310 Aktivis Dibui, Akhir Tahun Hongkong Bakal Panas Lagi

Polisi Hongkong melakukan pemeriksaan di sejumlah mal, meredam upaya aksi yang rencananya bakal digelar saat perayaan akhir tahun. (Foto: AFP)

HONGKONG – Pemerintah Cina berjanji bakal menambah tunjangan bagi aparat kepolisian Hongkong dalam upaya mengamankan konflik yang terus berlanjut di negara maju itu. Sementara demonstran menentang dominasi Tiongkok akan terus berlanjut. Massa akan menggelar aksi besar-besaran di penghujung tahun.

Ya, pemerintah Cina telah memberikan dana sebesar HK$ 135 juta atau setara US$ 17,3 juta selama enam bulan terakhir saat menghadapi protes anti-pemerintah. Dilansir dari Reuters, uang makan dan tunjangan terkait pekerjaan berada di atas bayaran lembur sebesar HK$ 950 juta yang diperoleh polisi sejak protes meningkat pada Juni lalu.

Kota yang diperintah oleh Cina itu telah diguncang oleh lebih dari 900 protes yang sering diikuti kekerasan sejak Juni. Sementara tuntutan publik terhadap rancangan undang-undang ekstradisi yang sekarang sudah ditarik, kemudian dikembangkan menjadi tuntutan untuk kebebasan yang lebih besar.

Protes telah secara teratur menampilkan jajaran polisi anti huru hara yang menembakkan gas air mata di berbagai tempat seperti di pusat bisnis atau daerah wisata. Polisi pada gilirannya telah diserang dengan bom bensin dan proyektil lainnya dilemparkan oleh pengunjuk rasa. Dalam tanggapan tertulis terhadap pertanyaan dari anggota parlemen pro-demokrasi.

Biro Pegawai Negeri Sipil Hongkong mengatakan tunjangan makan sebesar HK$ 50 juta telah dibayarkan kepada petugas garis depan dan sejumlah staf back-end yang bekerja 12 jam atau lebih dalam sehari sejak kekacauan dimulai. Tunjangan sebanyak HK$ 85 juta lainnya dibayarkan untuk tunjangan terkait pekerjaan.

Sementara para pengunjuk rasa anti-pemerintah Hongkong pada hari Kamis mengakhiri aksi demonstrasi Natal selama tiga hari beruntun dan konfrontasi dengan polisi yang menyebabkan lebih dari 310 orang ditangkap secara total. Kendati demikian, mereka berjanji untuk kembali turun ke jalan-jalan demi melakukan aksi massa pada 1 Januari 2020.

 

Pemerintah mengeluarkan tiga pernyataan keras dalam 24 jam terakhir untuk menolak tuduhan media Barat dan kelompok aktivis terkait kebrutalan polisi dan penindasan negara, setelah gas air mata dan semprotan merica digunakan pada Malam Natal, Hari Natal, dan Boxing Day untuk membubarkan para pengunjuk rasa. Pada saat yang bersamaan, pengunjuk rasa melakukan aksi kekerasan dan vandalisme selama demonstrasi belanja yang kacau di mal-mal di seluruh kota.

Polisi anti huru-hara turun ke jalan pada hari Kamis, di mana petugas menyemprotkan pewarna biru dan menundukkan beberapa pengunjuk rasa di Tai Po ketika sekelompok pengunjuk rasa lainnya juga berkumpul di Causeway Bay, Mong Kok, Tsim Sha Tsui dan Tuen Mun.

Polisi mengatakan mereka telah menangkap lebih dari 310 pelaku unjuk rasa dalam rentang waktu Selasa hingga Kamis, 165 orang di antaranya ditangkap pada Malam Natal, termasuk 105 di dekat markas besar pasukan di Wan Chai, karena dicurigai ikut serta dalam majelis ilegal.

Seorang pengunjuk rasa berusia 19 tahun terluka setelah melompati pagar dari lantai satu ke lantai dasar pusat perbelanjaan Yoho di Yuen Long untuk menghindari penangkapan pada hari itu. Sementara pihak kepolisian Hongkong juga mengunggah postingan di Facebook pada Kamis pagi, memperingatkan bahwa senjata api telah dipasok ke dalam komunitas.

”Jika anggota masyarakat menemukan benda-benda seperti pistol atau senapan atau alat-alat lain yang mencurigakan, silakan segera pergi dan membuat laporan kepada polisi ketika situasinya memungkinkan,” tulis postingan itu. Pemerintah Hongkong juga membalas tuduhan bahwa hak-hak pengunjuk rasa dilanggar dengan penggunaan kekuatan yang berlebihan. (fin/ful)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here