Air Mahal Picu Kemiskinan di Pangkep

Pixabay

PANGKEP – Tingginya angka kemiskinan di Pangkep dipicu krisis air bersih. Pendapatan warga terkuras untuk membeli air. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Pangkep, Naharuddin Supu menjelaskan, konsumsi masyarakat masih di bawah 2.100 kalori setiap harinya.

Pemicunya, pemenuhan air bersih sulit didapatkan masyarakat. “Sulitnya air bersih memicu kemiskinan. Pendapatan masyarakat terkuras untuk beli air,” jelasnya, Senin, 30 Desember.

Naharuddin berharap, pemerintah mengelola stok air bersih dengan baik. Selain itu, bisa memberi subsidi ke masyarakat sehingga biaya beli air dapat berkurang. Indikator air bersih terhadap angka kemiskinan ini juga digunakan bank dunia.

“Pengeluaran masyarakat untuk air bersih mencapai 15 persen dari total pendapatan,” bebernya.

Saat ini angka kemiskinan di Kabupaten Pangkep sebanyak 14,06 persen atau sekira 47.070 jiwa. Meski menurun 1,04 persen dari 2018 lalu, namun angka ini tetap tinggi.

Angka kemiskinan Pangkep tertinggi kedua di Sulsel setelah Kabupaten Jeneponto.Direktur PDAM Pangkep, Andi Yathrib Pare, mengaku sementara melakukan pendataan terkait wilayah yang dilanda krisis airbersih paling besar. Beberapa wilayah jadi perhatian, seperti daerah pesisir dan pulau.

“Kami juga bekerja sama berbagai pihak untuk mobilisasi air ke sejumlah wilayah,” ucapnya.

Sebelumnya, warga Labakkang, Pangkep, Ahmad, mengemukakan, pendapatannya habis terkuras untuk kebutuhan air. Warga terpaksa beli air lantaran tidak ada pilihan lain.

“Setiap jeriken dibeli Rp3 ribu, biasanya gunakan tiga hingga empat jeriken per hari,” kata Ahmad.

(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here