Cuaca Buruk, Nelayan Kesulitan Melaut

Sejumlah perahu nelayan bersandar dibantaran Kali Pasir Kabupaten Tangerang, (11/6/2019). Usai menyambut hari Raya Idul Fitri, sejumlah nelayan melakukan besih-bersih perahunya dan siap untuk kembali melaut. FOTO: Faisal R Syam / FAJAR INDONESIA NETWORK.

KEJAKSAN – Nelayan di Kota Cirebon meski mencari penghasilan alternatif. Memasuki musim angin barat, risiko melaut meningkat berkali-kali lipat. Namun begitu beberapa masih ada yang nekat mencari ikan meski tidak sampai tengah laut.

Ketua Kerukunan Nelayan Kampung Samadikun, Suhendra mengatakan, nelayan di kampungnya sebagain besar lebih memilih untuk berdiam di rumah ketika cuaca ekstrem, seperti hujan disertai angin besar. Namun begitu, beberapa ada yang nekat memaksakan diri untuk melaut meski berisiko.

“Istilahnya mah colong-colongan. Jadi liat situasi dan kondisi. Kalau terlihat cuacanya teduh, ya mereka berangkat. Kalau sekiranya bahaya, ya diem di rumah aja. Kalau nelayan menyebutnya, lihat gilir anginnya aja,” kata Hendra, kepada Radar, Rabu (1/1).

Musim angin barat memang belum berada pada puncaknya. Namun begitu, cuaca ekstrem kerap menghantui warga Kota Cirebon dan sekitarnya. Terlebih hujan yang mengguyur dalam waktu sepekan terakhir.

Bagi anak buah kapal (ABK) yang tidak melaut, terpaksa meski mencari penghasilan sambilan. Beragam yang bisa dilakukan. Seperti kerja bangunan, hingga ternak kerang ijo. Hendra memprediksi, angin barat atau musim paceklik nelayan ini akan berakhir pada Maret mendatang. “Kalau di Samadikun melautnya yang dekat-dekat aja. Berbeda dengan nelayan di daerah Mundu, Gebang, atau Kanci yang bisa sampai berminggu-minggu bahkan hitungan bulan,” imbuhnya.

Dikatakan senada Ketua Rukun Nelayan Kampung Pesisir, Sadikin. Menurutnya, musim ombak dan angin sangatlah berisiko bagi nelayan yang memaksakan untuk melaut. Untuk itu, nelayan dikampungnya lebih memilih mengurungkan niat untuk berlayar.

Nelayan di Kampung Pesisir, biasa melaut selama 12 jam. Pergi sore hari, kembali pada pagi keesokan harinya. “Kalau perginya pagi, pulangnya sore. Nggak pernah lama. Paling lama-lamanya, dua hari dan dua malam. Kalau pakai mesin 1, jaraknya 2 mil dari bibir pantai. Kalau mesin 2, bisa sampai 12-18 mil dari bibir pantai,” kata Sadikin.

Namun begitu, ia mengaku hasil tangkapan nelayan di kampungnya cenderung meningkat. “Hasil tangkapan lumayan banyak. Cuma bagi mereka yang kuat di laut aja, dengan hujan, ombak, dan angin yang besar.

(ade)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here