Aksi Politisi Belanda Bakar Kemarahan Umat Muslim

(FILES) In this file photo taken on July 3, 2019 Dutch PVV party leader Geert Wilders sits in the dock prior to the appeal in the criminal case against Wilders at a courtroom in Schiphol, the Netherlands. - Far-right Dutch lawmaker Geert Wilders said he was reviving a Prophet Mohammed cartoon competition on December 29, 2019, more than a year after cancelling a similar contest that sparked demonstrations and death threats. (Photo by Sander Koning / ANP / AFP) / Netherlands OUT

AMSTERDAM – Meski mendapat penentangan dari tokoh-tokoh Islam, namun anggota parlemen Belanda yang anti-Islam, Geert Wilders, tetap berupaya meyakinkan publik untuk merealisasikan rencananya, yakni menggelar lomba kartun Nabi Muhammad.

Wilders sebenarnya telah mengeluarkan pernyataan itu lebih dari satu tahun setelah membatalkan kontes tersebut atas kekhawatiran serangan akan bermunculan di Belanda. Dalam tulisannya di Twitter, Wilders mengundang orang-orang untuk mengirimkan kartun Nabi Muhammad buatan mereka. “Kebebasan berpendapat tidak boleh dikalahkan oleh kekerasan dan fatwa Islam,” tulis pemimpin partai oposisi terbesar pada parlemen Belanda itu, kemarin (29/12).

Wilders pada Agustus 2018 membatalkan lomba setelah polisi menangkap seorang pria yang mengancam akan membunuhnya terkait rencana tersebut. Pada saat itu, rencana penyelenggaraan kontes kartun Nabi Muhammad juga mengundang demonstrasi besar-besaran di Pakistan.

Demonstrasi itu digelar oleh partai Islam, Tehreek-el-Labbaik, yang mendesak negara-negara Islam untuk memutuskan semua hubungan dengan Belanda. Menurut Islam, sosok Nabi Muhammad dilarang dituangkan dalam gambar karena dianggap bisa mengarah pada kecenderungan seperti menyembah berhala. Sebagian besar kalangan Muslim menganggap karikatur Nabi Muhammad sebagai penghinaan berat.

Pada 2005, Jyllands-Posten menerbitkan kartun-kartun Nabi Muhammad. Tindakan surat kabar Denmark itu memicu demonstrasi di berbagai negara dunia Muslim, juga beberapa kali percobaan pembunuhan terhadap editor majalah atau sang pembuat kartun, Kurt Westergaard. Sepuluh tahun kemudian, sepasang penembak garis keras menewaskan 12 orang di kantor majalah Charlie Hebdo di Paris, yang juga dikenal karena menerbitkan kartun-kartun ejekan Nabi Muhammad.

Sebelumnya, sebuah kontes gambar kartun Nabi Muhammad, juga diselenggarakan oleh kelompok pengendara sepeda motor yang diperkirakan memiliki senjata, beberapa tahun lalu di di luar sebuah pusat komunitas Islam di negara bagian Arizona di Amerika barat.

“Kontes tahap 2!!!!!!!,” diumumkan oleh penyelenggara Jon Ritzheimer di halaman Facebook. Bekas anggota marinir itu menyatakan, acara akan berlangsung damai, namun menganjurkan agar para pemrotes membawa senjata mereka, sebagai persiapan apabila nantinya terjadi keributan.

Ritzheimer telah mengundang ribuan pesepeda motor untuk menghadiri acara tersebut. Hingga Jumat pagi, lebih dari 600 orang telah memesan tempat. Polisi setempat merencanakan pengawalan ketat dalam penyelenggaraan acara ini. Polisi setempat telah menyatakan akan mengerahkan banyak petugas kalau-kalau terjadi kekerasan. Penembakan pada acara kontes kartun Texas diklaim oleh kelompok Negara Islam yang telah menyatakan kekalifahan Islam di beberapa bagian Irak dan Suriah.

Namun, para pakar mempertanyakan klaim tersebut dan pihak berwenang mendapati tidak ada kaitan antara kedua lelaki bersenjata dan organisasi ekstremis ini. Sementara itu, di Washington, dewan transportasi publik setempat memutuskan melalui pengambilan suara untuk menghentikan iklan-iklan yang berorientasi pada isu-isu tertentu di kereta dan bus.

Ini merupakan respon terhadap upaya enyelenggara kontes menggambar kartun Nabi Muhammad yang menginginkan gambar yang memenangkan kontes tersebut untuk dipasang di stasiun-stasiun kereta Metro dan bus di Washington, D.C dan sekitarnya.

(fin/ful)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here