," ujar Kepala BPS, Suhariyanto di Jakarta, Kamis (2/1). Rendahnya inflasi disebabkan adanya perbedaan pada administered price atau harga barang/jasa yang diatur oleh pemerintah, seperti harga bahan bakar minyak dan tarif dasar listrik. "Kenapa inflasi 2019 bisa lebih rendah dari tahun 2018? Karena berbeda di administered price," kata dia. Komoditas utama yang memicu inflasi adalah emas perhiasan sebesar 0,16 persen. Lalu bensin 0,26 persen. "Jadi kalau boleh disimpulkan inflasi 2019 lebih rendah karena harga-harga relatif terkendali atas berbagai kebijakan, dan juga dari sisi administered price," tutur dia. Di sisi lain, menurut dia, kenaikan harga BBM dan tarif pesawat yang merangkak naik di akhir 2018 menjadi inflasi cenderung lebih tinggi dibanding 20019. "Padahal beras ini bobotnya paling tinggi yang muncul di 2018, sementara di 2019 aman karena cadangan beras bulog," kata dia. Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core) Indonesia, Piter Abdullah, mengatakan inflasi yang rendah sepanjang tahun 2019 salah satunya disebabkan oleh pertumbuhan konsumsi yang terus melambat. Kondisi demikian berdampak pada beberapa indikator seperti indeks penjualan riil (IPR) yakni penjualan ritel dan indeks keyakinan konsumen. Berdasarkan data Bank Indonesia (BI) menunjukkan bahwa IPR per kuartal III/2019 menunjukkan tumbuh sebesar 1,4 persen secara tahunan (year on year), lebih rendah dibandingkan dengan kuartal III/2019 yang mencapai 4,7 persen yoy. "Melihat data ini inflasi yang rendah tahun ini lebih banyak dipengaruhi pertumbuhan demand yang sangat terbatas," jelas Piter. Lanjut Piter, rendah inflasi juga disebabkan pemerintah yang mampu menjaga ketersediaan pangan sehingga inflasi pada bahan pangan menjadi rendah. Selain itu, barang-barnag subsidi juga berhasil dijaga sehingga tidak terjadi lonjakan. "Terjadi kombinasi kemampuan pemerintah menjaga harga komponen bahan pangan adminstered price dengan terbatasnya pertumbuhan demand menghasilkan inflasi yang rendah," ucap Piter. Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira menilai keberhasilan inflasi rendah bukan kesuksesan pemerintah sebab memang terjadi penurunan harga di tingkat produsen. "Problem bukan kesuksesan pemerintah mengendalikan harga. Karena jangan-jangan harga (beras) di tingkat petai rendah, Januari kemarin (tahun lalu) Rp6 ribuan per kilogram, sekarang Rp5,4 ribuan per kilogram. Ini data belinya sendiri menyebabkan inflasi seolah-olah rendah," kata dia. Bhima membandingkan dengan negara-negara lain seperti Eropa dan Amerika Serikat inflasi yang rendah tidak membuat mereka gembira. "Negara-negara di Eropa dan Amerika Serikat inflasi yang rendah mereka tidak happy, karena ini menunjukkan (konsumsi rendah)," ujar Bhima. Sementara itu, pengamat ekonomi dari Economic Action Indonesia (EconAct), Ronny P Sasmita mengataan, capaian rendah inflasi belum bisa menjadi tolak ukur kesuksesan dalam memimpin Indonesia lima tahun ke depan. Sebab, di menjelaskan, ada beberapa hal yang harus diselesaikan pemerintah di balik rendahnya inflasi tersebut. "Terjadi tren penurunan konsumsi rumah tangga dan kapasitas ekspor non migas yang terus melemah, dan data impor komoditas yang juga terus meningkat. Ini harus jadi perhatian pemerintah," kata dia. Penurunan inflasi, analisa dia bisa disebabkan karena penurunan daya beli. Karena telah terjadi pelemahan di sektor konsumsi rumah tangga, ekspor non migas, dan peningkatan impor. "Saya yakin, sedari dua tahun lalu pemerintah sangat memahami kondisi ini. Hal tersebut bisa dilihat dari beberapa kali pemerintah menambah alokasi dana sosial dan subsidi energi, untuk menahan pelemahan lebih lanjut konsumsi rumah tangga," pungkasnya. (din/fin)